Perdagangan online dimulai di sini
IND /ind/interesting-articles/investing-during-crises-tu-research/
AR Arabic
AZ Azerbaijan
CS Czech
DA Danish
DE Deutsche
EL Greek
EN English
ES Spanish
ET Estonian
FI Finnish
FR French
HE Hebrew
HI Hindi
HU Hungarian
HY Armenian
IND Indonesian
IT Italian
JA Japan
KK Kazakh
KM Khmer
KO Korean
MS Melayu
NB Norwegian
NL Dutch
PL Polish
PT Portuguese
RO Romanian
... Русский
SQ Albanian
SV Swedish
TG Tajik
TH Thai
TL Tagalog
TR Turkish
UA Ukrainian
UR Urdu
UZ Uzbek
VI Vietnamese
ZH Chinese

Bagaimana Investor Bereaksi terhadap Krisis Geopolitik? | Riset TU

Catatan Editorial: Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, posting ini mungkin berisi referensi ke produk dari mitra kami. Berikut penjelasan tentang Bagaimana Kami Menghasilkan Uang. Tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan saran investasi sesuai dengan Penafian kami.

Survei Riset TU terhadap 1.350 investor ritel menemukan bahwa krisis geopolitik membuat investor lebih berhati-hati, tetapi jarang mendorong mereka keluar dari pasar sepenuhnya. Sebanyak 36% mengatakan mereka akan menjadi lebih berhati-hati setelah eskalasi geopolitik besar, sementara 29% akan aktif mencari peluang investasi. Jika saham turun tajam setelah berita geopolitik, 33% akan membeli lebih banyak, dibandingkan dengan 19% yang akan mengurangi eksposur mereka. Emas tetap menjadi aset krisis paling populer, dipilih oleh 28%. Namun, hanya 4% yang mengatakan bahwa pecahnya konflik itu sendiri akan menjadi alasan utama untuk mengubah investasi mereka.

Krisis geopolitik dapat dengan cepat memengaruhi saham, harga energi, dan aset safe haven, tetapi investor ritel tidak selalu merespons dengan mengurangi risiko. Sebagian menjual, sebagian lainnya menunggu, sementara beberapa melihat penurunan pasar sebagai peluang beli. Pertanyaan ini sangat relevan pada 2026, karena guncangan geopolitik terbaru telah menghasilkan reaksi pasar yang tak terduga.

Topik ini aktif dibahas di Reddit. Sebuah postingan investasi pada April 2026, “Saya akan memanfaatkan penurunan berikutnya”, menerima lebih dari 1.000 upvote setelah penulisnya menjelaskan bahwa ia melewatkan beberapa aksi jual pasar besar, termasuk yang dipicu oleh perang Iran. Diskusi investasi lainnya menerima lebih dari 470 upvote ketika para pengguna memperdebatkan apakah investor yang menunggu di pinggir pasar dapat membantu membalikkan penurunan pasar besar berikutnya.

Aset safe haven juga dipertanyakan. Sebuah diskusi tentang emas menerima lebih dari 660 upvote ketika para pengguna memperdebatkan mengapa harga emas turun selama konflik aktif. Meskipun diskusi di Reddit bukan bukti yang representatif, diskusi tersebut menyoroti ketidakpastian yang dihadapi investor terkait apakah harus menjual, menahan, atau membeli selama krisis geopolitik.

Riset ini bertujuan menjawab pertanyaan-pertanyaan utama:

Temuan

Berdasarkan riset TU, muncul beberapa pola:

  • Krisis geopolitik membuat investor berhati-hati, tetapi jarang memaksa mereka keluar dari pasar. Sebanyak 36% akan menjadi lebih berhati-hati sambil mempertahankan investasi mereka, dibandingkan hanya 10% yang respons utamanya adalah menjual investasi dan meningkatkan porsi kas.

  • Hampir tiga dari sepuluh investor aktif mencari peluang. Sebanyak 29% mengatakan eskalasi geopolitik besar akan mendorong mereka mencari peluang investasi yang tercipta dari pergerakan pasar.

  • Membeli saat penurunan akibat geopolitik lebih umum daripada menjual. Jika saham turun tajam setelah berita geopolitik, 33% akan membeli lebih banyak, sedangkan 19% akan mengurangi atau keluar dari eksposur saham mereka.

  • Emas tetap menjadi aset krisis paling populer, tetapi tidak ada peralihan universal ke aset aman. Sebanyak 28% akan meningkatkan eksposur emas, diikuti uang tunai sebesar 20% dan investasi pasar saham secara luas sebesar 17%.

  • Konflik itu sendiri jarang menjadi pemicu investasi utama. Hanya 4% yang mengidentifikasi pecahnya konflik itu sendiri sebagai perkembangan yang paling mungkin membuat mereka mengubah portofolio. Harga energi, eskalasi lebih lanjut, dan penurunan pasar jauh lebih berpengaruh.

  • Banyak investor yakin pasar pada awalnya bereaksi berlebihan. Sebanyak 38% mengatakan pasar keuangan umumnya bereaksi berlebihan terhadap krisis geopolitik sebelum pulih.

  • Pembeli saat penurunan memiliki batasan. Sebanyak 27% mengatakan meluasnya konflik ke negara tambahan akan menjadi perkembangan utama yang menghentikan mereka membeli saat terjadi penurunan yang didorong faktor geopolitik.

  • Risiko geopolitik dapat berdampak jangka panjang pada portofolio. Sebanyak 54% mengatakan ketidakstabilan geopolitik telah menyebabkan mereka melakukan setidaknya satu penyesuaian strategis jangka panjang, paling umum melalui diversifikasi yang lebih besar.

Temuan utama Riset TU

Peringatan Resiko: Semua investasi memiliki resiko, termasuk potensi kerugian modal. Fluktuasi ekonomi dan perubahan pasar mempengaruhi laba, dan 40-50% investor gagal memenuhi target. Diversifikasi membantu tetapi tidak menghilangkan resiko. Berinvestasi dengan bijak dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan profesional.

Validasi institusional

Penelitian institusional menunjukkan bahwa krisis geopolitik tidak secara otomatis membuat investor meninggalkan aset berisiko. Dampaknya bergantung pada tingkat keparahan peristiwa, konsekuensi ekonominya, dan kondisi keuangan yang lebih luas.

Dana Moneter Internasional mengkaji isu ini dalam Geopolitical Risks: Implications for Asset Prices and Financial Stability, Bab 2 dari Global Financial Stability Report edisi April 2025. IMF memperkirakan bahwa guncangan risiko geopolitik spesifik negara yang tipikal menurunkan harga saham agregat sekitar 0,3%, sementara peristiwa besar memiliki dampak yang jauh lebih besar. Imbal hasil tingkat perusahaan turun sekitar 1 poin persentase pada bulan terjadinya peristiwa geopolitik domestik besar, dan konflik militer internasional dikaitkan dengan penurunan sekitar 5 poin persentase di antara perusahaan pasar berkembang. Guncangan geopolitik dapat menyebar melalui ketidakpastian, gangguan perdagangan, rantai pasokan, aliran modal, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Emas menggambarkan mengapa respons investor tidak selalu sederhana. Dalam What does the record price of gold tell us about risk perceptions in financial markets?, Bank Sentral Eropa menemukan bahwa emas secara umum berkinerja baik selama periode risiko geopolitik yang tinggi dan tekanan pasar yang parah. Ketiadaan risiko gagal bayar pihak lawan juga membantu menjelaskan peran tradisionalnya sebagai aset safe haven.

Namun, emas tidak selalu bereaksi dengan cara yang sama terhadap setiap krisis. Studi Bank for International Settlements tahun 2026 Chasing El Dorado: gold under shifting geopolitical and financial conditions menemukan bahwa risiko geopolitik cenderung meningkatkan imbal hasil emas, tetapi dampaknya lebih kuat ketika kondisi keuangan global relatif longgar. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan investor untuk menyeimbangkan kembali portofolio mereka memengaruhi seberapa besar perpindahan mereka ke emas selama tekanan geopolitik.

Penelitian teoretis

Dampak krisis geopolitik terhadap perilaku investor dapat dipahami melalui persepsi risiko dan ketidakpastian. Investor tidak perlu menunggu konflik menyebabkan kerusakan ekonomi yang terukur sebelum mengubah portofolio mereka. Ekspektasi eskalasi, gangguan perdagangan, kenaikan harga energi, atau inflasi dapat mengubah risiko yang dipersepsikan dan memengaruhi keputusan investasi sebelumnya.

Caldara dan Iacoviello mengkaji mekanisme ini dalam Measuring Geopolitical Risk. Para peneliti mengembangkan Geopolitical Risk Index berbasis berita yang melacak ancaman geopolitik dan peristiwa aktual. Mereka menemukan bahwa risiko geopolitik yang lebih tinggi berkaitan dengan investasi dan penyerapan tenaga kerja yang lebih rendah, probabilitas bencana yang dipersepsikan lebih tinggi, serta risiko ekonomi sisi bawah yang lebih besar.

Hal ini membantu menjelaskan perilaku pengurangan risiko. Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, sebagian investor mungkin beralih ke uang tunai, emas, atau aset defensif lainnya bahkan sebelum konsekuensi ekonomi dari krisis menjadi jelas.

Namun, ketidakpastian juga dapat menciptakan respons yang berlawanan. Jika investor yakin penurunan pasar awal lebih besar daripada dampak ekonomi yang mungkin terjadi, harga yang turun dapat ditafsirkan sebagai peluang, bukan alasan untuk keluar. Hal ini menciptakan ketegangan antara penghindaran risiko dan pembelian kontrarian: guncangan geopolitik yang sama dapat mendorong satu investor untuk mengurangi eksposur, sementara investor lain membeli saat penurunan.

Oleh karena itu, faktor kuncinya mungkin bukan peristiwa geopolitik itu sendiri, melainkan bagaimana investor menafsirkan konsekuensi keuangan yang diharapkan. Hal ini memberikan dasar teoretis untuk menelaah apakah investor ritel bereaksi langsung terhadap konflik atau menunggu bukti dampaknya terhadap pasar, harga energi, inflasi, dan perekonomian secara lebih luas.

Data survei

Untuk memahami bagaimana krisis geopolitik memengaruhi keputusan investasi ritel, kami melakukan studi kuantitatif eksklusif yang menelaah perilaku portofolio, penurunan pasar, alokasi aset, persepsi terhadap reaksi pasar berlebihan, dan strategi jangka panjang.

Metodologi

Studi ini dilakukan menggunakan survei online terstruktur berdasarkan metodologi CAWI.

  • Komposisi sampel: 1.350 investor ritel.

  • Cakupan: Amerika Utara, Eropa, Asia, Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah.

  • Usia: 18–60 tahun.

  • Kriteria partisipasi: responden yang saat ini berinvestasi atau memperdagangkan aset keuangan.

  • Tingkat kepercayaan statistik: 95%.

  • Perkiraan deviasi sampel: ±2,7%.

Tim riset

Studi ini dilakukan oleh para ahli kami:

Bagaimana investor bereaksi terhadap eskalasi geopolitik besar?

Responden ditanya perilaku investasi yang paling menggambarkan mereka jika konflik militer internasional besar tiba-tiba meningkat dan volatilitas pasar keuangan bertambah.

Respons investor terhadap eskalasi geopolitik besar
ResponsPersentase
Menjadi lebih berhati-hati tetapi mempertahankan investasi saat ini36%
Aktif mencari peluang investasi29%
Tidak melakukan perubahan portofolio yang berarti17%
Menjual investasi dan meningkatkan kas10%
Tidak yakin8%

Wawasan: Kehati-hatian adalah respons yang paling umum, tetapi aksi keluar dari pasar secara luas tidak demikian. Hanya 10% yang terutama akan menjual investasi dan meningkatkan kas, sementara hampir tiga kali lebih banyak akan aktif mencari peluang.

Apa yang dilakukan investor ketika saham turun setelah berita geopolitik?

Responden diberikan skenario ketika indeks pasar saham yang luas turun tajam setelah eskalasi geopolitik yang tidak terduga.

Respons terhadap aksi jual akibat geopolitik:

  • Membeli lebih banyak saham – 33%;

  • Mempertahankan posisi saat ini – 31%;

  • Mengurangi sebagian eksposur saham – 13%;

  • Menjual sebagian besar atau seluruh eksposur saham – 6%;

  • Menunggu / tidak yakin – 17%.

Respons terhadap aksi jual akibat geopolitik

Wawasan:

Membeli lebih umum dilakukan daripada menjual. Sebanyak 33% akan membeli lebih banyak saham, dibandingkan dengan 19% yang akan mengurangi atau keluar dari posisi mereka. Oleh karena itu, aksi jual akibat geopolitik merupakan peluang bagi porsi investor yang lebih besar daripada sinyal untuk meninggalkan pasar.

Aset mana yang akan ditambah investor selama krisis geopolitik?

Responden ditanya aset mana yang paling mungkin mereka tambah jika risiko geopolitik meningkat secara signifikan.

Aset pilihan selama ketidakpastian geopolitik
AsetPorsi
Emas28%
Kas20%
Investasi pasar saham yang luas17%
Obligasi pemerintah10%
Investasi minyak atau energi9%
Bitcoin / mata uang kripto7%
Mata uang asing4%
Lainnya / tidak ada / tidak yakin5%

Wawasan: Emas tetap menjadi pilihan individu paling populer, tetapi kurang dari tiga dari sepuluh investor memilihnya. Oleh karena itu, hasilnya menunjukkan diversifikasi respons terhadap krisis, alih-alih pelarian universal menuju satu aset safe haven. Hanya 7% yang memilih Bitcoin atau mata uang kripto lainnya, yang menunjukkan bahwa kripto masih jauh kurang mapan dibandingkan emas sebagai safe haven geopolitik yang dipersepsikan.

Apa yang sebenarnya membuat investor mengubah portofolio mereka selama krisis geopolitik?

Alih-alih menanyakan apakah perang itu sendiri mengkhawatirkan investor, responden ditanya perkembangan mana yang paling mungkin menyebabkan perubahan investasi secara nyata.

Pemicu utama untuk mengubah investasi:

  • Kenaikan tajam harga minyak dan energi – 24%;

  • Konflik menyebar ke negara-negara tambahan – 22%;

  • Penurunan besar pasar saham – 19%;

  • Ekspektasi inflasi/suku bunga yang lebih tinggi – 14%;

  • Gangguan terhadap perdagangan atau pelayaran global – 9%;

  • Sanksi pemerintah – 6%;

  • Pecahnya konflik itu sendiri – 4%;

  • Lainnya / tidak yakin – 2%.

Pemicu utama perubahan investasi

Wawasan:

Hanya 4% yang mengidentifikasi pecahnya konflik itu sendiri sebagai pemicu utama untuk mengubah investasi mereka. Investor ritel tampaknya jauh lebih responsif terhadap konsekuensi ekonomi dan keuangan dari krisis geopolitik. Harga energi merupakan pemicu individu terbesar sebesar 24%, diikuti oleh eskalasi internasional lebih lanjut sebesar 22%.

Apakah investor percaya bahwa pasar bereaksi berlebihan terhadap krisis geopolitik?

Responden ditanya bagaimana pasar keuangan biasanya merespons ketika krisis geopolitik besar dimulai.

Bagaimana investor memandang reaksi pasar terhadap krisis geopolitik
ResponsPangsa
Pasar awalnya bereaksi berlebihan lalu pulih38%
Pasar umumnya memperhitungkan risiko secara tepat23%
Pasar meremehkan risiko geopolitik19%
Sepenuhnya bergantung pada krisisnya16%
Tidak yakin4%

Wawasan: Pandangan yang paling umum adalah bahwa pasar pada awalnya bereaksi berlebihan. Sebanyak 38% percaya bahwa aksi jual awal cenderung melebih-lebihkan dampak finansial pada akhirnya, dibandingkan dengan 19% yang percaya bahwa pasar biasanya meremehkan risiko geopolitik. Persepsi ini membantu menjelaskan mengapa 33% akan membeli saham setelah penurunan yang dipicu oleh faktor geopolitik.

Apa yang akan membuat investor berhenti membeli saat penurunan akibat geopolitik?

Responden yang terbuka untuk membeli saat pasar turun ditanya perkembangan apa yang paling mungkin membuat mereka mempertimbangkan kembali keputusan tersebut.

Alasan untuk menghindari pembelian saat penurunan akibat geopolitik:

  • Konflik meluas ke negara-negara lain – 27%;

  • Bukti jelas adanya resesi global – 23%;

  • Lonjakan berkelanjutan pada harga minyak dan energi – 17%;

  • Pasar saham turun lebih dari 20% – 13%;

  • Kenaikan suku bunga yang signifikan – 9%;

  • Kegagalan lembaga keuangan besar – 7%;

  • Tidak ada / akan terus berinvestasi – 4%.

Alasan menghindari pembelian saat penurunan akibat geopolitik

Wawasan:

Besarnya penurunan pasar itu sendiri bukanlah batas utama bagi sebagian besar pembeli saat penurunan. Hanya 13% yang mengidentifikasi penurunan melebihi 20% sebagai alasan utama mereka akan berhenti membeli, sementara 27% menunjuk pada eskalasi internasional dan 23% pada bukti adanya resesi global.

Apakah ketidakstabilan geopolitik telah mengubah strategi jangka panjang investor?

Terakhir, responden ditanya apakah ketidakstabilan geopolitik telah menyebabkan mereka melakukan perubahan jangka panjang pada pendekatan investasi mereka.

Perubahan portofolio jangka panjang yang terkait dengan ketidakstabilan geopolitik
TanggapanProporsi
Peningkatan diversifikasi24%
Peningkatan alokasi ke aset defensif17%
Mengurangi eksposur terhadap negara atau sektor tertentu13%
Tidak ada perubahan pada strategi jangka panjang39%
Tidak yakin7%

Wawasan: 39% mengatakan ketidakstabilan geopolitik tidak mengubah strategi jangka panjang mereka. Namun, 54% melaporkan melakukan salah satu dari tiga penyesuaian strategis yang tercantum, paling sering dengan meningkatkan diversifikasi.

Implikasi praktis bagi investor

Krisis geopolitik dapat menggerakkan pasar sebelum konsekuensi ekonominya jelas. Alih-alih mencoba memprediksi hasil politik atau militer, investor dapat berfokus pada bagaimana peristiwa memengaruhi harga, inflasi, suku bunga, dan risiko pasar.

  • Identifikasi saluran transmisinya. Pertimbangkan apakah krisis memengaruhi minyak, perdagangan, inflasi, imbal hasil, atau laba perusahaan, alih-alih menganggap bahwa perang secara otomatis menguntungkan atau merugikan aset tertentu.

  • Hindari trading hanya berdasarkan berita utama. Periksa apakah pasar terkait seperti minyak, obligasi, mata uang, emas, dan volatilitas mengonfirmasi reaksi awal.

  • Periksa apa yang sudah diperhitungkan dalam harga. Pasar dapat bereaksi terhadap ekspektasi sebelum suatu peristiwa menjadi berita utama, sehingga masuk terlambat menjadi sangat berisiko.

  • Kurangi ukuran posisi saat ketidakpastian tinggi. Peristiwa geopolitik dapat menyebabkan gap mendadak yang mungkin melampaui level stop-loss.

  • Tentukan titik invalidasi Anda. Dasarkan exit pada kondisi pasar, bukan sekadar menunggu situasi geopolitik berakhir.

  • Berhati-hatilah dengan leverage. Eskalasi yang tak terduga dapat menimbulkan pergerakan besar dalam semalam dan likuidasi paksa.

  • Jangan menganggap aset safe haven akan langsung naik. Emas, obligasi, dan mata uang dapat bereaksi berbeda bergantung pada inflasi, suku bunga, dan likuiditas.

  • Evaluasi kembali seiring perkembangan krisis. Pergerakan awal mungkin mencerminkan ketakutan, sementara harga selanjutnya dapat lebih bergantung pada biaya energi, inflasi, laba, dan pertumbuhan ekonomi.

Karena 33% investor yang disurvei mengatakan mereka akan membeli lebih banyak saham setelah penurunan pasar yang dipicu faktor geopolitik, akses ke pasar saham juga dapat memengaruhi seberapa mudah investor memanfaatkan peluang tersebut. Tabel di bawah membandingkan broker saham berdasarkan biaya trading, persyaratan akun, serta akses ke saham dan kelas aset lainnya.

Broker saham terbaik
Revolut SpeedTrader Interactive Brokers Moomoo TradeZero International eOption

Min. akun

Tidak 2,500​ Tidak Tidak 500 Tidak

Biaya min. saham

£1.00/€1.00 $0 $1,00 Tidak $0.99 $0

Biaya dasar

0.12%-0.25% $0.0025/$0,0009 0-0,0035% Tidak $0,005 $0

Biaya dasar

Tidak Tidak ditentukan $0,25 Bervariasi Tidak ditentukan Tidak ditentukan

Biaya min. futures

Tidak Tidak ditentukan $0,25 Bervariasi Tidak ditentukan Tidak ditentukan

Logam

Ya Tidak Ya Ya Tidak Tidak

Forex

Ya Tidak Ya Ya Tidak Tidak

Kripto

Ya Tidak Ya Ya Tidak Tidak

Saham

Ya Ya Ya Ya Ya Ya

Buka akun

Tinjauan studi Ke broker
Modal Anda berisiko.
Tinjauan studi Ke broker
Modal Anda berisiko.
Ke broker
Modal Anda berisiko.
Tinjauan studi

Sumber data dan metodologi

Edisi sebelumnya dalam seri ini

Kimpulan

Krisis geopolitik memang menimbulkan kehati-hatian di kalangan investor, namun jarang menjadi alasan utama untuk keluar dari pasar secara total. Data survei menunjukkan bahwa justru lebih banyak investor yang memanfaatkan penurunan harga saham sebagai peluang membeli daripada mereka yang panik dan menjual aset. Emas memang tetap menjadi aset yang paling populer saat gejolak, tetapi tidak semua orang serta-merta beralih ke safe haven, karena dampak ekonomi dari krisis lebih memengaruhi keputusan daripada konfliknya sendiri. Pada akhirnya, kecerdasan investor terletak pada kemampuannya membaca peluang di tengah ketidakpastian, di mana ketenangan mengambil keputusan sering kali lebih menguntungkan dibanding sekadar reaksi emosional terhadap berita.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Bagaimana pengaruh krisis geopolitik terhadap aset seperti energi dan mata uang asing?

Krisis geopolitik dapat mempengaruhi harga energi secara signifikan dan juga berdampak pada fluktuasi nilai mata uang asing. Data menunjukkan kenaikan tajam harga minyak dan energi menjadi salah satu pemicu utama investor mengubah portofolio mereka. Namun, hanya sebagian kecil investor yang menambah eksposur ke mata uang asing selama krisis.

Apa peran diversifikasi portofolio saat terjadi ketidakpastian geopolitik?

Diversifikasi portofolio menjadi strategi paling umum yang dipilih investor dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik. Sekitar 24% investor meningkatkan diversifikasi sebagai respons terhadap gejolak, yang membantu mengurangi risiko dari dampak spesifik suatu aset atau wilayah.

Mengapa hanya sedikit investor yang merespon konflik geopolitik dengan langsung keluar dari pasar?

Sebagian besar investor cenderung mempertahankan posisi mereka karena menilai dampak ekonomi lebih penting daripada peristiwa konflik itu sendiri. Hanya 4% yang menyebut pecahnya konflik sebagai alasan utama untuk mengubah portofolio, sementara risiko ekonomi seperti kenaikan harga energi atau penyebaran konflik lebih memengaruhi keputusan mereka.

Bagaimana persepsi investor terkait potensi reaksi berlebihan pasar terhadap berita geopolitik?

Sebanyak 38% investor percaya bahwa pasar keuangan seringkali bereaksi berlebihan pada awal krisis geopolitik sebelum akhirnya pulih. Persepsi ini menyebabkan sebagian investor melihat penurunan pasar akibat krisis sebagai peluang daripada risiko untuk segera keluar dari pasar.

Pilihan Utama dan Rekomendasi Editor

Tim yang Mengerjakan Artikel Ini

Anastasiia Chabaniuk
Anastasiia Chabaniuk
Editor Konten Edukasi

Anastasiia memiliki 17 tahun pengalaman dalam bidang keuangan dan pemasaran konten. Ia percaya bahwa dukungan informasi dan pendapat ahli sangat penting untuk kesuksesan investor dan trader pemula.