Rupiah melemah ke Rp18.080 per dolar U.S. di tengah risiko pasokan energi dan data tenaga kerja U.S.
Tekanan eksternal kembali membayangi pasar valuta asing domestik pada penutupan perdagangan Jumat, ketika rupiah berakhir lebih lemah terhadap dolar U.S. Pergerakan ini terjadi saat pelaku pasar mencermati risiko gangguan pasokan energi global, perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur, serta data ekonomi U.S. yang tetap kuat.
Sorotan
- Rupiah melemah 20 poin atau 0,11 persen ke Rp18.080 per dolar U.S. pada penutupan Jumat, 23 Oktober 2026, tertekan sentimen eksternal.
- Risiko pasokan energi naik setelah serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi serta penutupan pipa minyak Libya turut menambah tekanan pada pasar keuangan.
- Dolar U.S. menguat didukung klaim pengangguran awal 194 ribu, terendah hampir 57 tahun, dan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, membatasi penguatan rupiah.
Sentimen global menekan pergerakan rupiah
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar U.S. ditutup melemah 20 poin, atau sekitar 0,11 persen, ke level Rp18.080 per dolar U.S. pada akhir perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026.Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu sentimen utama berasal dari faktor eksternal, terutama kekhawatiran atas potensi gangguan lanjutan pada pasokan energi setelah serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi. Saudi Aramco pada Kamis juga memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, kawasan Teluk dekat Bahrain, di tengah meningkatnya pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman.
Dalam risetnya, Ibrahim menilai bentrokan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional terus berkecamuk sejak kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran bergerak menuju Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis di mulut Laut Merah. Di Libya, penutupan katup pada pipa minyak yang menghubungkan ladang Hamada dan Tahara ke pelabuhan Zawiya juga menekan produksi di kedua ladang tersebut, menurut kepala National Oil Corporation.
Dolar U.S. ditopang data ekonomi dan prospek kebijakan
Selain faktor energi, pasar juga mencermati perkembangan negosiasi geopolitik yang melibatkan Rusia, Ukraina, dan U.S. Rusia menyatakan pada Rabu siap melanjutkan kembali perundingan dengan Ukraina yang dimediasi U.S. bulan depan, setelah pertemuan Presiden Vladimir Putin dengan utusan U.S. Steve Witkoff di St. Petersburg. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan ia berharap perundingan itu, yang menjadi yang pertama sejak Februari, dapat berlangsung pada awal November.Dari sisi data makroekonomi, klaim pengangguran awal U.S. untuk pekan yang berakhir 17 Oktober tercatat 194 ribu, lebih baik dari perkiraan pasar dan di bawah angka sebelumnya 200 ribu. Angka tersebut juga menjadi level terendah dalam hampir 57 tahun terakhir, memperkuat pandangan bahwa kondisi pasar tenaga kerja U.S. masih solid.
Pekan lalu, inflasi U.S. juga tercatat lebih tinggi dari ekspektasi. Meski demikian, pelaku pasar hingga kini telah mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Oktober, namun kombinasi data ekonomi yang kuat dan ketidakpastian geopolitik tetap menjaga dukungan bagi dolar U.S. dan membatasi ruang penguatan mata uang emerging markets seperti rupiah.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah di tengah eskalasi risiko di Selat Hormuz, kami mencatat kurs tertekan oleh kekhawatiran gangguan pasokan energi dan volatilitas pengiriman akibat serangan Houthi dan Iran. Ulasan tersebut juga menyoroti inflasi AS September yang lebih tinggi dari perkiraan, yang memperkuat sikap defensif pasar dan membatasi ruang penguatan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Berita USD/IDR Terbaru
- Forex
- Crypto