Industri tuna Indonesia perluas peluang ekspor ke Jepang hingga akhir 2026

Industri tuna Indonesia perluas peluang ekspor ke Jepang hingga akhir 2026
Peluang ekspor tuna meningkat

Industri tuna Indonesia masih memiliki ruang untuk memperluas pasar ekspor hingga akhir 2026 seiring berlakunya tarif bea masuk 0% untuk produk olahan tuna dan cakalang ke Jepang. Fasilitas ini menambah peluang peningkatan daya saing harga, perluasan pasar pengolahan, dan nilai tambah bagi nelayan di tengah pertumbuhan ekspor yang masih terbatas.

Sorotan

  • Fasilitas tarif preferensi 0% untuk produk olahan tuna dan cakalang Indonesia ke Jepang mulai berlaku 1 Agustus 2026 melalui IJEPA, dari sebelumnya 9,6%.
  • Nilai ekspor tuna-cakalang Indonesia mencapai USD1,04 miliar pada 2025, naik 0,1% year-on-year, sementara ekspor kelompok TCT hingga September 2026 mencapai sekitar USD490,4 juta.
  • Ekspor produk olahan tuna-cakalang ke Jepang mencapai USD76,41 juta pada 2025, tumbuh 21% dibandingkan 2024, didorong potensi perluasan pasar melalui skema IJEPA hingga 2026.

Peluang tarif preferensi dan kinerja ekspor

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, fasilitas tarif preferensi 0% untuk produk olahan tuna dan cakalang ke Jepang mulai berlaku pada 1 Agustus 2026 melalui skema Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement, IJEPA. Sebelumnya, empat kode harmonized system, HS, untuk produk tersebut masih dikenai tarif bea masuk umum sebesar 9,6%, sehingga perubahan ini membuka peluang bagi produk Indonesia untuk meningkatkan daya saing harga di pasar Jepang.

Kementerian Kelautan dan Perikanan, KKP, mencatat nilai ekspor tuna-cakalang Indonesia mencapai USD1,04 miliar sepanjang 2025, naik tipis 0,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, data sementara ekspor kelompok tuna, tongkol, dan cakalang, TCT, hingga September 2026 mencapai sekitar USD490,4 juta.

Perbedaan cakupan komoditas antara data tuna-cakalang dan kelompok TCT perlu diperhatikan dalam membaca perkembangan ekspor. Meski begitu, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa penguatan daya saing dan perluasan pasar masih menjadi agenda utama bagi industri tuna nasional.

Dampak bagi pasar Jepang dan industri perikanan

KKP mencatat nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke Jepang mencapai USD613,65 juta pada 2025. Dari total tersebut, tuna-cakalang menyumbang 26,2%, menandakan Jepang tetap menjadi pasar penting bagi komoditas perikanan bernilai tambah dari Indonesia.

Khusus produk olahan tuna-cakalang yang masuk cakupan fasilitas IJEPA, nilai ekspornya mencapai USD76,41 juta pada 2025, meningkat 21% dibandingkan 2024. Kenaikan itu menunjukkan segmen produk olahan memiliki ruang ekspansi lebih lanjut hingga akhir 2026, terutama jika pelaku usaha mampu memanfaatkan insentif tarif untuk memperluas pangsa pasar dan memperkuat posisi produk nasional di tengah persaingan regional.

Trade Expo Indonesia ke-41 menghasilkan komitmen dagang besar pada hari pertamanya, dengan penandatanganan 168 nota kesepahaman senilai USD13,2 miliar antara eksportir nasional dan pembeli mancanegara. Dalam laporan kami sebelumnya, kami mencatat capaian itu didorong oleh business matching serta dukungan jaringan promosi perdagangan di luar negeri, yang bertujuan memperluas akses pasar dan membuka tindak lanjut transaksi ekspor.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.