DBS menilai dolar U.S. dan euro berisiko terkoreksi di tengah tekanan valuasi
Valuasi mata uang utama kembali menjadi perhatian ketika DBS Group Research melihat dolar U.S. masih menjadi mata uang paling overvalued, meski selisihnya terhadap nilai wajar menyempit ke titik terendah sejak Januari 2023. Lembaga itu juga menilai euro berada pada valuasi berlebih tertinggi sejak 2008, sehingga membuka ruang moderasi di tengah risiko perdagangan dan fiskal di Eropa.
Sorotan
- DBS Group Research menilai dolar U.S. berisiko terkoreksi karena tekanan valuasi, sentimen risiko terkait investasi AI, dan ekspektasi lower-for-longer suku bunga The Fed.
- DBS menilai euro mengalami overvaluasi tertinggi sejak 2008 menurut DEER, sehingga penguatan euro menjadi tantangan bagi daya saing Eropa di tengah tekanan kompetisi perdagangan dari China.
- DBS merekomendasikan strategi 2Y/5Y/10Y UST fly dengan entry -2 bps, target -15 bps, dan stop loss 2 bps, serta menyoroti risiko pada obligasi Prancis akibat ketidakpastian politik dan isu fiskal.
Tekanan valuasi dan strategi pasar DBS
Menurut Kontan Indonesia, DBS Group Research dalam laporan terbarunya menyebut tekanan terhadap dolar U.S. berpotensi berlanjut seiring meningkatnya kekhawatiran atas investasi artificial intelligence, serta meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Chang Wei Liang, FX and Credit Strategist DBS Group Research, mengatakan koreksi saham terkait AI dipicu kekhawatiran atas besarnya investasi dan penggunaan utang oleh perusahaan penyedia infrastruktur pusat data.Menurut DBS, kondisi itu menekan sentimen risiko di pasar keuangan dan mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah U.S. bertenor panjang. Suku bunga U.S. bertenor pendek juga turun setelah pejabat The Fed tidak memberi sinyal kuat mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada Oktober.
DBS menilai kombinasi perkembangan tersebut berpotensi menekan dolar U.S. yang masih dipandang berada di atas nilai wajarnya. Di saat yang sama, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi U.S. justru dapat menjadi katalis positif bagi obligasi pemerintah U.S. atau U.S. Treasury.
Eugene Leow, Senior Rates Strategist DBS Group Research, mengatakan perubahan sentimen terhadap aset terkait AI perlu dicermati meskipun pasar saham U.S. sempat menguat dalam perdagangan terakhir. Jika optimisme terhadap AI mereda, ekspektasi pertumbuhan ekonomi juga berpotensi turun, yang pada akhirnya dapat mendorong penurunan imbal hasil obligasi U.S., baik secara riil maupun nominal.
Dari perspektif lintas aset, DBS menilai kenaikan imbal hasil U.S. Treasury sebelumnya telah memberi ruang bagi instrumen itu untuk kembali berfungsi sebagai aset lindung nilai saat investor mengambil posisi risk-off. Dalam strategi perdagangannya, DBS merekomendasikan strategi 2Y/5Y/10Y UST fly, dengan titik masuk di -2 basis poin, target keuntungan -15 basis poin, dan batas kerugian 2 basis poin.
Dampak untuk Eropa dan prospek pasar obligasi
Di sisi lain, DBS juga menyebut euro berada pada valuasi berlebih berdasarkan analisis DBS Equilibrium Exchange Rate, atau DEER. Menurut perkiraan bank tersebut, valuasi euro kini berada pada level tertinggi sejak 2008.Chang Wei Liang menilai penguatan euro menjadi tantangan bagi daya saing Eropa, terutama ketika kawasan itu harus bersaing dengan renminbi China yang masih dinilai berada di bawah nilai wajarnya. Dalam merespons tekanan persaingan perdagangan, Uni Eropa disebut telah menegosiasikan pengaturan dengan China untuk membatasi ekspor kendaraan hibrida China ke pasar Eropa, serta mempertimbangkan kuota ekspor yang lebih luas untuk produk China lainnya.
Selain isu perdagangan, ketidakpastian politik di Prancis menjelang pemilihan presiden 2027 juga berpotensi memunculkan kembali kekhawatiran atas kondisi fiskal negara itu. DBS menilai risiko tersebut dapat memicu tekanan baru pada obligasi pemerintah Prancis.
Dengan mempertimbangkan tantangan perdagangan dan fiskal itu, DBS masih melihat ada ruang bagi euro untuk mengalami moderasi atau pelemahan dari tingkat valuasinya saat ini. Bagi investor, pandangan ini mempertegas potensi perubahan aliran dana di pasar valuta asing dan obligasi global jika kekhawatiran pertumbuhan di U.S. dan Eropa semakin menguat.
Risiko pembiayaan dan keterlambatan proyek pusat data AI di AS menjadi sorotan dalam artikel kami sebelumnya, di tengah meningkatnya biaya modal, penundaan pembangunan, dan keterbatasan pasokan daya. Kami mencatat bagaimana kombinasi pendanaan yang makin mahal, kendala konstruksi, serta tekanan dari komunitas dan regulator mulai menguji kepercayaan investor terhadap ekspansi infrastruktur AI. Latar ini membantu menjelaskan mengapa koreksi aset terkait AI dapat cepat merembet ke sentimen risk-off dan mengubah pandangan pasar atas dolar AS serta U.S. Treasury.
Berita Forex Terbaru
- Forex
- Crypto