Ekspor Indonesia bertambah hingga U.S.$221,23 miliar pada Januari-September 2026
Permintaan global yang menguat pada sembilan bulan pertama 2026 mendorong kinerja perdagangan luar negeri Indonesia tetap tumbuh positif. Nilai ekspor nasional mencapai U.S.$221,23 miliar hingga September 2026, dengan kenaikan terutama ditopang ekspor nonmigas di tengah penurunan pengiriman migas.
Sorotan
- Ekspor Indonesia Januari-September 2026 naik 5,58 persen year-on-year menjadi U.S.$221,23 miliar, didorong pertumbuhan ekspor nonmigas 6,30 persen ke U.S.$212,27 miliar.
- Industri pengolahan menjadi pendorong utama ekspor nonmigas, tumbuh 8,93 persen dan berkontribusi 7,15 persen, terutama berkat lonjakan ekspor nikel, minyak kelapa sawit, aluminium, dan tembaga.
- Purchasing Managers' Index manufaktur mitra utama—U.S. 55,9; India 55,1; Jepang 54,1; Tiongkok 52,1—meningkatkan peluang penyerapan produk manufaktur Indonesia.
Pertumbuhan ekspor ditopang nonmigas dan manufaktur
Menurut Okezone, mengutip Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026 naik 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi U.S.$221,23 miliar. Dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan ekspor nonmigas meningkat 6,30 persen menjadi U.S.$212,27 miliar, sementara ekspor migas turun 9,11 persen menjadi U.S.$8,96 miliar.Menurut Ateng, capaian tersebut sejalan dengan kondisi manufaktur yang ekspansif di sejumlah mitra dagang utama. Ia menyebut Purchasing Managers' Index manufaktur di U.S. berada di 55,9, India 55,1, Jepang 54,1, dan Tiongkok 52,1, yang memberi ruang lebih besar bagi penyerapan produk manufaktur dan komoditas unggulan Indonesia.
Produk hilirisasi dan komoditas utama jadi pendorong
Secara sektoral, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan ekspor nonmigas secara kumulatif. BPS menyebut penguatan penjualan luar negeri ditopang oleh sejumlah produk hilirisasi mineral tambang dan turunan perkebunan yang mencatat akselerasi cukup tinggi.Ateng menjelaskan komoditas utama pendorong ekspor nonmigas kumulatif meliputi lemak dan minyak hewani nabati HS 15, nikel dan barang daripadanya HS 75, serta bahan bakar mineral HS 27. Sektor industri pengolahan sendiri naik 8,93 persen dengan andil 7,15 persen, dengan kenaikan terbesar berasal dari olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik hasil pertanian, aluminium, dan tembaga.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang target ekspor nikel Indonesia pada 2026, kami mengulas sasaran pemerintah agar nilai ekspor produk olahan nikel menembus lebih dari USD45 miliar seiring percepatan hilirisasi tambang. Kami juga menyoroti lonjakan ekspor nikel dari sekitar USD3,3 miliar pada 2017–2018 menjadi melampaui USD40 miliar pada 2025, yang menunjukkan pergeseran dari ekspor bijih ke produk bernilai tambah dan makin besarnya peran industri pengolahan dalam ekspor nasional.
- Forex
- Crypto