Akhir era pertumbuhan Bitcoin: Mengapa investor terkemuka meragukan masa depannya

Akhir era pertumbuhan Bitcoin: Mengapa investor terkemuka meragukan masa depannya
Akankah Bitcoin mencetak rekor baru?

​Bitcoin berulang kali membantah para skeptisnya dengan pulih dari kejatuhan besar dan mencetak rekor harga baru. Namun, penurunan terbaru kembali memicu perdebatan lama tentang apakah pertumbuhan cryptocurrency ini dapat berlanjut. Sejumlah investor terkemuka meyakini masa kejayaan Bitcoin telah berlalu, tetapi seberapa meyakinkan argumen mereka?

Artikel ini diterjemahkan dari aslinya. Baca versi asli oleh koresponden kami di sini.

Jason Calacanis bertaruh Bitcoin tak akan mencetak rekor lagi

Venture capitalist dan investor awal Uber, Jason Calacanis, membuat salah satu prediksi paling berani tentang masa depan Bitcoin. Pada 27 Oktober, ia memperkirakan harganya akan turun ke $57.000 dalam 12 bulan dan berpendapat cryptocurrency ini tak akan pernah mencapai rekor tertinggi baru. Alasannya bukan sekadar koreksi harga terbaru: ia meyakini minat investor terhadap Bitcoin mulai berkurang seiring munculnya peluang yang lebih menarik.

Kecerdasan buatan menjadi inti argumennya. Calacanis melihat potensi ekonomi AI lebih besar daripada Bitcoin, yang menurutnya merupakan jaringan dengan kegunaan terbatas selain sebagai penyimpan nilai. Menariknya, ia mengungkapkan memiliki TAO, token yang terkait dengan Bittensor, jaringan AI terdesentralisasi. Jadi, sikapnya bukan penolakan terhadap cryptocurrency secara keseluruhan, melainkan taruhan bahwa modal akan semakin mengalir ke teknologi dengan penerapan yang lebih luas.

Waktu penyampaian prediksinya membuatnya sangat mencolok. Bitcoin mengalami penurunan berkepanjangan sejak mencapai puncak pada Oktober 2025, tetapi sebelumnya cryptocurrency ini pernah pulih dari kerugian besar. Calacanis meyakini kali ini akan berbeda, terutama karena investor kini memiliki alternatif yang lebih menjanjikan.

Peter Schiff pernah membuat prediksi serupa

Ekonom dan pendukung emas, Peter Schiff, telah bertahun-tahun memperingatkan bahwa Bitcoin adalah aset spekulatif dengan sedikit nilai intrinsik. Dalam penurunan terbaru, ia memperingatkan bahwa jika harga turun di bawah $80.000, Bitcoin bisa merosot ke $75.000, dengan potensi kerugian lebih lanjut jika level tersebut gagal bertahan. Namun, rekam jejak prediksi harganya yang meleset menimbulkan pertanyaan tentang seberapa andal ia menilai prospek jangka panjang Bitcoin.

Pada November 2019, Schiff memprediksi Bitcoin tak akan pernah mencapai $100.000. Saat itu, cryptocurrency ini diperdagangkan di bawah $10.000. Lima tahun kemudian, Bitcoin menembus ambang $100.000 pada Desember 2024, berlawanan langsung dengan prediksinya.

Schiff tetap skeptis dan terus berpendapat bahwa emas merupakan penyimpan kekayaan yang lebih andal. Ia menyoroti bahwa, tidak seperti Bitcoin, emas memiliki kegunaan praktis dan sejarah panjang dalam mempertahankan nilainya. Kritiknya mencerminkan perbedaan pendapat yang lebih luas tentang apakah kelangkaan Bitcoin dan adopsi yang terus meningkat cukup untuk menopang permintaan dalam jangka panjang.

Kritikus Bitcoin tidak semuanya mengajukan argumen yang sama

Tidak semua tokoh terkemuka yang skeptis terhadap Bitcoin berusaha memprediksi harganya. Warren Buffett, misalnya, telah mempertanyakan nilai investasi cryptocurrency ini selama bertahun-tahun. Pada 2018, ia menyebut Bitcoin sebagai "racun tikus kuadrat", dengan alasan bahwa aset tanpa laba atau arus kas bergantung pada pembeli yang berharap orang lain bersedia membayar lebih mahal.

Harga Bitcoin kemudian naik lebih dari sepuluh kali lipat, tetapi hal itu saja tidak membantah argumen Buffett. Berbeda dengan prediksi Schiff tentang harga $100.000, kritik Buffett berkaitan dengan cara menilai suatu aset. 

CEO JPMorgan Jamie Dimon mengambil sikap skeptis serupa. Pada 2021, ia menyebut Bitcoin tidak bernilai, lalu membandingkannya dengan batu peliharaan pada Januari 2024. Namun, sikap bank tersebut dalam keputusan bisnisnya semakin akomodatif. Pada Mei 2025, Dimon mengatakan JPMorgan akan mengizinkan klien membeli Bitcoin meskipun ia pribadi masih meragukannya.

Hal ini menciptakan kontras menarik antara kritik di depan publik dan perilaku institusi. JPMorgan memperluas keterlibatannya dalam layanan keuangan berbasis blockchain, sementara perusahaan keuangan tradisional membantu memudahkan akses ke Bitcoin melalui produk investasi yang teregulasi. Industri ini tak lagi membutuhkan semua bankir berpengaruh untuk percaya pada Bitcoin agar klien dapat berinvestasi di dalamnya.

Akankah Bitcoin mencapai rekor tertinggi baru?

Sejarah Bitcoin menunjukkan alasan untuk berhati-hati sebelum menyatakan bahwa pertumbuhannya telah berakhir secara permanen. Setelah mendekati $20.000 pada Desember 2017, nilainya turun lebih dari 80% sepanjang 2018 sebelum mencetak rekor baru pada 2020. Penurunan besar lainnya menyusul puncaknya pada November 2021, di sekitar $69.000. Bitcoin jatuh ke sekitar $15.500 pada November 2022 di tengah keruntuhan FTX dan kegagalan lain di industri crypto, tetapi melampaui rekor sebelumnya pada Maret 2024.

Penurunan terbaru dimulai setelah Bitcoin mencapai sekitar $126.000 pada 6 Oktober 2025. Pada pertengahan 2026, harganya turun di bawah $60.000, merosot lebih dari 50%. Harganya kemudian pulih mendekati $80.000 pada akhir Oktober, tetapi masih sekitar 37% di bawah puncaknya. Untuk kembali ke $126.000 dari level tersebut, harganya perlu naik sekitar 58%.

Pasar Bitcoin juga telah banyak berubah sejak kejatuhan-kejatuhan sebelumnya. ETF Bitcoin spot memberi investor akses melalui rekening pialang tradisional, sementara kas perusahaan dan investor institusional kini memainkan peran yang lebih besar. Perkembangan ini membuka saluran tambahan bagi permintaan, tetapi juga membuat Bitcoin lebih terpapar pada perubahan selera risiko dan alokasi portofolio institusi.

Rekor baru tidak selalu membutuhkan gelombang antusiasme spekulatif baru dari investor ritel. Arus masuk ETF yang berkelanjutan, alokasi institusional yang lebih luas, atau meningkatnya kembali permintaan terhadap aset dengan pasokan terbatas dapat mendukung pemulihan. Sebaliknya, arus keluar berkepanjangan dan kepercayaan investor yang lemah dapat membuat Bitcoin bertahun-tahun berada di bawah puncaknya. Argumen terkuat untuk membantah prediksi Calacanis bukanlah bahwa Bitcoin pasti akan naik lagi, melainkan bahwa menetapkan batas harga permanen mungkin sama prematurnya dengan prediksi sebelumnya tentang kehancurannya.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.