Pertamina International Shipping hadapi hambatan asuransi untuk lintasi Selat Hormuz

Pertamina International Shipping hadapi hambatan asuransi untuk lintasi Selat Hormuz
Asuransi hambat pelayaran

Ketegangan keamanan di Timur Tengah menahan pergerakan kapal pengangkut energi Indonesia di salah satu jalur pelayaran paling strategis dunia. Pemerintah menyatakan kendala utama saat ini bukan hanya situasi konflik, tetapi juga tidak adanya penanggung asuransi yang bersedia melindungi kapal yang bergerak melintasi Selat Hormuz.

Sorotan

  • Perusahaan asuransi menolak menanggung risiko pelayaran di Selat Hormuz, menyebabkan kapal-kapal milik Pertamina International Shipping tertahan di kawasan tersebut.
  • Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang mengangkut sekitar 2 juta barrel minyak mentah, belum dapat melintasi Selat Hormuz akibat situasi keamanan dan hambatan asuransi.
  • Pemerintah Indonesia masih berkomunikasi dengan Iran dan mengambil sikap wait and see, sementara dampak pasokan dinilai kecil terhadap kebutuhan energi nasional.

Hambatan asuransi dan pelayaran

Seperti dilaporkan Kompas.com, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno mengatakan kapal-kapal Pertamina milik Indonesia masih tertahan di Selat Hormuz karena perusahaan asuransi tidak mau menanggung risiko pelayaran di kawasan konflik tersebut. Ia menjelaskan keputusan navigasi dalam kondisi seperti ini bergantung pada jaminan dari negara yang berkonflik serta kesediaan penanggung asuransi kapal.

Menurut Arif, kapal yang hanya berada dalam posisi parkir masih dapat memperoleh perlindungan asuransi, tetapi perlindungan itu berhenti ketika kapal mulai bergerak memasuki jalur di Selat Hormuz. Ia menambahkan banyak kapal memilih tidak berlayar melintasi kawasan itu karena pertanggungan tidak tersedia.

Arif juga menyinggung pertimbangan kapten kapal dan pemilik kargo yang mengutamakan keselamatan kapal serta muatan. Menurut dia, sekalipun ada pertanggungan, banyak pemilik kapal kargo tetap enggan melintas karena khawatir barang yang dibawa menjadi sasaran serangan.

Dampak pada pasokan dan respons pemerintah

Pemerintah Indonesia tetap berkomunikasi dengan Iran agar kapal asal Indonesia dapat melintas, meski situasi politik di Timur Tengah masih memanas. Arif mengatakan pemerintah untuk sementara mengambil sikap wait and see sambil memantau eskalasi di kawasan tersebut.

Sebelumnya, pemerintah masih menegosiasikan nasib dua kapal milik PT Pertamina International Shipping, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang hingga kini belum dapat melintasi Selat Hormuz. Kedua kapal itu masih tertahan di kawasan Teluk Arab di tengah dinamika keamanan di jalur pelayaran tersebut.

Dari sisi operasional, dua kapal yang tertahan membawa sekitar 2 juta barrel minyak mentah. Pelaksana tugas Corporate Secretary PIS, Vega Pita, mengatakan perusahaan terus memonitor perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz, sementara pemerintah menilai volume tersebut masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan energi nasional.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang serangan terbaru AS terhadap target Iran, kami menyoroti kembali meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan aliran energi melalui Selat Hormuz. Kami juga mencatat reaksi harga Brent yang sempat menembus US$95 per barel, di tengah fokus pelaku pasar pada risiko pelayaran, lonjakan biaya asuransi, potensi penundaan kapal, dan isu klaim penutupan selat yang saling dibantah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.