BTN gandeng BPS untuk perkuat pembiayaan rumah berbasis data

BTN gandeng BPS untuk perkuat pembiayaan rumah berbasis data
BTN-BPS perkuat kredit rumah

Kolaborasi data menjadi fokus baru dalam upaya memperluas pembiayaan perumahan di Indonesia ketika kebutuhan rumah masih tinggi dan backlog kepemilikan belum teratasi. BTN menggandeng BPS RI untuk memanfaatkan data statistik nasional dan BNBA agar penyaluran kredit perumahan lebih tepat sasaran serta mendukung percepatan Program 3 Juta Rumah.

Sorotan

  • BTN dan BPS menandatangani nota kesepahaman lima tahun pada 7 Juli 2026 untuk kolaborasi pemanfaatan data statistik dan layanan perbankan.
  • BTN akan menggunakan Data By Name By Address dan hasil Sensus Ekonomi 2026 untuk memetakan kebutuhan perumahan dan memperluas akses kredit di berbagai daerah.
  • Kerja sama ini bertujuan memperkuat pemetaan kebutuhan perumahan, pengembangan SDM, serta mendukung penyelesaian backlog kepemilikan rumah sekitar 9,9 juta unit di Indonesia.

Ruang lingkup kerja sama dan pemanfaatan data

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu dan Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta pada Selasa, 7 Juli 2026. Kesepakatan tersebut berlaku selama lima tahun dan menjadi landasan kolaborasi dalam pemanfaatan data statistik serta layanan perbankan.

Dalam siaran pers pada Rabu, 8 Juli 2026, Nixon mengatakan salah satu tantangan utama pembiayaan perumahan nasional adalah ketersediaan data akurat mengenai masyarakat yang belum memiliki rumah. Menurut dia, data yang lebih baik mengenai tingkat penghasilan, demografi, dan profil masyarakat akan membantu BTN menyalurkan pembiayaan secara lebih presisi.

Melalui kerja sama ini, BTN akan memakai data statistik dan Data By Name By Address sesuai ketentuan yang berlaku untuk memetakan kebutuhan perumahan secara lebih komprehensif. Cakupan data itu meliputi lokasi, karakteristik sosial ekonomi, tingkat pendapatan, kemampuan membeli rumah, hingga potensi permintaan pembiayaan di berbagai daerah.

BTN juga akan memanfaatkan hasil Sensus Ekonomi 2026 untuk mengidentifikasi pusat pertumbuhan ekonomi baru dan perkembangan aktivitas usaha di berbagai wilayah. Informasi tersebut menjadi dasar penyusunan strategi pembiayaan perumahan yang lebih presisi sekaligus memperluas akses kredit sesuai karakteristik ekonomi daerah.

Dampak bagi sektor perumahan dan tindak lanjut

BTN menilai sektor perumahan tetap menjadi salah satu penggerak utama perekonomian nasional karena memiliki efek berganda terhadap lebih dari 185 subsektor ekonomi. Di saat yang sama, Indonesia masih menghadapi backlog kepemilikan rumah sekitar 9,9 juta unit, sementara kebutuhan rumah baru diperkirakan mencapai 700.000 hingga 800.000 unit per tahun.

Selain pemanfaatan data statistik, kerja sama BTN dan BPS mencakup dukungan pelaksanaan sensus dan survei, pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan, knowledge sharing, program magang, serta kolaborasi di bidang statistik, data science, dan analisis data. Bagi BPS, kerja sama ini juga memperluas akses ke layanan perbankan BTN, mulai dari pengelolaan dana, layanan transaksi, fasilitas payroll, hingga pembiayaan perumahan subsidi dan nonsubsidi bagi pegawai.

Amalia mengatakan nota kesepahaman itu diharapkan memperkuat sinergi kedua institusi dalam penyediaan dan pemanfaatan data statistik, pengembangan sumber daya manusia, serta peningkatan kesejahteraan pegawai melalui akses layanan perbankan yang lebih mudah. Ia juga mengapresiasi dukungan BTN terhadap pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, termasuk penyelesaian pengisian sensus di seluruh kantor cabang BTN.

Sebagai tindak lanjut, BTN dan BPS akan menyusun perjanjian kerja sama teknis yang mencakup pengembangan model pemetaan kebutuhan perumahan berbasis BNBA, identifikasi potensi permintaan pembiayaan, pengembangan kapasitas SDM, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kerja sama secara berkala.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja keuangan BTN hingga Mei 2026, kami mencatat laba bersih konsolidasi perseroan mencapai Rp 1,85 triliun atau tumbuh 54,37% yoy, ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih serta pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang melampaui rata-rata industri. Kami juga menyoroti transformasi bisnis dan sinergi dalam ekosistem Danantara yang mendorong efisiensi, percepatan digitalisasi, dan ekspansi BTN di luar pembiayaan perumahan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.