Saham bank papan pengembangan bergerak selektif saat IHSG menguat

Saham bank papan pengembangan bergerak selektif saat IHSG menguat
Bank papan pengembangan selektif

Penguatan IHSG dan saham perbankan belum mendorong kenaikan merata pada emiten bank di papan pengembangan, meski beberapa saham masih mencatat penguatan dalam sepekan hingga penutupan Jumat, 21 Agustus 2026. Analis menilai pergerakan kelompok ini tetap sangat ditentukan oleh fundamental, likuiditas perdagangan, dan prospek pertumbuhan laba, bukan semata oleh harga nominal yang rendah.

Sorotan

  • IHSG naik 3,55% ke 6.525,69 selama sepekan hingga 21 Agustus 2026, namun saham bank papan pengembangan bergerak tidak seragam dengan penguatan selektif pada AGRS, BBKP, BCIC, BMAS, dan SUPA.
  • Analis RHB Sekuritas menilai likuiditas rendah dan overhang investor lama menahan kenaikan saham bank papan pengembangan, sementara wacana penurunan batas harga minimum jadi Rp 1 dapat meningkatkan price discovery jangka pendek.
  • SUPA direkomendasikan speculative buy dengan target Rp 625, DNAR target Rp 135, dan BVIC target Rp 102 jika IHSG tetap positif dan terjadi rotasi dana ke saham lapis kedua dan ketiga.

Pergerakan harga dan faktor pendorong

KONTAN melaporkan, pada akhir perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026, IHSG ditutup naik 3,55% dalam sepekan ke 6.525,69, sementara pergerakan saham bank papan pengembangan berlangsung tidak seragam. PT Bank IBK Indonesia (AGRS) naik 3,33% ke Rp 62, PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) menguat 1,82% ke Rp 56, PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) bertambah 1,56% ke Rp 130, PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (BMAS) naik 1,63% ke Rp 500, dan PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) menguat 1,87% ke Rp 545.

Di sisi lain, PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) turun 1,80% ke Rp 218 dan PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) melemah 0,68% ke Rp 730. Saham di level Rp 50 seperti PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) dan PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) juga belum bergerak, sementara PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW) stagnan di Rp 52 dalam sepekan.

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan penguatan IHSG tidak otomatis mengangkat seluruh saham bank karena reli sektor perbankan cenderung selektif dan terkonsentrasi pada emiten dengan fundamental lebih kuat, likuiditas saham yang baik, serta visibilitas pertumbuhan laba yang lebih tinggi. Ia menilai investor masih mencermati kualitas aset, konsistensi laba, permodalan, pertumbuhan kredit, biaya dana, serta potensi aksi korporasi atau kebutuhan tambahan modal.

Menurut Andrey, likuiditas perdagangan yang relatif rendah dan overhang dari investor lama juga membuat sejumlah saham bank papan pengembangan tertinggal meski sentimen pasar umum positif. Ia menambahkan wacana Bursa Efek Indonesia menurunkan batas harga minimum saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 berpotensi meningkatkan price discovery dan likuiditas dalam jangka pendek, tetapi sekaligus menghapus persepsi bahwa Rp 50 adalah batas bawah harga saham.

Rekomendasi analis dan implikasi sektor

Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai saham dengan kapitalisasi dan likuiditas rendah memiliki risiko lebih besar karena pergerakan harga lebih mudah dipengaruhi volume transaksi yang kecil. Karena itu, katalis yang dibutuhkan saham bank papan pengembangan bukan hanya sentimen pasar positif, tetapi juga bukti pertumbuhan kredit yang sehat, peningkatan laba, perbaikan kualitas aset, efisiensi biaya, serta potensi aksi korporasi.

Untuk ke depan, Hendra melihat ruang penguatan masih terbuka apabila IHSG mampu mempertahankan tren positif dan terjadi rotasi dana dari saham berkapitalisasi besar ke saham lapis kedua dan ketiga. Ia menyebut SUPA menarik dicermati karena memiliki cerita pertumbuhan dan ekspansi bisnis, dengan rekomendasi speculative buy dan target harga Rp 625, meski investor tetap perlu memperhatikan area support, resistance, dan dukungan volume transaksi.

Hendra juga menilai DNAR layak speculative buy dengan target Rp 135 dan BVIC dapat dicermati dengan target Rp 102. Menurutnya, kedua saham itu memiliki likuiditas yang relatif lebih terbatas sehingga disiplin pada level support menjadi penting.

Andrey menambahkan ruang penguatan saham bank papan pengembangan tetap ada, tetapi sifatnya sangat stock-specific. Ia menyarankan investor tidak menjadikan rendahnya harga nominal sebagai alasan utama membeli saham, sementara RHB Sekuritas tetap mempertahankan pandangan overweight pada sektor perbankan Indonesia dengan preferensi pada bank yang memiliki fundamental dan visibilitas laba lebih kuat.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang rencana BEI menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1, kami mengulas bagaimana perubahan aturan ini berpotensi memperluas ruang transaksi pada saham berharga rendah dan mendorong likuiditas serta price discovery. Ulasan tersebut juga menekankan adanya risiko volatilitas jangka pendek, termasuk potensi tekanan jual/force sell, serta pentingnya pengawasan dan manajemen risiko agar investor tidak terjebak persepsi bahwa harga nominal rendah berarti saham otomatis murah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.