Rupiah melemah di penutupan perdagangan, risiko geopolitik menekan pasar valas
Tekanan eksternal kembali membebani rupiah pada akhir perdagangan Kamis, saat mata uang Indonesia ditutup turun 28 poin ke Rp17.915 per dolar U.S. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak dan jalur pelayaran energi di Timur Tengah.
Sorotan
- Rupiah melemah di penutupan perdagangan akibat tekanan sentimen geopolitik dari konflik Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran.
- Ancaman keamanan terhadap pelayaran minyak di Teluk dan Selat Hormuz meningkat pada Oktober seiring konflik U.S.-Israel dan Iran memasuki bulan kedelapan.
- Jalur Selat Hormuz mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan bahan bakar global, sehingga eskalasi konflik menaikkan risiko pada aset pasar negara berkembang.
Sentimen geopolitik dorong tekanan kurs
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan salah satu sentimen utama yang menekan rupiah berasal dari konflik yang terus berlanjut antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran, terutama setelah serangan ke kilang minyak di Riyadh pada awal pekan ini.Dalam risetnya, Ibrahim menulis bahwa pasokan dari Timur Tengah pada September terpantau meningkat, dengan arus melalui Selat Hormuz sempat melampaui tingkat sebelum perang. Namun, ancaman terhadap pelayaran minyak di Teluk dan Selat Hormuz meningkat pada Oktober, ketika konflik antara U.S.-Israel dan Iran memasuki bulan kedelapan.
Jalur tersebut sebelum perang mengangkut volume setara sekitar 20% pasokan minyak dan bahan bakar global, sehingga setiap eskalasi keamanan langsung memicu kewaspadaan pelaku pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi dan dampaknya pada aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang penguatan rupiah di tengah ketegangan Timur Tengah, kami menulis rupiah ditutup menguat tipis ke Rp17.887 per dolar AS saat pasar mencermati risiko geopolitik, termasuk meningkatnya serangan di Selat Hormuz dan operasi militer Houthi yang menyasar fasilitas Saudi. Kami juga mencatat cadangan devisa Indonesia yang masih terjaga pada akhir September 2026 turut menopang sentimen domestik, meski kekhawatiran gangguan jalur energi dan pelayaran tetap membayangi pasar.
Berita Brent Terbaru
- Forex
- Crypto