Elena Nikulina

Semacom Integrated dinilai berpotensi capai laba Rp200 miliar pada 2027 dari proyek data center

Semacom Integrated dinilai berpotensi capai laba Rp200 miliar pada 2027 dari proyek data center
Potensi laba Semacom melonjak

Keterlibatan PT Semacom Integrated Tbk dalam proyek Data Center CGK5 dan CGK7 dinilai dapat membuka fase pertumbuhan baru bagi perseroan di tengah meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital dan pengembangan Artificial Intelligence. Skenario analis menunjukkan kontrak itu dapat mendorong penjualan hingga sekitar Rp2 triliun dan menopang valuasi teoritis yang jauh lebih tinggi pada 2027.

Sorotan

  • SEMA berpotensi meraih laba bersih Rp200 miliar pada 2027 dari kontrak data center CGK5 dan CGK7 dengan asumsi margin bersih 10% dan penjualan Rp2 triliun.
  • Valuasi berbasis Price to Earnings Ratio 10 kali memproyeksikan kapitalisasi pasar SEMA sekitar Rp2 triliun pada 2027 dengan jumlah saham 1,35 miliar.
  • Dengan asumsi tersebut, valuasi teoretis saham SEMA diperkirakan mencapai Rp1.481 per lembar, mendekati Rp1.500.

Proyeksi laba dari kontrak CGK5 dan CGK7

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, penilaian tersebut disampaikan Fauzan Luthsa, analis pasar modal Menteng Kleb Institute, yang melihat peran Semacom sebagai pemasok Power Train Unit dan SKID memperkuat posisi perseroan dalam rantai pasok infrastruktur data center.

Menurut Fauzan, kontrak CGK5 dan CGK7 menjadi titik penting bagi perubahan skala bisnis perusahaan, meski SEMA tidak menyediakan keseluruhan sistem kelistrikan data center. Ia menilai masuknya perseroan pada komponen fundamental seperti PTU dan SKID memberi peluang untuk memperbesar kontribusi bisnis di segmen yang sedang berkembang.

Dengan asumsi kontrak tersebut mendorong penjualan sekitar Rp2 triliun dan margin laba bersih bertahan di level 10%, ia memperkirakan laba bersih SEMA dapat mencapai sekitar Rp200 miliar pada 2027.

Dampak valuasi bagi saham SEMA

Dalam skenario yang sama, asumsi Price to Earnings Ratio sebesar 10 kali secara teoritis menghasilkan kapitalisasi pasar sekitar Rp2 triliun.

Jika jumlah saham beredar berada di kisaran 1,35 miliar lembar dan tidak berubah, valuasi itu setara dengan sekitar Rp1.481 per saham, atau mendekati Rp1.500.

Meski demikian, angka tersebut merupakan skenario valuasi berbasis asumsi analis, bukan target resmi perseroan maupun jaminan atas pergerakan harga saham.

Peluang pembiayaan ekosistem data center menurut OJK sebelumnya kami bahas sebagai konsekuensi dari meningkatnya kebutuhan cloud, AI, dan digitalisasi perusahaan di Indonesia. Dalam artikel itu, OJK menekankan bahwa pengembangan pusat data membuka ruang bagi industri modal ventura untuk berinvestasi di ekosistem pendukung, dengan tetap memperhatikan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian. Kami juga mengulas proyeksi kenaikan kapasitas data center terpasang yang mengindikasikan kebutuhan investasi infrastruktur digital akan terus meningkat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.