IHSG berpotensi terkoreksi pekan depan di tengah tekanan inflasi U.S., rupiah, dan komoditas

IHSG berpotensi terkoreksi pekan depan di tengah tekanan inflasi U.S., rupiah, dan komoditas
IHSG tertekan inflasi U.S.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan pada sepekan ke depan diperkirakan tetap rentan terhadap koreksi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar. Proyeksi itu datang dengan kisaran support 5.973 dan resistance 6.227, sementara arah indeks dinilai dipengaruhi data inflasi U.S., nilai tukar rupiah, arus modal asing, serta volatilitas harga komoditas global.

Sorotan

  • IHSG diproyeksikan rawan terkoreksi pekan depan dengan support di 5.973 dan resistance di 6.227 menurut MNC Sekuritas.
  • Rilis data inflasi U.S. menjadi sentimen kunci karena akan menentukan arah suku bunga acuan Federal Reserve dan memengaruhi risk appetite investor domestik.
  • Pergerakan IHSG juga dipengaruhi pelemahan rupiah terhadap dolar U.S., arus modal asing, serta volatilitas harga komoditas global khususnya minyak bumi.

Proyeksi pergerakan dan pemicu pasar

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih rawan terkoreksi dalam perdagangan sepekan ke depan. Ia memproyeksikan indeks menguji level support di 5.973 dan resistance di 6.227.

Menurut Herditya, salah satu sentimen utama yang dicermati pasar adalah rilis data inflasi U.S. Data tersebut menjadi penentu penting bagi arah kebijakan suku bunga acuan Federal Reserve, sehingga berpotensi memengaruhi selera risiko investor di pasar saham domestik.

Dampak nilai tukar dan komoditas global

Selain sentimen eksternal dari kebijakan moneter U.S., laju IHSG juga diperkirakan masih dibayangi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar U.S. yang rawan melemah. Dinamika arus modal asing juga tetap menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam menilai kekuatan indeks pada pekan mendatang.

Pasar saham turut mencermati volatilitas harga komoditas global, terutama minyak bumi. Meski pihak U.S. telah menyatakan tidak akan melakukan serangan ke Iran sebelum pelaksanaan midterm election, pergerakan harga komoditas dinilai masih dapat menjaga tingkat ketidakpastian di pasar.

Pergerakan IHSG pada pekan 5–9 Oktober 2026 menjadi sorotan dalam artikel kami sebelumnya, ketika indeks ditutup menguat ke level 6.093 meski investor asing masih mencatat jual bersih. Kami juga mencatat lonjakan nilai transaksi harian serta perubahan komposisi pelaku pasar, dengan porsi investor domestik meningkat signifikan dan menjadi penopang utama aktivitas perdagangan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.