Rupiah melemah ke Rp18.060 per dolar U.S. di tengah risiko geopolitik dan fokus pasar pada The Fed
Tekanan eksternal dan kehati-hatian pasar global mendorong rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis di Jakarta. Mata uang Indonesia turun 38 poin, atau sekitar 0,21 persen, ke level Rp18.060 per dolar U.S. ketika pelaku pasar mencermati ketegangan di Timur Tengah, perkembangan perang Ukraina, dan agenda inflasi U.S.
Sorotan
- Rupiah melemah ke Rp18.060 per dolar U.S. karena eskalasi serangan kelompok Houthi di Arab Saudi meningkatkan risiko geopolitik regional.
- Pasar global menanti pertemuan The Fed minggu depan dan rilis Core PCE Price Index, penentu utama arah kebijakan moneter U.S.
- Fitch Ratings memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia jangka menengah tetap kuat, namun kemungkinan besar di bawah target pemerintah 8 persen.
Pemicu pelemahan dan fokus pasar global
Sebagaimana dilaporkan Okezone Economy Indonesia, pelemahan rupiah terjadi ketika pasar menilai kembali risiko global yang meningkat, termasuk eskalasi serangan kelompok Houthi di Arab Saudi dan perhatian terhadap langkah kebijakan moneter U.S. Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu sentimen utama datang dari faktor eksternal tersebut.Dalam risetnya, Ibrahim menulis bahwa kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran menyerang beberapa target pada Rabu. Serangan itu menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai delapan lainnya di bandara sipil di Dammam, sementara dua orang lain tewas dalam serangan drone di ladang minyak Arab Saudi.
Media Iran juga melaporkan ledakan di Sirik, wilayah selatan Iran, pada Rabu, meski sifat dan asal ledakan itu belum diketahui. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kepada Financial Times bahwa Iran sepenuhnya siap membela diri, sementara Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan U.S. tidak dapat mengharapkan dialog selama blokade dan ancaman masih berlanjut.
Pasar juga mencermati perkembangan geopolitik lain setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menerima utusan khusus U.S., Steve Witkoff, di St. Petersburg untuk membahas upaya mengakhiri perang di Ukraina. Kremlin menyatakan Putin telah setuju melanjutkan kembali perundingan damai dengan Ukraina yang dimediasi U.S. paling cepat bulan depan, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan dukungannya agar pembicaraan dimulai sesegera mungkin.
Dampak sentimen eksternal dan prospek domestik
Di U.S., agenda ekonomi relatif sepi, tetapi sentimen pasar tetap ditopang penguatan bursa saham yang didorong lonjakan saham teknologi seiring antusiasme terhadap kecerdasan buatan, atau AI. Perhatian investor kini beralih ke pertemuan The Fed pekan depan serta rilis Core PCE Price Index, yang menjadi acuan utama bank sentral U.S. untuk mengukur inflasi.Di dalam negeri, Fitch Ratings menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah tetap kuat, meski masih berada di bawah target pemerintah. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027, lebih tinggi dari target tahun ini sebesar 5,4 persen, namun laju ekonomi Indonesia masih diperkirakan belum mencapai sasaran pemerintah sebesar 8 persen dalam jangka menengah.
Kombinasi ketidakpastian geopolitik, ekspektasi kebijakan The Fed, dan pandangan terhadap prospek pertumbuhan domestik membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk rupiah. Kondisi ini menjaga tekanan pada kurs domestik di tengah meningkatnya sensitivitas pasar terhadap arus modal global.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah ke Rp17.938 per dolar AS, kami menyoroti bagaimana eskalasi ketegangan di sekitar Selat Hormuz—termasuk serangan terkait Houthi dan respons Iran—memicu kekhawatiran suplai energi serta lonjakan biaya pengangkutan yang menambah volatilitas kurs. Ulasan tersebut juga mencatat inflasi September yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat sikap defensif pelaku pasar terhadap aset berisiko, sehingga menahan ruang penguatan rupiah.
Berita USD/IDR Terbaru
- Forex
- Crypto