Pavlo Kot

Rupiah melemah 0,30% ke Rp18.135 per dolar U.S. di tengah risiko geopolitik regional

Rupiah melemah 0,30% ke Rp18.135 per dolar U.S. di tengah risiko geopolitik regional
Rupiah tertekan geopolitik

Pergerakan pasar valuta asing pada penutupan perdagangan Senin menunjukkan tekanan lanjutan pada rupiah terhadap dolar U.S. Pelemahan itu terjadi saat pelaku pasar mencermati eskalasi keamanan di Timur Tengah yang memengaruhi sentimen risiko global.

Sorotan

  • Rupiah melemah 0,30% ke Rp18.135 per dolar U.S. pada akhir perdagangan 26 Oktober 2026 akibat kekhawatiran geopolitik Laut Merah.
  • Serangan kelompok Houthi Yaman terhadap bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi meningkatkan kehati-hatian investor terhadap aset negara berkembang.
  • Upaya diplomasi, termasuk mediator Qatar ke Teheran dan pertemuan pejabat regional pada 28 Oktober 2026, memberi sedikit kelegaan pada pasar.

Sentimen eksternal tekan kurs di akhir perdagangan

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, rupiah ditutup melemah 55 poin atau sekitar 0,30% ke level Rp18.135 per dolar U.S. pada akhir perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Pergerakan ini dikaitkan dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perkembangan geopolitik di kawasan Laut Merah dan sekitarnya.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu sentimen utama datang dari faktor eksternal, yakni serangan kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran yang terus berlanjut sepanjang akhir pekan. Dalam risetnya, ia menyebut kelompok tersebut mengaku bertanggung jawab atas serangan yang menargetkan bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi pada Sabtu.

Ibrahim juga menilai situasi keamanan di sekitar Laut Merah memburuk seiring pergerakan kelompok Houthi menuju Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Kondisi itu menambah kehati-hatian investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.

Diplomasi kawasan beri sedikit kelegaan pasar

Menurut berbagai laporan, mediator dari Qatar bertolak ke Teheran pada Minggu dalam upaya meredam ketegangan regional dengan koordinasi bersama Washington. Langkah diplomatik ini memberi sedikit kelegaan bagi pasar setelah lonjakan harga baru-baru ini dipicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas.

Reuters juga melaporkan para pejabat senior dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dijadwalkan bertemu dengan mitra mereka dari Iran di Teheran pada Senin untuk membahas koordinasi regional. Agenda tersebut menjadi salah satu faktor yang dipantau pasar karena berpotensi memengaruhi arah sentimen global dan pergerakan mata uang di kawasan berkembang.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah di tengah eskalasi risiko di Selat Hormuz, kami menyoroti bagaimana meningkatnya serangan dan gangguan pelayaran memicu kekhawatiran pasokan energi serta mendorong volatilitas kurs. Ulasan tersebut juga mencatat data inflasi September yang lebih tinggi dari perkiraan ikut memperkuat sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.