Yulia Slavina

Rupiah melemah ke Rp18.089 per dolar U.S. di tengah risiko geopolitik Timur Tengah

Rupiah melemah ke Rp18.089 per dolar U.S. di tengah risiko geopolitik Timur Tengah
Rupiah tertekan geopolitik

Tekanan eksternal kembali membayangi pasar valuta asing Indonesia pada penutupan perdagangan Jumat, saat rupiah turun tipis terhadap dolar U.S. Pelemahan itu terjadi ketika kekhawatiran atas gangguan pasokan minyak global dan ketidakpastian politik di U.S. mendorong sentimen hati-hati di pasar.

Sorotan

  • Rupiah ditutup melemah 7 poin atau 0,04 persen ke Rp18.089 per dolar U.S. pada Jumat, 6 November 2026.
  • Serangan terhadap kapal tanker di Timur Tengah dan bahaya di sekitar Yanbu memicu kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan minyak global.
  • Pengambilalihan kedua majelis Kongres U.S. oleh Partai Demokrat usai pemilu paruh waktu menambah ketidakpastian geopolitik dan tekanan pada mata uang emerging market.

Pemicu pelemahan pada akhir perdagangan

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, rupiah ditutup melemah 7 poin atau sekitar 0,04 persen ke level Rp18.089 per dolar U.S. pada akhir perdagangan Jumat, 6 November 2026.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap mata uang domestik antara lain datang dari meningkatnya kekhawatiran pasar atas serangan terhadap kapal-kapal tanker di Timur Tengah. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa pasokan minyak global dapat terganggu, terutama di jalur pelayaran strategis.

Menurut United Kingdom Maritime Trade Operations, sedikitnya lima kapal melaporkan insiden sejak Minggu. Frekuensi serangan itu mendekati rekor pada Oktober, ketika tercatat 35 insiden yang melibatkan kapal.

Dalam risetnya, Ibrahim menulis bahwa Korps Garda Revolusi Islam menyatakan dua kapal tanker minyak dan satu kapal tunda terbakar dalam insiden terpisah setelah mencoba melintasi rute yang disebut tidak sah melalui Selat Hormuz. Arab Saudi juga mengeluarkan peringatan mengenai potensi bahaya di sekitar Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak negara itu di Laut Merah.

Dampak sentimen global bagi pasar

Peringatan tersebut muncul ketika serangan kelompok militan Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran masih berlanjut. Kombinasi risiko keamanan di kawasan energi utama dan potensi gangguan distribusi minyak memperkuat minat investor pada aset yang dinilai lebih aman, termasuk dolar U.S.

Di luar faktor Timur Tengah, prospek geopolitik juga masih diselimuti ketidakpastian setelah pemilihan paruh waktu di U.S. Dalam pemilihan itu, Partai Demokrat berhasil mengambil alih kendali atas kedua majelis Kongres dari Partai Republik yang mendukung Presiden Donald Trump, menambah lapisan ketidakpastian bagi pergerakan pasar global dan mata uang emerging market seperti rupiah.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah ke Rp17.938 per dolar AS, kami mengulas bagaimana eskalasi risiko di Selat Hormuz dan peningkatan serangan yang mengganggu jalur pelayaran memicu kekhawatiran pasokan energi. Ulasan itu juga menyoroti data inflasi September yang lebih tinggi dari perkiraan sebagai faktor tambahan yang memperbesar sikap defensif investor dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.