Bank Indonesia intervensi NDF dan beli SBN saat rupiah tertekan

Bank Indonesia intervensi NDF dan beli SBN saat rupiah tertekan
BI stabilkan rupiah

Tekanan pada rupiah berlanjut dalam beberapa hari perdagangan terakhir seiring gejolak eksternal yang mendorong mata uang ini ke kisaran Rp18.180 per dolar U.S.. Bank sentral menegaskan stabilisasi pasar tetap dijalankan melalui intervensi untuk menjaga pergerakan nilai tukar sesuai fundamentalnya.

Sorotan

  • Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar NDF, spot, dan membeli SBN setelah rupiah melemah dari Rp18.156 menjadi Rp18.184 per dolar U.S..
  • Tekanan depresiasi rupiah dipicu eskalasi konflik Timur Tengah, harga minyak di atas USD 115 per barel, dan sentimen risk-off global.
  • Cadangan devisa Indonesia per akhir September 2026 tercatat USD 146,3 miliar, dengan depresiasi rupiah bulanan sebesar 1,15 persen.

Langkah stabilisasi di tengah tekanan pasar

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Bank Indonesia menyatakan tetap hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga. Dalam keterangan resmi pada Rabu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan respons itu mencakup intervensi di pasar domestic non-deliverable forward, pasar spot, serta pembelian surat berharga negara.

Pergerakan rupiah belakangan menunjukkan koreksi, dengan acuan JISDOR dan transaksi pasar spot harian melemah dari Rp18.156 menjadi Rp18.184 per dolar U.S.. Menurut BI, tekanan depresiasi dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengangkat harga minyak mentah dunia, memperkuat dolar U.S. secara global, dan mendorong sentimen risk-off.

Erwin menyatakan memburuknya sentimen risk-off ikut memicu arus keluar modal dari pasar emerging markets. Pada saat yang sama, harga minyak yang bertahan di atas USD 115 per barel, kenaikan imbal hasil obligasi, dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat menambah tekanan pada pasar keuangan domestik.

Likuiditas valas dan ketahanan eksternal Indonesia

Di pasar dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga bertambah karena meningkatnya kebutuhan likuiditas valas korporasi menjelang akhir bulan. Sentimen kehati-hatian investor turut dipengaruhi kekhawatiran atas wacana penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.

Meski demikian, BI menilai daya tahan eksternal Indonesia tetap kuat. Cadangan devisa tercatat USD 146,3 miliar pada akhir September 2026, sementara depresiasi bulanan rupiah sebesar 1,15 persen dinilai secara umum masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah ke Rp17.938 per dolar AS, kami menyoroti bagaimana eskalasi risiko geopolitik di sekitar Selat Hormuz dan data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat sentimen risk-off. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dan volatilitas di pasar, sehingga menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah. Ulasan itu juga mencatat rupiah berpeluang bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah seiring sikap defensif investor dan meningkatnya kekhawatiran pada faktor eksternal.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.