Mengapa Sulit Berhenti Trading Setelah Rugi? | Riset TU
Catatan Editorial: Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, posting ini mungkin berisi referensi ke produk dari mitra kami. Berikut penjelasan tentang Bagaimana Kami Menghasilkan Uang. Tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan saran investasi sesuai dengan Penafian kami.
Riset TU mengkaji alasan trader ritel terus melakukan trading setelah mengalami kerugian finansial dan bagaimana hasil sebelumnya memengaruhi keputusan mereka. Data survei menunjukkan bahwa 38% melakukan trading yang didorong pemulihan kerugian, 29% meningkatkan ukuran posisi setelah kerugian beruntun, dan 34% trader dengan batas kerugian harian telah melampaui batas tersebut. Namun, 31% biasanya beristirahat setelah trading yang merugi, sementara 26% mengurangi ukuran posisi setelah rentetan kerugian. Temuan ini menyoroti ketegangan antara manajemen risiko yang disiplin dan keinginan untuk memulihkan kerugian sebelumnya.
Kehilangan uang adalah bagian yang tak terhindarkan dari trading, tetapi apa yang terjadi setelah kerugian bisa lebih penting daripada kerugian itu sendiri. Sebagian trader berhenti, mengevaluasi kembali strategi mereka, atau mengurangi eksposur. Yang lain segera membuka posisi lain dengan harapan dapat memulihkan uang mereka sebelum sesi trading berakhir.
Perilaku ini umumnya dikenal sebagai revenge trading. Hal ini terjadi ketika keinginan untuk memulihkan kerugian sebelumnya mulai memengaruhi keputusan trading, yang berpotensi menyebabkan posisi lebih besar, transaksi lebih sering, atau pelanggaran batas risiko yang telah ditetapkan.
Riset ini bertujuan menjawab pertanyaan-pertanyaan utama:
Apakah trader meningkatkan ukuran posisi setelah kerugian beruntun?
Mengapa trader terus melakukan trading setelah mengalami kerugian?
Apakah frekuensi trading meningkat setelah rentetan kerugian?
Apakah revenge trading berbeda di pasar Forex, kripto, CFD, dan opsi biner?
Temuan
Beberapa pola terlihat dari data Riset TU:
Trading yang didorong pemulihan kerugian memengaruhi minoritas yang signifikan. Sebanyak 38% melaporkan membuka setidaknya satu trading selama 90 hari sebelumnya terutama untuk memulihkan kerugian, meskipun trading tersebut tidak memenuhi kriteria entry normal mereka.
Beristirahat sejenak adalah respons langsung yang paling umum. Sebanyak 31% biasanya berhenti sejenak setelah kehilangan uang, dibandingkan dengan 18% yang langsung mencari transaksi lain untuk memulihkan kerugian.
Rentetan kerugian dapat mendorong pengambilan risiko yang lebih besar. Sebanyak 29% meningkatkan ukuran posisi setelah mengalami kerugian berturut-turut, sementara 26% mengurangi posisi mereka dan 24% menghentikan trading untuk sementara.
Batas kerugian harian tidak selalu dipatuhi. Di antara trader dengan batas yang telah ditentukan sebelumnya, 34% melaporkan tetap melanjutkan trading setelah mencapai batas mereka setidaknya sekali selama 90 hari sebelumnya.
Kerugian dapat meningkatkan frekuensi trading. Sebanyak 27% melakukan trading lebih sering setelah tiga kerugian berturut-turut, dibandingkan dengan 38% yang mengurangi aktivitas atau berhenti sementara.
Pemulihan bukan satu-satunya alasan trader melanjutkan trading. Sebanyak 39% dari mereka yang melanjutkan setelah mengalami kerugian menyebut peluang baru berbasis strategi, sementara 28% terutama ingin memulihkan uang yang hilang.
Trader opsi biner menunjukkan estimasi insidensi revenge trading tertinggi. Sebanyak 47% melaporkan trading yang didorong oleh keinginan untuk memulihkan kerugian, dibandingkan dengan 40% trader mata uang kripto, 35% trader forex, dan 30% trader CFD.
Batas risiko merupakan mekanisme penghentian utama. Sebanyak 32% menyatakan bahwa mencapai batas kerugian harian yang telah ditentukan sebagai alasan utama mereka berhenti, diikuti oleh frustrasi atau stres emosional sebesar 23%.

Peringatan Resiko: Trading forex memiliki resiko tinggi, dengan potensi kerugian termasuk seluruh deposit anda. Fluktuasi pasar, ketidakstabilan ekonomi, dan faktor geopolitik mempengaruhi hasil. Riset menunjukkan bahwa 70-80% trader kehilangan uang. Konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum berdagang.
Validasi institusional
Riset institusional menunjukkan bahwa kerugian trading dapat memengaruhi pengambilan risiko selanjutnya, sementara trading yang sering dan leverage dapat memperbesar kemunduran finansial.
European Securities and Markets Authority menelaah risiko trading ritel dalam laporan Trends, Risks and Vulnerabilities, Maret 2026. ESMA memperkirakan bahwa investor ritel pada produk leverage barrier di Uni Eropa mengalami imbal hasil bulanan rata-rata sekitar −1,1%. Regulator tersebut mengidentifikasi biaya trading, eksposur pasar yang diperbesar, dan penutupan posisi secara paksa sebagai kontributor penting terhadap hasil negatif. Meskipun laporan ini tidak secara langsung menelaah revenge trading, laporan tersebut menggambarkan risiko yang terkait dengan peningkatan eksposur setelah mengalami kerugian.
Dalam Do Behavioral Biases Affect Prices?, Coval dan Shumway (2005) mempelajari trader futures profesional di Chicago Board of Trade. Mereka menemukan bahwa trader yang kehilangan uang pada pagi hari secara rutin mengambil risiko di atas rata-rata selama trading sore hari. Ini memberikan bukti langsung bahwa kerugian sebelumnya dapat memengaruhi pengambilan risiko selanjutnya, bahkan di kalangan pelaku pasar berpengalaman.
Barber dan Odean menelaah trading berlebihan dalam Trading Is Hazardous to Your Wealth. Dengan menganalisis 66.465 akun pialang, mereka menemukan bahwa investor individu yang paling aktif memperoleh imbal hasil tahunan sebesar 11,4%, dibandingkan dengan 17,9% untuk pasar. Temuan mereka menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas trading dapat menurunkan kinerja investasi, terutama ketika biaya transaksi dan kepercayaan diri berlebihan memengaruhi keputusan.
Riset teoretis
Kecenderungan untuk terus melakukan trading setelah mengalami kerugian dapat dipahami melalui aversi terhadap kerugian, pengambilan keputusan yang bergantung pada titik referensi, dan keinginan untuk impas.
Kahneman dan Tversky memperkenalkan kerangka ini dalam Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk. Riset mereka menunjukkan bahwa orang mengevaluasi hasil keuangan relatif terhadap titik referensi, seperti investasi awal atau saldo akun mereka. Kerugian dapat memiliki bobot psikologis yang lebih besar daripada keuntungan yang setara, yang berpotensi memengaruhi preferensi risiko selanjutnya.
Sebagai contoh, seorang trader yang memulai dengan $2.000 dan kehilangan $200 mungkin akan berfokus untuk mengembalikan akun ke saldo awalnya. Alih-alih mengevaluasi transaksi berikutnya secara independen, trader tersebut mungkin memprioritaskan peluang yang dapat memulihkan seluruh kerugian.
Thaler dan Johnson menelaah mekanisme ini dalam Gambling with the House Money and Trying to Break Even. Eksperimen mereka menemukan bahwa kerugian sebelumnya dapat membuat peluang berisiko yang menawarkan kesempatan untuk impas menjadi sangat menarik. Hal ini membantu menjelaskan mengapa beberapa trader meningkatkan ukuran posisi atau membuka transaksi tambahan setelah kehilangan uang, bahkan ketika peluang baru tersebut tidak menawarkan imbal hasil ekspektasian yang lebih baik.
Mekanisme terkait lainnya adalah disposition effect. Dalam Are Investors Reluctant to Realize Their Losses?, Odean menemukan bahwa investor individu lebih bersedia merealisasikan keuntungan daripada kerugian. Meskipun mempertahankan posisi rugi berbeda dari revenge trading, kedua perilaku tersebut dapat mencerminkan keengganan untuk menerima hasil keuangan yang tidak menguntungkan.
Namun, terus melakukan trading setelah mengalami kerugian tidak selalu irasional. Trader yang mengikuti strategi yang telah ditentukan sebelumnya dapat secara sah membuka posisi lain. Perbedaannya terletak pada apakah keputusan tersebut didorong oleh peluang pasar baru atau oleh kebutuhan psikologis untuk memulihkan kerugian sebelumnya. Hal ini memberikan dasar teoretis untuk menelaah apakah trader ritel mengubah ukuran posisi, frekuensi trading, atau batas risiko mereka setelah mengalami kemunduran finansial.
Data survei
Untuk menelaah bagaimana kerugian trading memengaruhi keputusan ritel, kerangka TU Research mengeksplorasi perilaku setelah kerugian, motivasi pemulihan, ukuran posisi, frekuensi trading, dan disiplin manajemen risiko.
Metodologi
Studi ini dilakukan menggunakan survei online terstruktur berdasarkan metodologi CAWI.
Komposisi sampel: 1.350 investor ritel.
Cakupan: Amerika Utara, Eropa, Asia, Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah.
Usia: 18–60 tahun.
Kriteria partisipasi: responden yang saat ini berinvestasi atau memperdagangkan aset keuangan.
Tingkat kepercayaan statistik: 95%.
Estimasi deviasi sampel: ±2,7%.
Tim riset
Studi ini dilakukan oleh para ahli kami:
Anastasiia Chabaniuk (Penulis, riset TU) – desain dan interpretasi riset.
Chinmay Soni (Pemeriksa fakta) – validasi data dan verifikasi statistik.
Ciaran Ryan (Pemimpin Redaksi) – pengawasan editorial dan metodologis.
Tim riset TU (Andrey Mastykin, Oleg Tkachenko) – pengumpulan dan analisis data.
Bagaimana trader bereaksi segera setelah mengalami kerugian?
Responden diberikan pertanyaan tentang apa yang biasanya mereka lakukan segera setelah transaksi yang merugi.
| Respons | Persentase |
|---|---|
| Beristirahat sebelum mempertimbangkan transaksi lain | 31% |
| Melanjutkan trading sesuai strategi yang ada | 24% |
| Mencari transaksi lain untuk memulihkan kerugian | 18% |
| Mengurangi ukuran posisi berikutnya | 15% |
| Berhenti trading untuk sisa hari ini | 9% |
| Lainnya / tidak yakin | 3% |
Wawasan: Beristirahat adalah respons yang paling umum sebesar 31%, sementara 18% langsung mencari trading lain untuk memulihkan kerugian mereka. Namun, 24% melanjutkan sesuai strategi mereka, yang menunjukkan bahwa trading setelah mengalami kerugian tidak selalu mengindikasikan revenge trading.
Seberapa umum revenge trading?
Kuesioner ini mengukur seberapa sering trader membuka posisi selama 90 hari sebelumnya terutama untuk memulihkan kerugian, meskipun trading tersebut tidak sepenuhnya memenuhi kriteria entry mereka yang biasa.
Frekuensi trading yang didorong oleh pemulihan:
Tidak pernah – 57%;
Sekali – 17%;
Dua atau tiga kali – 14%;
Empat kali atau lebih – 7%;
Tidak ingat – 5%.

Wawasan: 38% melaporkan setidaknya satu kejadian trading yang didorong oleh pemulihan, sementara 21% melaporkan melakukannya setidaknya dua kali. Hal ini menunjukkan bahwa revenge trading dapat berkisar dari keputusan emosional sesekali hingga pola perilaku yang berulang.
Apakah trader meningkatkan ukuran posisi setelah kerugian beruntun?
Kuesioner ini menelaah bagaimana ukuran posisi berubah setelah dua atau lebih trading yang mengalami kerugian secara beruntun.
| Respons | Persentase |
|---|---|
| Meningkatkan ukuran posisi | 29% |
| Mempertahankan ukuran posisi | 18% |
| Mengurangi ukuran posisi | 26% |
| Berhenti trading sementara | 24% |
| Lainnya / tidak yakin | 3% |
Wawasan: Meningkatkan ukuran posisi merupakan respons individu yang paling umum, sebesar 29%. Namun, 50% memilih mengurangi posisi atau berhenti trading sementara, yang menunjukkan bahwa rentetan kerugian dapat mendorong perilaku mencari risiko maupun menghindari risiko.
Mengapa trader tetap melanjutkan trading setelah mengalami kerugian?
Trader yang biasanya tetap melanjutkan trading setelah mengalami kerugian diminta mengidentifikasi motivasi utama mereka.
Motivasi utama untuk melanjutkan trading:
Peluang baru sesuai dengan strategi saya – 39%;
Memulihkan uang yang baru saja saya rugikan – 28%;
Menghindari mengakhiri hari dengan kerugian – 15%;
Meyakini trade berikutnya lebih mungkin berhasil – 10%;
Trading adalah bagian dari jadwal rutin saya – 6%;
Lainnya / tidak yakin – 2%.

Wawasan: Peluang berbasis strategi menjadi motivasi utama sebesar 39%. Namun, 43% menyebut pemulihan kerugian atau menghindari hari yang merugi, yang menunjukkan bahwa hasil keuangan sebelumnya dapat memengaruhi keputusan berikutnya.
Apakah trader melanggar batas kerugian harian mereka?
Kuesioner ini meneliti apakah trader dengan batas kerugian harian yang telah ditetapkan sebelumnya tetap melanjutkan trading setelah mencapai batas tersebut selama 90 hari terakhir.
| Respons | Persentase |
|---|---|
| Tidak pernah | 61% |
| Sekali | 19% |
| Dua atau tiga kali | 11% |
| Empat kali atau lebih | 4% |
| Tidak ingat | 5% |
Wawasan: 34% trader dengan batas yang telah ditetapkan sebelumnya melaporkan melanggarnya setidaknya sekali. Hal ini menunjukkan bahwa menetapkan aturan manajemen risiko tidak selalu menjamin trader akan mematuhinya saat berada di bawah tekanan finansial.
Apakah frekuensi trading meningkat setelah rentetan kerugian?
Kuesioner ini menelaah bagaimana frekuensi trading berubah setelah tiga transaksi rugi berturut-turut.
Frekuensi trading setelah tiga kerugian berturut-turut:
Lebih sering trading – 27%;
Mempertahankan frekuensi normal – 22%;
Lebih jarang trading – 17%;
Berhenti trading sementara – 21%;
Bergantung pada kondisi pasar – 10%;
Tidak yakin – 3%.

Wawasan: 27% meningkatkan frekuensi trading setelah serangkaian kerugian, sementara 38% mengurangi aktivitas atau berhenti sementara. Ini menunjukkan bahwa kerugian tidak menghasilkan respons yang seragam: sebagian trader berupaya pulih lebih cepat, sementara yang lain menjadi lebih berhati-hati.
Apakah revenge trading berbeda di berbagai pasar?
Kerangka penelitian ini membandingkan trading yang didorong oleh keinginan untuk memulihkan kerugian berdasarkan pasar trading utama responden.
| Pasar | Persentase yang melaporkan revenge trading |
|---|---|
| Opsi biner | 47% |
| Cryptocurrency | 40% |
| Forex | 35% |
| CFD | 30% |
Wawasan: Trader opsi biner menunjukkan perkiraan prevalensi revenge trading tertinggi, yaitu 47%, diikuti oleh trader cryptocurrency sebesar 40%. Namun, perbedaan ini tidak membuktikan bahwa pasar tertentu menyebabkan revenge trading. Pengalaman trading, leverage, tingkat aktivitas, dan faktor lain dapat memengaruhi hasil.
Apa yang membuat trader berhenti setelah serangkaian kerugian?
Kuesioner ini menelaah faktor yang paling mungkin membuat trader berhenti setelah beberapa kerugian berturut-turut.
Alasan utama berhenti trading setelah kerugian:
Batas kerugian harian tercapai – 32%;
Stres emosional – 23%;
Kehilangan kepercayaan pada strategi – 17%;
Jumlah transaksi maksimum tercapai – 12%;
Modal trading tidak mencukupi – 9%;
Lanjutkan jika peluang masih ada – 5%;
Lainnya / tidak yakin – 2%.

Wawasan: Batas kerugian yang telah ditetapkan sebelumnya merupakan mekanisme penghentian utama sebesar 32%, diikuti oleh stres emosional sebesar 23%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian trader berhenti sesuai aturan yang telah ditetapkan, sementara yang lain baru bereaksi setelah mengalami tekanan psikologis.
Implikasi praktis bagi trader ritel
Kerugian trading tidak dapat dihindari, tetapi keputusan yang diambil segera setelahnya dapat menentukan apakah sebuah kemunduran tetap terbatas atau berkembang menjadi masalah keuangan yang lebih besar.
Pisahkan kerugian dari keputusan trading baru. Kerugian sebelumnya tidak membuat transaksi berikutnya lebih mungkin berhasil. Evaluasi setiap peluang secara independen.
Tetapkan kerugian harian maksimum. Tentukan batas kerugian yang dapat diterima sebelum trading dan hindari mengubahnya sebagai respons terhadap frustrasi.
Hindari meningkatkan ukuran posisi semata-mata untuk memulihkan uang. Posisi yang lebih besar dapat mempercepat pemulihan, tetapi juga meningkatkan potensi kerugian.
Kenali pemicu emosional. Rasa mendesak, frustrasi, dan keinginan untuk mengakhiri sesi tanpa kerugian dapat memengaruhi pengambilan risiko.
Pantau frekuensi trading. Transaksi tambahan meningkatkan eksposur terhadap spread, komisi, dan risiko pasar tanpa menjamin kinerja yang lebih baik.
Gunakan kriteria masuk dan keluar secara tertulis. Rencana trading yang telah ditetapkan sebelumnya dapat membantu membedakan peluang yang sah dari keputusan yang didorong oleh pemulihan kerugian.
Pertimbangkan untuk beristirahat setelah mengalami kerugian berturut-turut. Jeda dapat memberi waktu untuk menilai kembali kondisi pasar dan menghindari keputusan impulsif.
Evaluasi profitabilitas bersih, bukan kemenangan individual. Kinerja trading seharusnya mencerminkan biaya transaksi, risiko posisi, dan konsistensi jangka panjang.
Memilih broker dengan kondisi trading yang kompetitif tidak mencegah revenge trading atau menjamin hasil yang lebih baik. Namun, memahami biaya transaksi dan persyaratan leverage dapat membantu trader menilai konsekuensi finansial dari melakukan transaksi tambahan setelah mengalami kerugian.
| OANDA | Plus500 | FOREX.com | IG Markets | Interactive Brokers | Blackbird | |
|---|---|---|---|---|---|---|
|
Deposit Min., $ |
Tidak | 100 | 100 | 1 | Tidak | 1 |
|
Maks. Leverage |
1:200 | 1:300 | 1:50 | 1:200 | 1:30 | 1:30 |
|
Spread EUR/USD standar |
0.3 | 0.7 | 1.0 | 0.9 | 0.5 | 0.3 |
|
Biaya setoran, % |
Tidak | Tidak | Tidak | Tidak | Tidak | Tidak |
|
Biaya penarikan, % |
Tidak | Tidak | Tidak | Tidak | Ya | Tidak |
|
Tingkat regulasi maks. |
Tier-1 | Tier-1 | Tier-1 | Tier-1 | Tier-1 | Tier-1 |
|
Skor keseluruhan TU |
6.69 | 7.7 | 6.52 | 6.42 | 6.88 | 6.06 |
|
Buka akun |
Ke broker Modal Anda berisiko. |
Ke broker 81% akun CFD ritel merugi. |
Tinjauan studi | Tinjauan studi | Tinjauan studi | Tinjauan studi |
Sumber data dan metodologi
European Securities and Markets Authority. Tren, Risiko, dan Kerentanan, No. 1, 2026. Maret 2026. Analisis produk investasi ritel berleverage, biaya trading, penutupan posisi paksa, dan kerugian investor.
Coval, J. D. & Shumway, T. Apakah Bias Perilaku Memengaruhi Harga?. The Journal of Finance, 60(1), 2005, hlm. 1–34. Riset empiris tentang aversi terhadap kerugian dan pengambilan risiko selanjutnya di kalangan trader futures profesional.
Barber, B. M. & Odean, T. Trading Is Hazardous to Your Wealth: The Common Stock Investment Performance of Individual Investors. The Journal of Finance, 55(2), 2000, hlm. 773–806. Analisis aktivitas trading dan imbal hasil investasi di 66.465 akun pialang.
Kahneman, D. & Tversky, A. Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk. Econometrica, 47(2), 1979, hlm. 263–291. Riset dasar tentang pengambilan keputusan keuangan yang bergantung pada titik referensi dan aversi terhadap kerugian.
Thaler, R. H. & Johnson, E. J. Gambling with the House Money and Trying to Break Even: The Effects of Prior Outcomes on Risky Choice. Management Science, 36(6), 1990, hlm. 643–660. Bukti eksperimental mengenai hasil sebelumnya dan pengambilan risiko untuk mencapai titik impas.
Odean, T. Are Investors Reluctant to Realize Their Losses?. The Journal of Finance, 53(5), 1998, hlm. 1775–1798. Riset empiris tentang efek disposisi.
IdSurvey. Metodologi CAWI.
Volume sebelumnya dalam seri ini
Kimpulan
Riset mendalam ini menegaskan bahwa salah satu tantangan utama trader ritel bukan sekadar menanggung kerugian, melainkan mengelola reaksi emosional pasca-kerugian agar tidak terjebak dalam revenge trading. Temuan survei menunjukkan lebih dari sepertiga responden cenderung melanggar batas risiko atau meningkatkan ukuran posisi dalam upaya memulihkan kerugian, bahkan ketika keputusan tersebut tidak sepenuhnya rasional. Contoh nyata, sekitar 29% trader justru memperbesar posisi setelah rugi beruntun, memperlihatkan betapa sulitnya memisahkan emosi dari strategi investasi yang mindful. Dengan demikian, memahami dan mengendalikan dorongan impulsif setelah kerugian adalah kunci menjaga konsistensi dan keberlanjutan profitabilitas trading dalam jangka panjang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa peran rutinitas dalam keputusan trader untuk terus trading setelah kerugian?
Bagaimana pengaruh kerugian berturut-turut terhadap perubahan ukuran posisi trader?
Seberapa besar kemungkinan trader meningkatkan frekuensi trading setelah rentetan kerugian?
Apa motivasi utama trader saat tetap melanjutkan trading pasca kerugian, selain upaya memulihkan dana?
Pilihan Utama dan Rekomendasi Editor
Artikel Terkait
Tim yang Mengerjakan Artikel Ini
Anastasiia memiliki 17 tahun pengalaman dalam bidang keuangan dan pemasaran konten. Ia percaya bahwa dukungan informasi dan pendapat ahli sangat penting untuk kesuksesan investor dan trader pemula.