Harga pangan Jakarta bergerak mixed, cabai rawit merah tembus Rp103.250 per kg
Pergerakan harga pangan di Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026, menunjukkan penurunan pada sejumlah komoditas bumbu dapur di tengah kenaikan pada beberapa jenis beras dan cabai. Kenaikan harga cabai tetap menjadi sorotan karena terjadi saat bawang merah dan bawang putih justru melemah dibanding hari sebelumnya.
Sorotan
- Cabai rawit merah naik signifikan dan menembus Rp103.250 per kg, menandai level harga tertinggi di kelompok hortikultura Jakarta.
- Harga beras kualitas bawah I naik 0,34 persen ke Rp14.950 per kg, sementara sebagian besar varian beras lain stagnan.
- Bawang merah turun 0,4 persen ke Rp37.100 per kg dan bawang putih turun 0,13 persen ke Rp38.550 per kg, meredakan tekanan pada komoditas utama.
Pergerakan harga komoditas harian
Menurut Okezone Economy, menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional Bank Indonesia, harga bawang merah turun 0,4 persen menjadi Rp37.100 per kg, sedangkan bawang putih turun 0,13 persen menjadi Rp38.550 per kg. Pada kelompok beras, beras kualitas bawah I naik 0,34 persen menjadi Rp14.950 per kg, sementara beras kualitas bawah II stagnan di Rp14.750 per kg.Beras medium I tercatat naik 0,3 persen menjadi Rp16.650 per kg, sedangkan beras medium II tidak berubah dari hari sebelumnya di Rp16.450 per kg. Untuk beras kualitas super, harga super I dan super II juga belum mengalami perubahan, masing-masing berada di Rp17.950 per kg dan Rp17.400 per kg.
Di kelompok hortikultura, cabai merah besar naik 1,3 persen menjadi Rp75.850 per kg. Sebaliknya, cabai merah keriting turun 0,17 persen menjadi Rp87.100 per kg.
Dampak pada belanja konsumen
Data ini menunjukkan tekanan harga pangan belum merata di seluruh komoditas, dengan pola kenaikan masih terlihat pada produk yang sensitif terhadap pasokan seperti cabai dan beberapa jenis beras. Bagi rumah tangga, kondisi ini berarti pengeluaran kebutuhan pokok masih berpotensi tertekan meski sebagian bahan pangan mengalami koreksi harga.Pergerakan yang bercampur juga mencerminkan pasar pangan harian yang tetap fluktuatif, sehingga perubahan pasokan dan distribusi dapat langsung memengaruhi harga eceran. Dalam konteks ini, level harga cabai yang tinggi tetap menjadi faktor utama yang dapat membebani konsumsi masyarakat.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang penguatan logistik nasional lewat Perpres Nomor 41 Tahun 2026, kami mengulas mandat pemerintah untuk menekan biaya logistik secara bertahap hingga 8% dari PDB melalui penguatan konektivitas, digitalisasi, dan peningkatan SDM. Kebijakan ini diposisikan sebagai kunci efisiensi distribusi barang, yang pada akhirnya dapat memengaruhi keterjangkauan dan stabilitas harga komoditas di tingkat konsumen.
Berita Commodities Terbaru
- Forex
- Crypto