Circle Bidik Ekspansi USDC ke 40 Pasar Baru

Circle Bidik Ekspansi USDC ke 40 Pasar Baru
Rencana ambisius Circle

​Circle, penerbit USDC—stablecoin terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar—berencana memperluas kehadirannya ke sekitar 40 negara berkembang. Ekspansi ini terutama menyasar Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah, tempat permintaan terhadap digital dollar terus meningkat.

Artikel ini diterjemahkan dari aslinya. Baca versi asli oleh koresponden kami di sini.

CEO Circle Jeremy Allaire membahas rencana tersebut dalam wawancara dengan Reuters di sela-sela pertemuan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia di Bangkok. Menurutnya, industri blockchain berada di titik balik, beralih dari adopsi oleh kelompok pengguna yang relatif kecil menuju penggunaan secara mainstream.

"Kami sedang melalui titik perubahan...sebuah transisi saat ini, dan transisi tersebut pada dasarnya adalah peralihan dari fase early adopter teknologi blockchain menuju fase penskalaan mainstream," ujar Allaire.

Circle memperluas kehadiran globalnya

Menurut CEO perusahaan tersebut, permintaan terhadap stablecoin tumbuh secara organik di negara-negara berkembang. Individu dan bisnis semakin memandang digital dollar sebagai sarana transfer internasional, pembayaran, dan partisipasi dalam ekonomi digital global.

Untuk mempercepat ekspansinya, Circle sepakat mengakuisisi perusahaan pembayaran Tazapay senilai $400 juta. Perusahaan tersebut juga menerima investasi strategis senilai $100 juta dari crypto exchange Binance.

Circle saat ini menguasai sekitar 25% pasar stablecoin global, sementara pesaing utamanya, Tether, menguasai hampir 60% melalui token USDT. Pada kuartal kedua 2026, peredaran USDC meningkat 19% secara tahunan menjadi $73,3 miliar.

Bank mulai memasuki pasar stablecoin

Allaire memandang perkembangan regulasi sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan. Secara khusus, GENIUS Act di AS, yang diperkirakan mulai berlaku pada Januari 2027, akan menetapkan aturan bagi penerbit payment stablecoin.

"Ketika Genius Act menjadi undang-undang, dunia akan memiliki digital dollar yang sah secara hukum...Itu adalah momen bersejarah," ujar CEO Circle tersebut.

Pada Juli, Circle menjadi salah satu penerbit stablecoin pertama yang memperoleh federal banking charter di Amerika Serikat. Sementara itu, bank-bank besar di AS dan Eropa mempercepat pengembangan stablecoin dan solusi aset digital mereka sendiri.

Allaire menyambut baik meningkatnya persaingan tersebut. Menurutnya, lembaga keuangan tradisional secara bertahap kehilangan kendali yang selama ini mereka miliki atas layanan pembayaran.

"Selama kurun waktu yang sangat, sangat panjang, industri perbankan berhasil mencegah pihak lain masuk, dan saya pikir mereka tidak lagi memegang kendali, sementara para inovator kini mendapatkan momennya," ujarnya.

AI agent menjadi sumber permintaan baru

Area menjanjikan lainnya bagi Circle adalah pembayaran antar-AI agent. Program-program ini dapat secara mandiri membayar informasi, analisis data, dan akses ke layanan online. Setiap transaksi dapat berbiaya sepersekian sen.

Untuk mendukung pembayaran tersebut, Circle menyediakan infrastruktur blockchain miliknya sendiri, Arc. Reuters menyebut BlackRock, Visa, dan Standard Chartered sebagai perusahaan yang menggunakan solusinya. Lembaga keuangan besar juga secara bertahap beralih dari sekadar menguji stablecoin menuju penerapan praktis dalam penyelesaian lintas negara dan transfer aset.

Namun, perkembangan AI yang pesat juga menciptakan risiko tambahan. Allaire memperingatkan bahwa penyedia infrastruktur keuangan menghadapi ancaman yang semakin besar dari pihak jahat yang menggunakan sistem otomatis canggih dan kawanan AI agent.

"Jika Anda tidak mengkhawatirkannya, berarti Anda sedang mengabaikan kenyataan, bukan?” ujarnya.

Karena itu, Circle bertujuan memperkuat posisi USDC di sejumlah area, termasuk pembayaran internasional, layanan keuangan tradisional, dan transaksi antar-AI agent. Pada saat yang sama, ekspansi berkelanjutan ini akan menghadirkan persaingan yang lebih ketat, baik dari penerbit stablecoin lain maupun bank-bank terbesar di dunia.

Mengapa Circle tidak takut bersaing dengan Tether

Meski tertinggal jauh dari Tether dalam pangsa pasar, Circle berharap memperkuat posisi USDC dengan berfokus pada kepatuhan regulasi. Pada Juli 2024, perusahaan tersebut menjadi penerbit stablecoin global pertama yang memenuhi ketentuan Markets in Crypto-Assets Regulation (MiCA) Uni Eropa. Hal ini memungkinkan USDC mempertahankan akses ke pasar UE yang teregulasi dan membuatnya lebih menarik bagi bank serta lembaga keuangan besar.

Tether mengambil pendekatan berbeda dengan menolak menyesuaikan USDT terhadap persyaratan MiCA, yang dinilai manajemennya terlalu membatasi. Akibatnya, exchange cryptocurrency besar mulai menghapus pair trading USDT bagi nasabah di Kawasan Ekonomi Eropa pada 2025. Misalnya, Binance menghentikan perdagangan tersebut pada akhir Maret, tetapi tetap mengizinkan pengguna menyimpan dan menarik token tersebut. Hal ini menciptakan peluang tambahan bagi Circle untuk memperluas kehadirannya di Eropa, meskipun peredaran USDT masih jauh melampaui USDC.

Sebagai pengingat, UE telah mengakui USDC sebagai aset yang penting secara sistemik berdasarkan MiCA.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.