Kelas menengah Indonesia hadapi risiko jatuh miskin akibat guncangan ekonomi

Kelas menengah Indonesia hadapi risiko jatuh miskin akibat guncangan ekonomi
Kelas menengah terancam miskin

Kerentanan finansial rumah tangga kelas menengah di Indonesia menjadi sorotan di tengah tekanan biaya hidup dan lemahnya perlindungan sosial. Kondisi ini membuat banyak keluarga dinilai hanya berjarak satu musibah, seperti sakit berat atau kehilangan pekerjaan, dari kemiskinan.

Sorotan

  • Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky menyebut mayoritas kelas menengah Indonesia sangat rentan secara ekonomi, hanya satu guncangan dari kemiskinan.
  • Biaya pengobatan penyakit berat dan pergeseran ke pekerjaan tak menentu setelah PHK menjadi pemicu utama rumah tangga kelas menengah jatuh miskin.
  • Fenomena sandwich generation dan lemahnya jaring pengaman sosial mendorong risiko penurunan kelas ekonomi dan kemiskinan antargenerasi pada rumah tangga usia produktif.

Kerentanan kelas menengah dan pemicu utamanya

Seperti diberitakan Kompas.com, peneliti makroekonomi LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai sebagian besar masyarakat Indonesia berada dalam posisi rentan secara ekonomi, atau hanya satu guncangan dari kemiskinan. Dalam acara Pasar Gagasan "Indonesia, Besok" di Menara Kompas, Jakarta Barat, Rabu (28/10/2026), ia menggambarkan kondisi itu dengan istilah one accident away from being poor.

Riefky menjelaskan keluarga kelas menengah yang selama ini masih mampu memenuhi kebutuhan hidup dapat kehilangan stabilitas keuangan ketika harus menanggung biaya pengobatan untuk anggota keluarga dengan penyakit berat, termasuk kebutuhan perawatan kanker. Menurut dia, tekanan semacam itu tidak hanya mendorong rumah tangga jatuh miskin, tetapi juga berisiko mewariskan kemiskinan ke generasi berikutnya.

Ia juga menyoroti pergeseran ke pekerjaan yang tidak menentu setelah pemutusan hubungan kerja. Untuk menggambarkan hal itu, Riefky mengangkat contoh Burhan, seorang lulusan perguruan tinggi negeri yang pernah bekerja sebagai manajer di perusahaan multinasional, tetapi kemudian beralih menjadi pengemudi ojek online setelah perusahaan tempatnya bekerja tutup dan melakukan PHK massal.

Dampak beban antargenerasi pada perlindungan sosial

Menurut Riefky, tekanan ekonomi kelas menengah juga terkait dengan fenomena sandwich generation, ketika satu orang harus menanggung kebutuhan hidup dua hingga tiga generasi sekaligus. Dalam contoh yang ia sampaikan, Burhan tidak hanya membiayai dirinya sendiri, tetapi juga dua anak dan orang tuanya, sementara penghasilannya sebagai pengemudi ojek online sangat terbatas.

Ia menilai kondisi tersebut muncul antara lain karena jaring pengaman sosial belum cukup kuat untuk menjamin kehidupan masyarakat di masa tua. Akibatnya, kebutuhan hidup orang tua masih banyak dibebankan kepada generasi berikutnya, yang pada akhirnya memperbesar risiko penurunan kelas ekonomi pada rumah tangga usia produktif.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang penguatan layanan pembayaran pensiun oleh Bank Aladin Syariah lewat kolaborasi dengan Taspen, kami mengulas upaya bank digital ini mendorong penggunaan rekening untuk transaksi harian sekaligus menjaga keandalan penyaluran dana pensiun. Kami juga menyoroti bagaimana perluasan kemitraan dan kesiapan operasional menjadi penting karena skema dan tata kelola pembayaran pensiun dapat memengaruhi ketenangan finansial pensiunan serta beban keluarga di usia produktif.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.