Alumni LPDP pertanyakan serapan kerja lulusan luar negeri di Indonesia

Alumni LPDP pertanyakan serapan kerja lulusan luar negeri di Indonesia
LPDP alumni question jobs

Unjuk rasa mahasiswa Universitas Trisakti di kawasan Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis ikut menarik perhatian alumni penerima beasiswa LPDP yang menilai kepulangan mereka ke Indonesia tidak diiringi kondisi kerja dan kualitas hidup yang memadai. Seorang lulusan magister dari Eropa yang ikut aksi menyebut keterbatasan lapangan kerja, buruknya kualitas udara, dan minimnya fasilitas publik sebagai sumber keresahan setelah kembali ke Tanah Air.

Sorotan

  • Alumni LPDP seperti Jenny mengeluhkan kesulitan serapan kerja di Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan magister di Eropa, meski diwajibkan pulang.
  • Jenny menilai kualitas udara buruk di Jakarta berdampak negatif pada kesehatan dan menambah keresahan lulusan luar negeri menetap kembali di Tanah Air.
  • Sempitnya lapangan pekerjaan bagi lulusan magister luar negeri menambah sorotan pada efektivitas program LPDP dalam mendukung pembangunan nasional melalui pemulangan awardee.

Keluhan alumni LPDP dalam aksi Trisakti

Seperti diberitakan Kompas.com, seorang alumni LPDP bernama samaran Jenny ikut bergabung dalam demonstrasi mahasiswa Trisakti di Jakarta Pusat sambil membawa poster bertuliskan "I Came Back For This? LPDP Awardee". Alumni sarjana Universitas Trisakti yang menyelesaikan studi magister di Eropa itu mengatakan penerima beasiswa LPDP diwajibkan pulang ke Indonesia dengan komitmen pengabdian, tetapi kepulangan tersebut justru dihadapkan pada berbagai persoalan ekonomi dan sosial.

Jenny mengatakan para awardee pulang dengan harapan dapat berkontribusi bagi negara, namun menghadapi keresahan karena kondisi di dalam negeri dinilai belum mendukung. Ia juga membandingkan kualitas udara dan fasilitas publik di Jakarta dengan lingkungan selama menempuh pendidikan di Eropa, yang menurutnya lebih baik untuk belajar dan berkembang.

Menurut Jenny, kondisi udara di Jakarta bahkan berdampak langsung pada kesehatannya setelah kembali ke Indonesia. Ia mengaku mengalami bronkitis dan menilai situasi itu menambah alasan mengapa sebagian lulusan luar negeri merasa tidak nyaman saat kembali menetap di Tanah Air.

Tekanan pasar kerja bagi lulusan magister

Selain persoalan lingkungan, Jenny menyoroti sempitnya lapangan pekerjaan bagi dirinya dan rekan-rekan sesama lulusan luar negeri. Ia mengatakan gelar magister dari kampus Eropa tidak otomatis mempermudah akses ke pekerjaan yang sesuai di Indonesia, meski akhirnya ia mengaku baru mendapatkan pekerjaan.

Menurut dia, pasar tenaga kerja saat ini masih sulit, termasuk bagi lulusan magister yang diharapkan membawa keahlian baru untuk mendukung perkembangan Indonesia. Ia menduga keterbatasan peluang kerja itu berkaitan dengan pengelolaan anggaran negara yang dinilai belum tepat sasaran, sehingga berdampak pada terbatasnya perekrutan di institusi pemerintah maupun perusahaan swasta.

Keluhan tersebut menambah dimensi ekonomi dan ketenagakerjaan dalam aksi mahasiswa Trisakti, yang tidak hanya memuat tuntutan politik tetapi juga menyoroti tantangan serapan tenaga kerja terdidik di Indonesia. Bagi program seperti LPDP, isu itu dapat menjadi sorotan karena menyangkut efektivitas pemulangan penerima beasiswa untuk mendukung pembangunan nasional.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang kesenjangan antara visi kebijakan dan kapasitas birokrasi, kami menyoroti bagaimana sejumlah program prioritas menghadapi kendala operasional, pengawasan, dan kesiapan SDM—mulai dari Makan Bergizi Gratis hingga koperasi desa. Kami juga mengulas bahwa lemahnya kapasitas layanan dasar dan infrastruktur berisiko membuat capaian administratif tidak berbanding lurus dengan hasil nyata yang dirasakan masyarakat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.