Bank Indonesia tingkatkan intervensi saat rupiah melemah ke Rp18.041 per dolar U.S.
Tekanan eksternal dan kebutuhan likuiditas musiman di dalam negeri mendorong rupiah terus melemah hingga menembus level Rp18.000 per dolar U.S. Pada pukul 12.52 WIB, data Bloomberg menunjukkan mata uang Indonesia turun 0,41% ke Rp18.041, di tengah permintaan dolar U.S. untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.
Sorotan
- Nilai tukar rupiah melemah ke Rp18.041 per dolar U.S. akibat eskalasi geopolitik Timur Tengah, kebutuhan dolar domestik, dan repatriasi dividen.
- Bank Indonesia meningkatkan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward, spot, DNDF, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.
- BI memperkuat struktur suku bunga pro-pasar dan koordinasi dengan pelaku pasar guna menjaga daya tarik aset domestik serta stabilitas rupiah.
Faktor pelemahan dan respons kebijakan
Menurut Okezone, dalam keterangan resmi Bank Indonesia, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah serta kebutuhan dolar U.S. domestik yang masih tinggi. Kondisi itu, menurut dia, menahan prospek perdamaian, menjaga harga minyak tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi global, dan mendorong arus dana keluar dari negara berkembang.Destry menambahkan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri ikut memperbesar kebutuhan valuta asing di pasar domestik. Kombinasi faktor global dan musiman tersebut menjadi pendorong utama tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini.
BI menyatakan terus mengawal pergerakan pasar secara real-time dan mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan agar volatilitas tetap berada dalam batas toleransi fundamental. Otoritas moneter itu juga menegaskan akan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-pasar untuk menjaga daya tarik aset domestik bagi aliran modal masuk.
Dampak pasar dan langkah intervensi
Untuk menjaga stabilitas kurs, BI menyebut intervensi dilakukan secara berkesinambungan dan konsisten melalui instrumen di pasar domestik maupun offshore. Langkah yang disiapkan mencakup transaksi Non-Deliverable Forward di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.Bank sentral juga memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar lainnya guna menjaga mekanisme pasar tetap berjalan baik. Pendekatan berlapis ini menunjukkan fokus BI tidak hanya pada penahanan volatilitas jangka pendek, tetapi juga pada upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, kami menyoroti tekanan pasar yang memicu pelemahan rupiah hingga sekitar Rp18.025, disertai koreksi IHSG sekitar 3,04 persen. Kami juga mengulas dorongan agar kebijakan fiskal dan moneter lebih terpadu melalui KSSK, serta faktor sentimen dan isu domestik yang dinilai menambah volatilitas di pasar valas.
Berita Iran war Terbaru
- Forex
- Crypto