Prabowo evaluasi tekanan rupiah saat kurs menembus Rp 18.000 per U.S. dollar
Pelemahan rupiah ke level terendah mendorong perhatian baru terhadap respons pemerintah di tengah tekanan pasar keuangan domestik. Di Jakarta pada Jumat, pejabat istana menyatakan Presiden Prabowo Subianto terus melakukan evaluasi, sementara rincian langkah lanjutan belum disampaikan.
Sorotan
- Rupiah menembus Rp 18.000 per U.S. dollar dan Presiden Prabowo Subianto terus melakukan evaluasi atas pelemahan tersebut.
- Pada 4 Juni 2026 pukul 06.45 WIB, rupiah mencapai level terlemah sepanjang sejarah di Rp 18.015 per U.S. dollar menurut Investing.
- Pelemahan rupiah meningkatkan sorotan pada koordinasi fiskal dan moneter karena berpotensi memengaruhi biaya impor, inflasi, dan sentimen pasar Indonesia.
Respons istana atas tekanan kurs
Seperti dilaporkan Kompas.com, Kepala Badan Komunikasi Muhammad Qodari mengatakan Presiden Prabowo Subianto terus melakukan evaluasi setelah rupiah menembus Rp 18.000 per U.S. dollar. Pernyataan itu disampaikan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat, saat ia menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan rapat internal di Istana untuk membahas pelemahan mata uang tersebut.Qodari tidak menjelaskan lebih lanjut langkah yang akan diambil pemerintah. Ia meminta pertanyaan mengenai kondisi nilai tukar rupiah diarahkan kepada Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia.
Ia juga menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan perombakan kabinet di tengah isu pelemahan rupiah. Menurut Qodari, keputusan reshuffle merupakan hak prerogatif Presiden.
Rekor pelemahan rupiah dan implikasinya
Berdasarkan data Investing, rupiah pada Kamis, 4 Juni 2026 pukul 06.45 WIB sempat mencapai Rp 18.015 per U.S. dollar, melemah sekitar 90 poin dari penutupan sebelumnya di Rp 17.925. Sementara itu, data Google Finance menunjukkan rupiah sempat menyentuh Rp 18.022 per U.S. dollar pada malam sebelumnya.Level tersebut disebut sebagai titik terlemah rupiah sepanjang sejarah. Tekanan kurs pada kisaran itu menambah sorotan terhadap koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, karena pelemahan mata uang berpotensi memengaruhi biaya impor, inflasi, dan sentimen pelaku pasar di Indonesia.
Sebelumnya, kami menyoroti klarifikasi Istana terkait rumor reshuffle kabinet di tengah tekanan rupiah yang menembus Rp 18.000 per dollar AS. Dalam laporan itu, pemerintah menegaskan tidak ada rencana pergantian Menteri Keuangan dan menekankan pentingnya koordinasi Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, serta Kemenko Perekonomian untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar.
Berita AUD/USD Terbaru
- Forex
- Crypto