Bank Mandiri catat pertumbuhan laba dan kredit hingga Mei 2026
Menjelang akhir kuartal II-2026, PT Bank Mandiri Indonesia Tbk mempertahankan pertumbuhan profitabilitas dengan laba bersih bank only mencapai Rp 23,31 triliun hingga Mei 2026. Kinerja itu ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih, penurunan beban impairment, dan ekspansi kredit serta dana pihak ketiga yang tetap tumbuh dua digit.
Sorotan
- Bank Mandiri mencatat pertumbuhan laba 18,64% yoy hingga Mei 2026, didorong pendapatan bunga bersih naik 9,97% yoy menjadi Rp 34,85 triliun.
- Penyaluran kredit tumbuh 20,56% yoy menjadi Rp 1.578,94 triliun dan aset naik 19,96% yoy menjadi Rp 2.306,26 triliun sampai Mei 2026.
- Dana pihak ketiga meningkat 22% yoy menjadi Rp 1.716,31 triliun, dengan deposito melonjak 57,01% yoy menjadi Rp 493,79 triliun hingga Mei 2026.
Pendorong kinerja hingga Mei 2026
KONTAN melaporkan, pertumbuhan laba Bank Mandiri hingga Mei 2026 mencapai 18,64% secara tahunan, sedikit melandai dari pertumbuhan 18,85% yoy pada April 2026, tetapi tetap menunjukkan laju profitabilitas yang kuat menjelang penutupan kuartal II-2026.Pendapatan bunga bersih bank naik 9,97% yoy menjadi Rp 34,85 triliun. Kenaikan itu didukung pendapatan bunga yang tumbuh 5,77% yoy menjadi Rp 52,77 triliun, sementara beban bunga turun 1,54% yoy menjadi Rp 17,91 triliun.
Dari sisi operasional, beban impairment turun 15,83% yoy menjadi Rp 3,21 triliun dan ikut mendorong beban operasional turun 18,08% yoy menjadi Rp 6,21 triliun. Pada saat yang sama, beban tenaga kerja susut 10,68% yoy menjadi Rp 7,15 triliun, sedangkan pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi naik 24,44% yoy menjadi Rp 9,36 triliun, sehingga laba operasional tumbuh 18,78% yoy menjadi Rp 28,64 triliun.
Pertumbuhan kredit dan struktur dana
Di sisi intermediasi, penyaluran kredit Bank Mandiri tumbuh 20,56% yoy menjadi Rp 1.578,94 triliun hingga Mei 2026. Total aset bank juga meningkat 19,96% yoy menjadi Rp 2.306,26 triliun, mencerminkan ekspansi neraca yang masih kuat.Dana pihak ketiga tumbuh 22% yoy menjadi Rp 1.716,31 triliun, namun pertumbuhannya masih ditopang dana mahal. Giro naik 14,32% yoy menjadi Rp 663,76 triliun, tabungan bertambah 9,2% yoy menjadi Rp 558,75 triliun, sementara deposito melonjak 57,01% yoy menjadi Rp 493,79 triliun.
Komposisi penghimpunan dana itu menunjukkan likuiditas tetap bertambah, tetapi dengan ketergantungan yang lebih besar pada deposito. Bagi sektor perbankan, pola ini menandakan persaingan dana masih berlangsung meski Bank Mandiri tetap mampu menjaga pertumbuhan laba dan pembiayaan.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang fundamental perbankan nasional hingga April 2026, kami menyoroti bahwa industri perbankan dinilai tetap tangguh meski ketidakpastian global masih tinggi. Saat itu, pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga masih terjaga, disertai likuiditas yang memadai dan kualitas aset yang stabil, sehingga bank memiliki ruang untuk terus menyalurkan pembiayaan sambil memperkuat mitigasi risiko eksternal.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto