Bank DBS Indonesia dorong strategi pengelolaan kekayaan jangka panjang di tengah volatilitas rupiah
Di tengah ketidakpastian nilai tukar rupiah dan kondisi ekonomi global, pengelolaan kekayaan jangka panjang semakin menuntut strategi yang disesuaikan dengan tujuan pada tiap fase kehidupan. Pendekatan ini mencakup diversifikasi lintas aset dan mata uang, serta penyesuaian portofolio seiring perubahan kebutuhan, jangka waktu, dan toleransi risiko investor.
Sorotan
- Bank DBS Indonesia menekankan pentingnya diversifikasi portofolio dengan mempertimbangkan eksposur mata uang asing untuk memitigasi volatilitas nilai tukar rupiah.
- Data April 2026 menunjukkan 54,63% investor individu berusia di bawah 30 tahun, sementara aset terbesar C-BEST dan S-INVEST dikuasai kelompok usia 31–40 tahun.
- Bank DBS Indonesia menyarankan investor muda memulai investasi rutin sejak dini agar efek compounding mendorong akumulasi kekayaan jangka panjang di tengah perubahan profil risiko.
Strategi diversifikasi untuk tiap fase hidup
KONTAN melaporkan, PT Bank DBS Indonesia menekankan bahwa wealth management perlu dilakukan secara menyeluruh, terutama bagi investor affluent yang berfokus pada pembangunan aset, penjagaan nilai kekayaan, dan transfer kekayaan antargenerasi. Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo mengatakan diversifikasi membantu menyebarkan risiko, dengan saham untuk pertumbuhan, obligasi untuk stabilitas, serta emas atau properti sebagai alternatif.Bank DBS Indonesia juga menilai diversifikasi perlu mempertimbangkan eksposur mata uang asing. Perubahan kurs rupiah dapat memengaruhi nilai aset yang ditempatkan dalam SGD maupun USD, sehingga komposisi portofolio perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing nasabah.
Data per April 2026 menunjukkan 54,63% investor individu berusia di bawah 30 tahun, sementara nilai aset C-BEST dan S-INVEST terbesar berada pada kelompok usia 31 hingga 40 tahun. Kondisi itu menunjukkan kebutuhan investasi berubah seiring usia, termasuk pada tujuan, horizon waktu, dan kemampuan menanggung risiko.
Dampak bagi pasar wealth management Indonesia
Pada usia 20-an, fokus utama dinilai berada pada wealth accumulation, yaitu membangun kekayaan secara bertahap dengan memanfaatkan waktu dan efek compounding. Bank DBS Indonesia mencontohkan investor muda dapat memulai dari nominal kecil yang disisihkan setiap bulan setelah dana darurat tersedia, agar hasil investasi yang diinvestasikan kembali berpotensi mendorong pertumbuhan berikutnya.Memasuki usia 30-an dan 40-an, kebutuhan keuangan menjadi lebih berlapis, mulai dari uang muka rumah, pendidikan anak, hingga persiapan pensiun dan warisan. Dalam fase ini, instrumen yang stabil dan likuid dapat digunakan untuk kebutuhan jangka menengah, sementara instrumen pertumbuhan dapat dipadukan untuk tujuan jangka panjang.
Bank DBS Indonesia menilai evaluasi portofolio menjadi semakin penting pada usia 40-an karena tujuan finansial dan toleransi risiko dapat berubah. Kombinasi saham dan obligasi dapat membantu menyeimbangkan potensi pertumbuhan dan stabilitas, sementara keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko masing-masing investor.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja unitlink saham berbasis valuta asing hingga September 2026, kami mengulas bagaimana produk valas tetap mencatat imbal hasil positif saat instrumen domestik tertekan. Pembahasan itu menekankan bahwa pelemahan rupiah dapat menambah return ketika hasil investasi valas dikonversi ke rupiah, namun investor tetap perlu memperhitungkan risiko fluktuasi kurs dan kualitas aset dasar masing-masing produk.
Berita Wealth Leaders Terbaru
- Forex
- Crypto