Simpanan valas perbankan Indonesia meningkat pada Agustus 2026 di tengah bunga deposito dan pelemahan rupiah

Simpanan valas perbankan Indonesia meningkat pada Agustus 2026 di tengah bunga deposito dan pelemahan rupiah
Simpanan valas melonjak

Pertumbuhan dana pihak ketiga valuta asing perbankan makin menguat pada Agustus 2026, didorong terutama oleh deposito valas yang tetap mencatat kenaikan tinggi. Kenaikan suku bunga deposito dolar U.S., pelemahan rupiah, dan kebutuhan lindung nilai ikut menopang lonjakan simpanan tersebut saat bank tetap menata strategi likuiditas dan biaya dana.

Sorotan

  • DPK valas perbankan Indonesia tumbuh 20,4% yoy jadi Rp 1.603,7 triliun per Agustus 2026, didorong lonjakan deposito sebesar 37,5%.
  • Bunga deposito USD bank Himbara naik jadi 4% pada akhir 2025 serta pelemahan rupiah memicu pertumbuhan simpanan valas, tetapi laju diprediksi melambat ke 25–30% di Desember 2026.
  • BCA menjaga CASA pada 84,3% DPK Rp 1.284 triliun per Juni 2026, sedangkan BTN fokus pertumbuhan CASA sambil adaptasi suku bunga deposito valas secara selektif.

Pertumbuhan simpanan valas dan pendorong utamanya

Seperti dilaporkan KONTAN, data Bank Indonesia menunjukkan DPK valas perbankan tumbuh 20,4% secara tahunan pada Agustus 2026 menjadi Rp 1.603,7 triliun, lebih tinggi dari pertumbuhan 17,9% pada bulan sebelumnya. Kenaikan itu terutama ditopang deposito valas yang tumbuh 37,5% secara tahunan menjadi Rp 489,2 triliun, meski lajunya sedikit melambat dari 38,7% pada Juli 2026.

Ekonom Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet, menilai pertumbuhan deposito valas dipengaruhi oleh kenaikan bunga deposito dolar U.S. di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara menjadi 4% pada akhir 2025, pelemahan rupiah, serta kebutuhan lindung nilai. Menurut dia, kenaikan bunga membuat pertumbuhan tahunan masih terlihat tinggi karena basis pembanding berasal dari periode sebelum penyesuaian suku bunga, sementara depresiasi rupiah ikut menaikkan nilai simpanan valas saat dikonversi ke rupiah.

Yusuf memperkirakan pertumbuhan deposito valas melambat ke kisaran 25% sampai 30% pada Desember 2026 seiring efek basis yang makin tinggi. Ia menegaskan perlambatan itu tidak otomatis menunjukkan arus keluar dana valas dari perbankan, dan mengingatkan bank swasta agar tidak terjebak dalam perang bunga deposito valas.

Dampak bagi strategi likuiditas perbankan

Di tengah pertumbuhan simpanan valas industri, bank-bank tetap menjaga penghimpunan dana dengan menimbang kebutuhan likuiditas dan biaya dana. BCA menyatakan menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas valas dan ekspansi kredit yang sehat dengan mempertimbangkan perkembangan pasar serta risiko.

Hingga semester I 2026, deposito valas BCA tercatat Rp 19 triliun, dibandingkan deposito rupiah Rp 182 triliun pada periode yang sama. Secara keseluruhan, DPK BCA mencapai Rp 1.284 triliun hingga Juni 2026, dengan porsi dana murah atau CASA tetap mendominasi sekitar 84,3% dari total DPK.

Sementara itu, Bank BTN mengatakan deposito valas meningkat setelah kenaikan bunga deposito USD, baik pada segmen individu maupun nonindividu. Meski kinerja deposito ritel masih tumbuh positif, BTN menyatakan fokus utama sepanjang tahun ini tetap pada pertumbuhan CASA sambil mengkaji suku bunga deposito secara berkala dengan mempertimbangkan BI rate, kondisi pasar, dan cost of fund.

Menurut Yusuf, alternatif yang lebih efisien bagi bank untuk menghimpun dana korporasi adalah memperkuat layanan transaksi valas, pembiayaan perdagangan, dan pengelolaan devisa hasil ekspor. Pendekatan itu dapat membantu bank menjaga biaya dana tetap terkendali di tengah permintaan simpanan valas yang masih kuat.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah, kami menyoroti tekanan kurs yang dipicu meningkatnya risiko geopolitik di sekitar Selat Hormuz serta data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan. Ulasan tersebut juga mencatat rupiah cenderung fluktuatif dengan bias melemah karena sentimen pasar yang defensif, termasuk kekhawatiran defisit transaksi berjalan dan risiko kenaikan harga energi yang dapat menekan aset berisiko.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.