BSI masih bahas rights issue untuk dukung pembiayaan dan free float

BSI masih bahas rights issue untuk dukung pembiayaan dan free float
BSI bahas rights issue

PT Bank Syariah Indonesia Tbk masih membahas skema rights issue yang direncanakan untuk memperkuat pembiayaan dan membantu pemenuhan ketentuan saham publik. Hingga akhir Oktober 2026, bank tersebut juga belum mengantongi komitmen mengikat dari pemegang saham pengendali terkait pelaksanaan atau pengalihan hak memesan efek terlebih dahulu.

Sorotan

  • BSI merencanakan rights issue hingga 6,8 miliar saham Seri B bernominal Rp 500 per saham untuk mendukung pembiayaan dan free float.
  • Per 30 September 2026, free float saham BSI tercatat 9,33%, masih di bawah minimum Peraturan Bursa I-A Tahun 2026.
  • Hingga 30 Oktober 2026, belum ada komitmen tertulis dari tiga pemegang saham pengendali terkait pelaksanaan atau pengalihan HMETD dalam rights issue.

Rencana rights issue dan pembahasan internal

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, BSI menyatakan belum memiliki informasi final mengenai sejumlah aspek pelaksanaan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu tersebut. Perseroan masih membahas proyeksi struktur kepemilikan saham setelah aksi korporasi, keberadaan pembeli siaga atau investor strategis, jadwal pelaksanaan, serta perkiraan harga pelaksanaan.

Corporate Secretary & Communication Group BSI Rosalina Dewi T. mengatakan berbagai aspek itu masih berada dalam tahap pembahasan internal. Secara umum, BSI menyebut rencana rights issue ini bertujuan mendukung penyaluran pembiayaan untuk mendorong pertumbuhan bisnis sekaligus membantu perseroan memenuhi ketentuan minimum saham beredar di publik.

Dalam rencana tersebut, BSI berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham Seri B dengan nilai nominal Rp 500 per saham. Perseroan menyatakan informasi yang lebih rinci akan disampaikan sesuai ketentuan pasar modal yang berlaku ketika pembahasan telah mencapai tahap lebih lanjut.

Tekanan pemenuhan free float di bursa

Fokus lain dalam aksi korporasi ini adalah pemenuhan ketentuan free float. Berdasarkan data per 30 September 2026, porsi saham free float BSI baru mencapai 9,33% dari total saham tercatat, masih di bawah batas minimum dalam Peraturan Bursa I-A Tahun 2026.

BEI juga meminta penjelasan mengenai kemungkinan pemenuhan ketentuan tersebut melalui rights issue, termasuk skenario ketika pemegang saham pengendali tidak melaksanakan atau mengalihkan HMETD yang dimiliki. Menanggapi hal itu, BSI menyatakan masih melakukan pembahasan intensif dengan para pemangku kepentingan utama agar persentase free float perseroan dapat memenuhi ketentuan bursa.

Namun hingga 30 Oktober 2026, belum ada pernyataan kesediaan yang bersifat mengikat dari ketiga pemegang saham pengendali untuk tidak melaksanakan atau mengalihkan sebagian HMETD mereka. BSI menambahkan pernyataan kesediaan dari para pemegang saham pengendali akan disampaikan bersamaan dengan pengajuan pernyataan pendaftaran kepada regulator, sementara strategi rinci untuk memenuhi free float masih dibahas.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pergerakan saham bank-bank besar di Bursa Efek Indonesia, kami membahas ketahanan relatif emiten perbankan berkapitalisasi jumbo saat IHSG terkoreksi. Ulasan itu menyoroti pergerakan BMRI, BBRI, BBNI, dan BBCA serta faktor makro seperti tekanan rupiah dan ekspektasi suku bunga global yang memengaruhi sentimen investor terhadap sektor perbankan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.