Bank Mandiri catat pertumbuhan dana DHE SDA hingga September 2026
Kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam, atau DHE SDA, menjadi salah satu pendorong kenaikan dana valuta asing di perbankan domestik. Aturan ini mewajibkan eksportir sumber daya alam menempatkan devisa hasil ekspor di dalam negeri, sehingga menambah likuiditas valas dan membuka peluang ekspansi bisnis bank.
Sorotan
- PT Bank Mandiri Tbk mencatat dana pihak ketiga dari DHE SDA mencapai Rp 84,3 triliun hingga September 2026, naik 236% secara tahunan.
- Kebijakan penempatan devisa hasil ekspor memperkuat likuiditas valas domestik dan membuka peluang pertumbuhan dana serta bisnis bagi Bank Mandiri.
- PT Bank Syariah Indonesia Tbk menyebut kontribusi dana DHE SDA masih di bawah 1% dari total likuiditas valas, namun berpotensi menambah pasokan USD domestik.
Pertumbuhan dana valas dari kebijakan DHE SDA
Seperti dilaporkan KONTAN, PT Bank Mandiri Tbk mencatat dana pihak ketiga yang berasal dari penempatan DHE SDA mencapai Rp 84,3 triliun hingga September 2026, naik 236% secara tahunan.Direktur Risk Management Bank Mandiri Danis Subyantoro mengatakan kebijakan DHE SDA dapat memperkuat likuiditas valas domestik sekaligus membuka peluang pertumbuhan dana dan bisnis bank. Dalam paparan daring, ia menyebut kenaikan dana tersebut sejalan dengan implementasi kebijakan penempatan devisa hasil ekspor di dalam negeri.
Untuk mendukung eksportir, Bank Mandiri menyediakan layanan terintegrasi melalui Kopra. Layanan ini membantu nasabah mengelola penerimaan ekspor melalui rekening khusus DHE SDA, termasuk untuk memantau dan melaporkan dana yang masuk.
Dampak terhadap likuiditas valas perbankan
Di sisi lain, PT Bank Syariah Indonesia Tbk, atau BSI, menilai kontribusi dana DHE SDA terhadap likuiditas valas bank masih relatif kecil. Meski demikian, perseroan menyambut positif kebijakan tersebut karena berpotensi menambah pasokan valas, khususnya dolar U.S., di pasar domestik.Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan porsi dana DHE SDA saat ini masih di bawah 1% dari total likuiditas valas BSI. Menurut dia, tambahan pasokan valas dari kebijakan ini dapat memperdalam pasar domestik dan memperkuat ketersediaan likuiditas valuta asing.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pergerakan saham bank-bank berkapitalisasi besar di BEI, kami membahas ketahanan relatif mayoritas saham big banks yang ditutup menguat meski IHSG melemah. Ulasan itu juga menyoroti bagaimana tekanan pada rupiah dan ekspektasi suku bunga global dapat memengaruhi sentimen investor terhadap sektor perbankan, dengan BBCA menjadi yang paling tertekan pada sesi tersebut.
Berita Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto