Bank Indonesia perpanjang LTV/FTV 100% untuk kredit properti hingga 2027
Pelonggaran rasio loan to value atau financing to value 100% untuk kredit properti kembali diperpanjang ketika pertumbuhan kredit konsumer masih lesu di Indonesia. Kebijakan yang berlaku efektif sepanjang 2027 itu memberi ruang pembiayaan hingga penuh atas nilai agunan, tetapi dorongan terhadap KPR tetap bergantung pada daya beli, bunga kredit, dan kondisi ekonomi riil.
Sorotan
- Bank Indonesia memperpanjang kebijakan LTV/FTV 100% untuk kredit properti hingga 31 Desember 2027, berlaku bagi bank dengan NPL sesuai ketentuan.
- Pertumbuhan KPR dan KPA hanya mencapai 4,3% yoy hingga September 2026, jauh tertinggal dari kredit konstruksi 42,3% dan real estat 15,5%.
- CIMB Niaga dan Bank Syariah Indonesia mencatat pertumbuhan KPR terbatas dan menyoroti perlunya pendapatan rumah tangga kuat agar pelonggaran berdampak maksimal.
Perpanjangan insentif dan respons perbankan
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Bank Indonesia memperpanjang kebijakan LTV/FTV 100% untuk kredit properti, termasuk rumah tapak, rumah susun, dan ruko, dari semula berakhir pada 31 Desember 2026 menjadi berlaku efektif pada 1 Januari hingga 31 Desember 2027. Kebijakan ini berlaku bagi bank yang memenuhi kriteria non performing loan yang telah ditetapkan, sehingga debitur berpeluang memperoleh pembiayaan sebesar nilai agunan tanpa perlu menyiapkan uang muka.Kelonggaran tersebut pada dasarnya ditujukan untuk menurunkan hambatan awal pembelian rumah, terutama bagi pembeli rumah pertama. Namun biaya lain seperti pajak, administrasi, dan pengurusan akta notaris tetap harus ditanggung, sehingga efek kebijakan tidak sepenuhnya menghilangkan kebutuhan dana tunai di awal transaksi.
Di sisi perbankan, CIMB Niaga menilai pertumbuhan kredit masih sangat bergantung pada minat beli hunian dan daya beli masyarakat yang menurut perseroan masih menantang setidaknya hingga akhir tahun. Per Juni 2026, realisasi KPR CIMB Niaga hanya tumbuh 1% secara tahunan menjadi Rp 41,81 triliun, meski manajemen tetap melihat perpanjangan LTV/FTV sebagai katalis positif untuk menawarkan program bagi nasabah berisiko rendah.
Bank Syariah Indonesia juga menyatakan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian di tengah kondisi ekonomi saat ini. Perseroan memperluas jangkauan pembiayaan perumahan dari segmen menengah atas sekaligus mendorong program tiga juta rumah melalui KPR subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Dampak terhadap pertumbuhan KPR masih terbatas
Laporan analisis uang beredar Bank Indonesia menunjukkan KPR dan KPA hanya tumbuh 4,3% secara tahunan hingga September 2026, tertinggal jauh dari kredit konstruksi yang tumbuh 42,3% dan kredit real estat yang naik 15,5%. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa pelonggaran uang muka belum otomatis diterjemahkan menjadi akselerasi kuat pada pembiayaan rumah.Ekonom dan Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai secara teoretis kebijakan LTV/FTV 100% memang menurunkan hambatan awal kredit dan dapat memberi multiplier effect positif. Meski demikian, realisasi pertumbuhan kredit properti tetap ditentukan kombinasi faktor makroekonomi dan suku bunga, sementara biaya dana yang masih tinggi dapat membatasi kemampuan bank menawarkan bunga kredit yang lebih murah.
Rahma juga mengingatkan pelonggaran ini dapat meningkatkan risiko kredit bermasalah bila ekonomi riil tidak berkembang. Bagi bank, perbaikan permintaan pembiayaan tetap membutuhkan dukungan pendapatan rumah tangga yang lebih kuat agar cicilan bulanan tetap terjangkau.
BSI mencatat pembiayaan BSI Griya mencapai Rp 61,22 triliun per Juni 2026, dengan total penjualan lebih dari 20 ribu unit rumah dalam setahun. Bank tersebut menyebut daya beli masyarakat masih cukup baik dan memanfaatkan momentum itu lewat tenor hingga 30 tahun serta skema angsuran tetap, sambil tetap optimistis industri properti masih bertumbuh dengan dukungan promosi dan variasi penawaran dari pengembang.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pertumbuhan kredit BCA hingga Agustus 2026, kami mengulas ekspansi pinjaman yang ditopang segmen korporasi, komersial, dan UKM, dengan laju kredit UKM yang melampaui rata-rata industri. Kami juga menyoroti bahwa kualitas aset tetap terjaga melalui rasio NPL dan loan at risk yang terkendali, mencerminkan strategi ekspansi yang tetap mengedepankan kehati-hatian di tengah dinamika ekonomi.
Berita Mortgage Terbaru
- Forex
- Crypto