Indonesia pertahankan pengurangan ekspor gas ke Singapura dalam batas kontrak

Indonesia pertahankan pengurangan ekspor gas ke Singapura dalam batas kontrak
Ekspor gas ke Singapura turun

Ketegangan soal pasokan gas pipa ke Singapura mencuat setelah Indonesia mengurangi volume ekspor harian sebesar 31 miliar British thermal unit. Pemerintah menegaskan langkah itu tetap sesuai ketentuan kontrak dan hanya mencakup sebagian kecil dari total aliran gas dari Natuna dan Sumatera.

Sorotan

  • Indonesia mengurangi ekspor gas ke Singapura sebesar 31 BBTUD atau sekitar 8% dari total 409,55 juta kaki kubik per hari, tetap dalam batas kontrak.
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pengurangan gas masih sejalan dengan perjanjian dan menolak tuduhan pelanggaran komitmen kontraktual.
  • Pengurangan 31 BBTUD hanya berdampak sekitar 2% dari konsumsi Singapura, jauh lebih kecil dibanding penghentian penuh yang berpotensi memukul 30% kebutuhan.

Penjelasan pemerintah atas pemotongan pasokan

Seperti dilaporkan Okezone, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia tetap menghormati kontrak dan aturan yang berlaku dalam pengurangan pasokan gas ke Singapura. Ia menegaskan pemangkasan 31 BBTUD itu masih berada dalam batas minimum yang diatur dalam perjanjian, sambil menolak anggapan bahwa Indonesia tidak berkomitmen pada kewajiban kontraktual.

Bahlil juga merespons pernyataan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dengan menekankan bahwa Indonesia merupakan negara yang menghargai komitmen kontrak. Menurutnya, posisi pemerintah didasarkan pada kepatuhan terhadap aturan yang sudah disepakati, bukan tindakan sepihak di luar kerangka perjanjian.

Skala ekspor dan dampaknya bagi pasokan

Bahlil menjelaskan pasokan gas pipa ke Singapura berasal dari dua wilayah, yakni Natuna dan Sumatera, dengan total volume mencapai 409,55 juta kaki kubik per hari. Dari jumlah tersebut, pengurangan 31 BBTUD disebut hanya sekitar 8% dari total ekspor gas melalui pipa.

Ia juga mengatakan angka 31 BBTUD setara sekitar 2% dari konsumsi negara tujuan, berdasarkan informasi yang ia baca. Dalam penjelasannya, penghentian penuh aliran 409,55 juta kaki kubik per hari akan berdampak jauh lebih besar, dengan perkiraan mencapai sekitar 30% terhadap kebutuhan Singapura.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) dan beban subsidi energi, kami mencatat pernyataan Bahlil Lahadalia bahwa kenaikan ICP ke kisaran USD90–USD100 per barel mendorong kebutuhan subsidi mendekati Rp100 triliun. Artikel itu juga menyoroti risiko geopolitik yang menjaga harga energi tetap tinggi dan mempersempit ruang fiskal, sehingga pengelolaan pasokan dan stabilitas energi menjadi isu kunci kebijakan pemerintah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.