SKK Migas ungkap ekspor LNG Masela ke Singapura menjelang target produksi 2029
Pemerintah memperluas pengaturan penjualan gas dari proyek Abadi Masela dengan meneken ekspor LNG ke Singapura menjelang rencana produksi proyek tersebut pada 2029. Langkah ini muncul ketika pasokan gas pipa ke Singapura dari Natuna dan Sumatra sedikit dikurangi, sementara suplai LNG Indonesia ke negara itu tetap berlanjut.
Sorotan
- SKK Migas mengumumkan penandatanganan persetujuan ekspor LNG dari proyek Abadi Masela ke BP Singapore Pte. Limited dan Shell Singapura pada 31 Oktober 2026.
- Kesepakatan ini mencakup tidak hanya ekspor LNG namun juga alokasi gas domestik, baik dalam bentuk gas pipa maupun LNG untuk pasar Indonesia.
- Abadi Masela tetap diposisikan sebagai proyek LNG strategis nasional dengan target produksi pada 2029, mempertahankan Singapura sebagai pasar utama gas Indonesia.
Penandatanganan ekspor dan alokasi gas
Sebagaimana dilaporkan Okezone, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia telah menandatangani persetujuan ekspor LNG ke BP Singapore Pte. Limited dan Shell Singapura.Djoko menyatakan persetujuan yang diteken juga mencakup alokasi gas domestik, baik dalam bentuk gas pipa maupun LNG. Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara INPEX - FEED Completion Ceremony di Pacific Place, Jakarta, pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Dampak bagi pasokan gas regional
Menurut Djoko, pemerintah beberapa hari sebelumnya memang sedikit mengurangi ekspor gas ke Singapura melalui jaringan pipa bawah laut dari Natuna dan Sumatra. Namun, Indonesia secara konsisten tetap memasok LNG ke perusahaan-perusahaan di Singapura dengan volume akumulatif yang dinilai besar.Bagi sektor hulu migas, penandatanganan ini menunjukkan Singapura tetap menjadi pasar penting untuk gas Indonesia di tengah penyesuaian komposisi pasokan antara gas pipa dan LNG. Kesepakatan tersebut juga memberi konteks komersial bagi pengembangan Abadi Masela, yang diposisikan sebagai salah satu proyek strategis LNG Indonesia dengan target produksi pada 2029.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41, kami mencatat penandatanganan 168 nota kesepahaman senilai USD 13,2 miliar pada hari pertama pameran, yang menegaskan kuatnya minat pembeli luar negeri terhadap produk Indonesia. Artikel itu juga menyoroti peran business matching serta dukungan jaringan diplomatik dan promosi perdagangan dalam membuka peluang tindak lanjut transaksi ekspor. Konteks ini menunjukkan bagaimana penandatanganan kesepakatan menjadi instrumen penting untuk memperluas pasar, serupa dengan persetujuan ekspor energi yang dibahas dalam artikel terbaru ini.
Berita Natural Gas Terbaru
- Forex
- Crypto