Penelitian Traders Union: 58% trader kripto mengandalkan media sosial
Traders Union telah menerbitkan penelitian baru, "Bagaimana Investor Ritel Benar-Benar Memperdagangkan Kripto: Penelitian 2026," yang berfokus pada perilaku investor kripto ritel. Temuan menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku pasar membuat keputusan reaktif: 64% memasuki perdagangan setelah kenaikan harga, 58% mengandalkan media sosial, dan 63% tidak menggunakan order stop-loss.
Artikel ini diterjemahkan dari aslinya. Baca versi asli oleh koresponden kami di sini.
Bagaimana investor ritel berdagang di pasar kripto
Terlepas dari minat yang kuat terhadap mata uang kripto, perilaku investor ritel sebagian besar masih bersifat intuitif. Menurut penelitian Traders Union, sebagian besar pedagang memasuki pasar setelah harga sudah naik, bukan pada tahap awal tren. Secara khusus, 64% responden membuka posisi setelah harga naik, sementara hanya 23% yang membeli saat harga turun.
Analisis menunjukkan bahwa perilaku seperti itu secara langsung berdampak pada kinerja secara keseluruhan. Entri yang terlambat membatasi potensi keuntungan, sementara keputusan berdasarkan pergerakan harga saat ini membuat perdagangan bergantung pada volatilitas jangka pendek. Akibatnya, investor sering membeli di dekat harga tertinggi pasar dan keluar dari posisi pada saat-saat yang tidak menguntungkan.
Faktor kunci lainnya adalah sumber sinyal trading. Lebih dari separuh responden (58%) mengandalkan media sosial, sementara hanya 21% yang menggunakan analisis teknikal dan 14% menggunakan analisis fundamental. Ini menunjukkan bahwa sentimen eksternal sering kali lebih penting daripada analisis independen dalam pengambilan keputusan.
Mengapa trader ritel merugi
Penelitian menunjukkan bahwa masalah utama bagi investor ritel bukan hanya volatilitas pasar, tetapi juga faktor perilaku. Banyak trader mengambil keputusan yang didorong oleh emosi, termasuk rasa takut ketinggalan (FOMO) dan keengganan untuk menyadari kerugian. Akibatnya, perdagangan sering dibuka setelah kenaikan harga dan ditutup pada waktu yang tidak tepat.
Masalahnya diperparah oleh manajemen risiko yang lemah. Hanya 37% responden yang menggunakan order stop-loss, sementara mayoritas - 63% - trading tanpa level exit yang sudah ditentukan. Hal ini membuat trading lebih rentan terhadap fluktuasi pasar yang tajam dan meningkatkan kemungkinan kerugian yang signifikan.
Selama penurunan pasar, perilaku investor menjadi lebih defensif. Menurut penelitian, 49% partisipan menjual aset selama penurunan harga, menunjukkan kecenderungan untuk mengurangi kerugian bahkan dengan mengorbankan strategi jangka panjang. Hal ini menegaskan bahwa dalam kondisi yang tidak menentu, trader ritel cenderung bertindak secara situasional daripada sistematis.
Bagaimana penelitian ini dilakukan
Penelitian ini dilakukan oleh Traders Union pada tahun 2026 dengan menggunakan survei online kuantitatif berdasarkan metodologi CAWI (Computer-Assisted Web Interviewing). Sebanyak 1.200 pedagang kripto ritel aktif dari Amerika Utara, Eropa, dan Asia berpartisipasi dalam survei tersebut.
Untuk meningkatkan akurasi, hasil survei dibandingkan dengan penelitian institusional dari sumber-sumber termasuk BIS, JPMorgan, dan Coinbase Institutional, yang memungkinkan identifikasi pola perilaku yang konsisten dan validasi temuan-temuan utama.
Perlu dicatat bahwa pada bulan Maret, Traders Union menerima penghargaan "Komunitas Perdagangan dan Jaringan Keuangan Terbaik di Dunia 2026" di World Business Outlook Awards.
Berita crypto Terbaru
- Forex
- Crypto