Rupiah melemah setelah BI pertahankan suku bunga acuan

Rupiah melemah setelah BI pertahankan suku bunga acuan
Rupiah tertekan, BI tahan

Pergerakan rupiah ditutup di zona negatif pada akhir perdagangan Rabu, saat pasar mencerna keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Pelemahan mata uang domestik juga terjadi di tengah tekanan sentimen eksternal dari ketegangan di sekitar Selat Hormuz dan penguatan ekspektasi suku bunga tinggi di U.S.

Sorotan

  • Rupiah melemah 30 poin atau 0,17 persen ke Rp18.022 per dolar U.S. setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen.
  • Ketegangan geopolitik, seperti serangan Houthi ke fasilitas Saudi Aramco dan 18 insiden kapal di Selat Hormuz, meningkatkan kekhawatiran pasar terkait energi dan risiko aset.
  • Data inflasi U.S. yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, sementara pemerintah proyeksikan defisit APBN 2026 di 2,85 persen PDB.

Sentimen suku bunga dan tekanan global

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, rupiah melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp18.022 per dolar U.S. pada penutupan perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026. Pergerakan ini terjadi setelah Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 5,75 persen, di tengah perhatian pasar terhadap kombinasi faktor global dan domestik.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu tekanan eksternal datang dari insiden kapal tanker raksasa yang terbakar setelah menghantam ranjau laut di selatan Selat Hormuz. Dalam risetnya, ia menulis data layanan pelacakan kapal Kpler mencatat sedikitnya 18 serangan terhadap kapal yang dilaporkan dalam kurun dua minggu.

Di saat yang sama, kelompok Houthi pada Senin mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, serta bandara di Riyadh dan Abha, Arab Saudi. Konflik di kawasan itu turut menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dan minat investor pada aset berisiko.

Dampak data U.S. dan kebijakan domestik

Laporan Indeks Harga Konsumen dan Indeks Harga Produsen U.S. untuk September tercatat lebih tinggi dari perkiraan, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Pasar juga menunggu data klaim pengangguran awal, S&P Global Flash PMI, serta angka akhir Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan untuk Oktober.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia tidak mengubah BI Rate di 5,75 persen, tetapi suku bunga Deposit Facility naik menjadi 5 persen dan suku bunga Lending Facility berada di 6,50 persen. Kebijakan ini hadir ketika pemerintah tetap optimistis defisit APBN 2026 bertahan di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto, dengan proyeksi pada level 2,85 persen.

Menurut Ibrahim, deviasi asumsi dasar ekonomi makro dapat menggeser postur APBN, baik pada pendapatan, belanja, maupun defisit. Ia juga menilai pergerakan imbal hasil surat berharga negara perlu dicermati, termasuk potensi efek sentimen negatif dari penilaian terbaru MSCI.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah di tengah eskalasi risiko di Selat Hormuz dan inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, kami mencatat rupiah turun ke Rp17.938 per dolar U.S. Tekanan datang dari meningkatnya serangan terhadap kapal dan kekhawatiran gangguan pasokan energi, sementara data CPI September yang melampaui ekspektasi memperkuat sikap defensif pelaku pasar terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.