Data Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan pada Februari 2026 turun menjadi 9,37% secara tahunan dari 9,96% pada Januari, dengan perlambatan terjadi di seluruh segmen penggunaan. Pergerakan ini muncul saat bank sentral masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit tahun ini di kisaran 8% hingga 12%, di tengah permintaan yang dinilai belum pulih penuh dan kehati-hatian bank yang tetap tinggi.
Sorotan
- Pertumbuhan kredit investasi Indonesia melambat menjadi 20,72% pada Februari 2026 dari 22,38% Januari, dengan kredit konsumsi dan modal kerja juga melemah.
- Kredit BCA tumbuh 5,84% secara tahunan ke Rp953,22 triliun dan BTN tumbuh 8,6% ke Rp341,16 triliun pada Februari, keduanya lebih lambat dari Januari.
- Bank Indonesia tetap proyeksikan pertumbuhan kredit 2026 pada kisaran 8–12% didukung likuiditas kuat, rasio alat likuid 27,40%, dan undisbursed loan Rp2.536,40 triliun.
Perlambatan terjadi di seluruh segmen kredit
Kredit investasi pada Februari 2026 masih mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 20,72% secara tahunan, tetapi lebih rendah dibandingkan 22,38% pada Januari. Kredit modal kerja tumbuh 3,88%, turun dari 4,13% sebulan sebelumnya, sedangkan kredit konsumsi naik 6,34%, melemah dari 6,58%. Pola ini menunjukkan laju penyaluran pembiayaan masih positif, namun kehilangan momentum pada awal tahun.
Pengamat perbankan sekaligus Senior Vice President LPPI, Trioksa Siahaan, menilai permintaan kredit tetap lesu karena ekspansi usaha tertahan oleh daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya membaik. Ia mengaitkan kondisi itu dengan pertumbuhan ekonomi yang belum kuat, ancaman inflasi pada awal tahun, suku bunga bank yang masih relatif tinggi, serta memanasnya situasi geopolitik global pada Februari 2026. Direktur Sagara Research Institute, Piter Abdullah, juga menilai bank semakin selektif dalam menyalurkan kredit untuk menekan risiko kredit bermasalah.
Kehati-hatian itu, menurut Piter, terlihat terutama pada bank-bank besar yang memiliki likuiditas memadai tetapi tetap memilih menahan ekspansi secara lebih terukur. Kondisi ekonomi global dan domestik yang belum stabil membuat perbankan cenderung menimbang kualitas aset lebih ketat. Dampaknya tercermin pada pertumbuhan kredit yang melunak dibandingkan awal tahun.
Kinerja bank besar mencerminkan permintaan yang belum kuat
Pada BCA, kredit per Februari 2026 tumbuh 5,84% secara tahunan menjadi Rp953,22 triliun, lebih rendah dari pertumbuhan 6,26% pada Januari. BTN membukukan kredit Rp341,16 triliun pada Februari, tumbuh 8,6% secara tahunan, turun dari 9,30% pada Januari. Bank Mandiri relatif stabil, dengan pertumbuhan kredit 15,7% pada Februari menjadi Rp1.513,1 triliun, sedikit di atas 15,62% pada Januari.
CIMB Niaga juga menyatakan penyaluran kredit pada awal tahun masih rendah, terutama pada segmen non-ritel. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan pertumbuhan kredit tahunan pada Februari cenderung datar, mencerminkan permintaan yang masih lemah. Ia menyebut kredit kendaraan bermotor masih tumbuh sekitar 6% secara tahunan, sementara sektor lain relatif datar.
Lani memperkirakan pertumbuhan kredit CIMB Niaga pada kuartal I 2026 masih sangat terbatas. Per Januari 2026, total pembiayaan yang disalurkan CIMB Niaga mencapai Rp217,79 triliun, naik 1,44% secara tahunan. Dari jumlah itu, kredit tumbuh 6,35% menjadi Rp165,18 triliun, sedangkan pembiayaan syariah turun 11,43% menjadi Rp52,60 triliun.
BI tetap melihat ruang pertumbuhan kredit 2026
Di tengah perlambatan pada Februari, Bank Indonesia tetap optimistis target pertumbuhan kredit tahunan dapat tercapai. BI memperkirakan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8% hingga 12%, ditopang faktor permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan, bank sentral melihat ruang pemanfaatan pinjaman yang belum digunakan masih besar, dengan nilai undisbursed loan mencapai Rp2.536,40 triliun atau 22,86% dari total plafon kredit yang tersedia.
Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank dinilai masih memadai. Hal itu ditopang rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga sebesar 27,40% dan pertumbuhan dana pihak ketiga 13,18% pada Februari 2026. BI juga menilai minat penyaluran kredit tetap baik, tercermin dari persyaratan kredit yang masih longgar, meski segmen konsumsi dan UMKM tetap lebih ketat karena risiko kredit yang masih tinggi.
Bagi industri perbankan Indonesia, kondisi ini menandakan pertumbuhan kredit belum berhenti, tetapi bergantung pada pemulihan permintaan domestik dan keberanian bank mengambil risiko secara terukur. Jika daya beli dan aktivitas usaha membaik pada semester berikutnya, ruang penyaluran kredit masih terbuka karena likuiditas tetap kuat. Namun selama tekanan ekonomi belum sepenuhnya mereda, pertumbuhan kredit kemungkinan tetap bergerak lebih moderat.
Kami sebelumnya melaporkan bahwa bank-bank investasi besar mulai menilai kembali prospek pasar kredit swasta yang nilainya telah membengkak, sekaligus menyiapkan instrumen untuk mendapatkan keuntungan maupun melindungi portofolio saat sektor ini melemah. Dalam laporan itu, kami juga menyoroti tanda-tanda tekanan seperti meningkatnya permintaan penebusan, pembatasan penarikan dana, konsentrasi risiko pada sektor tertentu, serta kenaikan tingkat gagal bayar yang membuat perhatian pada kualitas aset dan diversifikasi kian penting.
Berita Mergers Terbaru
- Forex
- Crypto