Bank-bank KBMI I naikkan bunga simpanan setelah BI Rate meningkat
Kenaikan BI Rate ke 5,5% mendorong bank-bank kecil menyesuaikan strategi pendanaan di tengah persaingan dana pihak ketiga yang makin ketat. Tekanan paling besar dirasakan bank dalam kelompok KBMI 1, yang simpanannya sudah menyusut pada Maret 2026 dan masih didominasi deposito berbiaya mahal.
Sorotan
- Total DPK bank KBMI 1 turun 0,57% dari Februari 2026 ke Rp 928,36 triliun akibat perpindahan dana nasabah ke bank besar atau instrumen lain.
- Bank Ina Perdana menaikkan bunga simpanan menyusul kenaikan BI Rate, dengan total DPK per April 2026 naik 40% yoy ke Rp 27,79 triliun dan 53,62% berbentuk deposito.
- Tekanan bunga mempersempit margin profitabilitas bank kecil, memaksa KBMI 1 mempertimbangkan opsi merger, akuisisi, atau strategi spesialisasi bisnis.
Penyesuaian bunga dan strategi pendanaan
Seperti dilaporkan KONTAN, data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan total DPK bank KBMI 1 pada Maret 2026 mencapai Rp 928,36 triliun, turun 0,57% dari Februari 2026 dan turun 1,17% dibanding Januari 2026. Di tengah kenaikan BI Rate, kondisi itu memperketat persaingan penghimpunan dana, terutama bagi bank kecil yang masih bergantung pada deposito sebagai sumber pendanaan utama.Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai bank KBMI 1 lebih tertekan dibanding bank yang lebih besar ketika suku bunga acuan naik. Menurut dia, nasabah kelas atas cenderung memindahkan dana dari bank kecil ke bank besar karena faktor keamanan, sementara sebagian dana juga berpotensi bergeser ke instrumen investasi lain dengan imbal hasil lebih tinggi.
Karena itu, bank KBMI 1 dinilai harus ikut menaikkan bunga simpanan agar dana nasabah tidak keluar. Namun langkah tersebut ikut mendorong kenaikan biaya dana atau cost of fund, karena banyak bank dalam kelompok ini masih mengandalkan deposito.
PT Bank Ina Perdana Tbk menyatakan akan menaikkan bunga simpanan mengikuti kenaikan BI Rate. Direktur Utama Bank INA Henry Koenaifi mengatakan langkah itu tidak terelakkan agar dana nasabah tidak berpindah, sementara per April 2026 total DPK Bank INA tercatat Rp 27,79 triliun, naik 40% secara tahunan, dengan deposito menyumbang 53,62% dari total DPK.
PT Bank Neo Commerce Tbk juga menyesuaikan strategi pendanaan dengan menjaga kestabilan DPK dan secara selektif mengubah bunga simpanan. Direktur Utama Bank Neo Commerce Eri Budiono mengatakan bank akan memantau dinamika pasar dan melakukan penyesuaian secara prudent dan terukur sesuai kebutuhan likuiditas serta profil risiko, sambil mengoptimalkan diversifikasi pendanaan dan aktivitas transaksi nasabah. Hingga April 2026, total DPK Bank Neo mencapai Rp 13,14 triliun, turun 1,05% secara tahunan, dengan porsi deposito 68,51%.
Dampak terhadap persaingan dan opsi korporasi
Tekanan bunga yang lebih tinggi memperbesar tantangan profitabilitas bank-bank kecil, terutama ketika struktur pendanaan mereka masih berat pada simpanan mahal. Dalam kondisi ini, ruang untuk menjaga margin menjadi lebih sempit sehingga bank perlu mencari keseimbangan antara mempertahankan likuiditas, menahan biaya dana, dan menjaga daya saing terhadap bank besar serta bank digital.Rahma menilai ada dua jalur utama bagi bank KBMI 1, yakni melakukan merger dengan bank lain atau tetap berdiri sendiri dengan modal yang kuat dan spesialisasi bisnis yang jelas. Menurut dia, bank KBMI 1 yang memiliki struktur bisnis generik dan permodalan terbatas menghadapi risiko makin tertinggal oleh efisiensi bank digital dan pemain besar.
PT Bank Oke Indonesia Tbk menyatakan mempertimbangkan seluruh opsi strategis untuk tetap bersaing, mulai dari kenaikan bunga hingga peluang merger, akuisisi, kerja sama strategis, dan alternatif korporasi lain. Hingga April 2026, total DPK OK Bank mencapai Rp 8,93 triliun, naik 30,71% secara tahunan, sementara deposito mendominasi 78,84% dari total pendanaan.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang tekanan suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah terhadap kinerja perbankan 2026, kami menyoroti bahwa kenaikan biaya dana berpotensi menekan margin bunga bersih karena bunga simpanan cenderung naik lebih cepat dibanding bunga kredit. Kami juga mencatat proyeksi pertumbuhan laba sektor perbankan direvisi turun dan investor diperkirakan makin selektif terhadap bank yang mampu menjaga margin serta kualitas aset di tengah kondisi moneter yang ketat.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto