Samuel Sekuritas pangkas proyeksi laba perbankan 2026, rekomendasi sektor turun jadi netral

Samuel Sekuritas pangkas proyeksi laba perbankan 2026, rekomendasi sektor turun jadi netral
Proyeksi laba bank turun

Tekanan suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah dinilai membuat prospek sektor perbankan pada 2026 lebih menantang, meski bank masih mencatat pertumbuhan laba. Kondisi itu mendorong Samuel Sekuritas menurunkan estimasi pertumbuhan laba agregat bank dalam cakupannya serta memangkas rekomendasi sektor dari overweight menjadi netral.

Sorotan

  • Samuel Sekuritas menurunkan proyeksi pertumbuhan laba agregat bank-bank 2026 menjadi 1,8% dari 4,6% karena kenaikan biaya dana dan tekanan margin.
  • Laba bersih gabungan empat bank terbesar tumbuh 8% year-on-year menjadi Rp 62,1 triliun hingga April 2026, namun margin bunga bersih turun 18 bps menjadi 5,1%.
  • Rekomendasi sektor perbankan diturunkan dari overweight menjadi netral, dengan Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia diproyeksi menopang pertumbuhan di tengah perlambatan industri.

Revisi proyeksi laba dan tekanan margin

KONTAN melaporkan Samuel Sekuritas memperkirakan tantangan utama bagi perbankan saat ini berasal dari tingginya suku bunga acuan dan lemahnya nilai tukar rupiah, yang berpotensi menaikkan biaya dana, terutama bagi bank yang bergantung pada deposito berjangka berbunga tinggi.

Analis Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi dan Ahnaf Yassar menyebut kenaikan biaya dana itu menekan margin bunga bersih, karena bunga simpanan umumnya naik lebih cepat dibandingkan bunga kredit. Mereka juga melihat risiko kualitas aset meningkat ketika biaya pinjaman yang lebih tinggi terjadi di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah.

Selain itu, pelemahan rupiah dinilai berpotensi memicu inflasi impor dan membuat era suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Dalam riset tertanggal Jumat, 12 Juni 2026, Samuel Sekuritas menurunkan proyeksi pertumbuhan laba agregat bank-bank dalam cakupannya untuk 2026 menjadi 1,8% secara tahunan, dari sebelumnya 4,6%, seiring kenaikan biaya dana, tekanan margin bunga bersih, dan potensi peningkatan pencadangan kredit.

Selama empat bulan pertama 2026, laba bersih gabungan empat bank terbesar masih mencapai Rp 62,1 triliun, naik 8% secara tahunan dan setara 37% dari proyeksi laba setahun penuh versi revisi. Namun tekanan margin mulai terlihat, dengan margin bunga bersih gabungan turun 18 basis poin dalam setahun menjadi 5,1%, sementara yield aset turun 46 basis poin, lebih besar dari penurunan biaya dana sebesar 31 basis poin.

Dampak pada rekomendasi dan pilihan bank

Samuel Sekuritas memperkirakan pertumbuhan laba sektor perbankan melambat dari sekitar 7,5% sampai 8% pada empat bulan pertama tahun ini menjadi 1,8% hingga akhir 2026. Perlambatan itu terutama dipicu penurunan margin bunga bersih dan kenaikan biaya kredit.

Sejumlah bank besar sudah menunjukkan gejala tersebut, termasuk Bank Central Asia dan Bank Rakyat Indonesia yang laju pendapatan bunga bersihnya melambat. Untuk laba operasional sebelum pencadangan, Samuel Sekuritas memperkirakan pertumbuhan agregat hanya 5% secara tahunan, lebih rendah dari pertumbuhan 7% secara tahunan per April 2026.

Di tengah tekanan itu, Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia diproyeksi menjadi penopang pertumbuhan karena didukung ekspansi neraca yang kuat. Samuel Sekuritas kemudian menurunkan rekomendasi sektor perbankan dari overweight menjadi netral, meski menilai valuasi saham perbankan sudah menarik karena sebagian besar diperdagangkan mendekati atau bahkan di bawah minus dua standar deviasi terhadap PBV historisnya.

Penilaian itu menunjukkan saham perbankan yang lebih murah saat ini masih dianggap seimbang dengan fundamental yang tetap cukup kuat. Bagi pasar, pandangan ini menandakan ruang kenaikan harga saham bank bisa lebih terbatas dalam jangka dekat, sementara investor cenderung lebih selektif pada emiten dengan kemampuan menjaga margin dan kualitas aset.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang pertumbuhan kredit sindikasi pada 2026, kami menyoroti bahwa penyaluran kredit sindikasi nasional tetap meningkat meski dibayangi kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah, dengan Bank Mandiri menjadi penyalur terbesar hingga 11 Juni 2026. Kami juga mengulas alasan skema ini dinilai lebih tahan risiko dibanding kredit bilateral karena risiko dibagi antarbank, meski ke depan selektivitas proyek diperkirakan meningkat seiring tekanan ekonomi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.