Ashutosh Sureka

Kredit sindikasi perbankan Indonesia tetap tumbuh kuat di tengah gejolak ekonomi

Kredit sindikasi perbankan Indonesia tetap tumbuh kuat di tengah gejolak ekonomi
Kredit sindikasi tetap kuat

Di tengah tekanan ekonomi, pelemahan rupiah, dan kenaikan suku bunga pada 2026, kredit sindikasi tetap menjadi tumpuan bank untuk membiayai proyek bernilai besar. Hingga 11 Juni 2026, penyaluran kredit sindikasi nasional mencapai U.S.$ 12,89 miliar, naik 44,1% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sorotan

  • Penyaluran kredit sindikasi nasional hingga 11 Juni 2026 naik, dengan Bank Mandiri memimpin sebesar U.S.$ 2,06 miliar.
  • Skema kredit sindikasi dinilai lebih resilien terhadap risiko kredit dibanding kredit bilateral, karena risiko dibagi di antara beberapa bank.
  • Ke depan, penyaluran kredit sindikasi diproyeksi tetap tumbuh positif hingga akhir 2026, meski selektivitas meningkat dan potensi perlambatan akibat kenaikan suku bunga.

Pertumbuhan penyaluran dan daya tahan risiko

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, data Bloomberg per 11 Juni 2026 menunjukkan penyaluran kredit sindikasi nasional terus meningkat menjelang pertengahan tahun. Lima bank penyalur sindikasi terbesar adalah Bank Mandiri sebesar U.S.$ 2,06 miliar, Bank Rakyat Indonesia U.S.$ 1,36 miliar, Bank Negara Indonesia U.S.$ 1,31 miliar, Bank Central Asia U.S.$ 1,24 miliar, dan United Overseas Bank U.S.$ 537 juta.

Kredit sindikasi merupakan skema pembiayaan oleh sejumlah bank kepada satu debitur dengan kebutuhan dana jumbo. Dalam kondisi perbankan yang dibayangi sentimen negatif tahun ini, skema tersebut dinilai lebih resilien karena risiko kredit dibagi di antara beberapa bank, sehingga eksposur masing-masing pemberi pinjaman menjadi lebih terbatas.

Ekonom Center of Reform (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kredit sindikasi lebih tahan terhadap kenaikan risiko dibandingkan kredit bilateral pada umumnya. Menurut dia, skema ini tetap diminati untuk membiayai proyek berskala besar tanpa membebani neraca satu bank secara berlebihan.

Selektivitas proyek dan prospek hingga akhir 2026

Yusuf mengatakan risiko utama kredit sindikasi saat ini tetap berasal dari fundamental proyek yang dibiayai. Jika proyek terdampak langsung oleh gejolak ekonomi dan pelemahan rupiah, setiap bank dalam sindikasi tetap berpotensi menanggung kerugian.

Karena itu, ia menilai penyaluran kredit sindikasi ke depan akan menjadi lebih selektif, terutama pada proyek dengan prospek yang baik dan profil risiko yang terukur. Menurut proyeksinya, pertumbuhan kredit sindikasi hingga akhir 2026 masih tetap positif, meski lajunya berpotensi tidak secepat saat ini apabila dampak kenaikan suku bunga semakin terasa.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang fasilitas kredit Rp 8,99 triliun yang diterima PT Citra Borneo Utama Tbk dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, kami mengulas bagaimana tambahan pendanaan 24 bulan itu ditujukan untuk menopang modal kerja dan operasional bisnis hilir kelapa sawit. Kami juga menyoroti bahwa dukungan pembiayaan bank tetap terbuka bagi perusahaan berfundamental memadai, dengan manajemen emiten menyatakan tidak ada dampak negatif material terhadap operasional maupun kondisi keuangan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.