Citra Borneo Utama kantongi fasilitas kredit Rp 8,99 triliun dari BRI
Citra Borneo Utama memperluas dukungan pendanaan bank melalui fasilitas kredit baru senilai Rp 8,99 triliun untuk menopang kebutuhan modal kerja dan operasional. Fasilitas berjangka 24 bulan itu ditandatangani pada 10 Juni 2026 dan ditujukan bagi kegiatan usaha perseroan di industri pemurnian, fraksinasi, serta perdagangan produk kelapa sawit.
Sorotan
- PT Citra Borneo Utama Tbk menandatangani perjanjian fasilitas kredit senilai Rp 8,99 triliun dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk pada 10 Juni 2026.
- Fasilitas kredit berdurasi 24 bulan tersebut akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja dan operasional perusahaan di bidang pengolahan kelapa sawit.
- Manajemen menyatakan tidak ada dampak negatif material terhadap operasional, keuangan, atau kelangsungan usaha, dengan tambahan pembiayaan memperkuat likuiditas sektor hilir sawit.
Rincian fasilitas dan tujuan penggunaan
Keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia yang dikutip Kontan pada Kamis, 11 Juni 2026, menunjukkan PT Citra Borneo Utama Tbk menandatangani perjanjian fasilitas kredit dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk pada 10 Juni 2026. Nilai fasilitas yang diberikan mencapai Rp 8,99 triliun dengan tenor 24 bulan sejak tanggal penandatanganan.Dana dari fasilitas kredit tersebut akan digunakan untuk keperluan modal kerja dan atau operasional perusahaan. Citra Borneo Utama bergerak di bidang industri pemurnian, pemisahan atau fraksinasi, serta perdagangan produk kelapa sawit.
Dampak terhadap operasional dan sektor sawit
Corporate Secretary Citra Borneo Utama, Alex Dwi Adha, menyatakan pelaksanaan perjanjian fasilitas kredit itu tidak memiliki dampak negatif material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan.Tambahan pembiayaan dari perbankan ini memberi ruang bagi perusahaan untuk menjaga kebutuhan likuiditas operasional di sektor pengolahan kelapa sawit. Bagi industri, fasilitas berskala besar seperti ini mencerminkan berlanjutnya dukungan pembiayaan bank terhadap perusahaan hilir sawit yang membutuhkan modal kerja signifikan.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang solidnya fundamental perbankan Indonesia hingga April 2026, kami menyoroti pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang masih hampir dua digit, dengan likuiditas serta kualitas aset yang relatif terjaga. Kami juga mencatat bahwa ruang intermediasi ini memberi bank kapasitas untuk tetap menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor produktif meski dinamika ekonomi masih menekan. Konteks tersebut membantu membaca mengapa fasilitas kredit berskala besar dari perbankan masih memungkinkan bagi emiten, termasuk untuk kebutuhan modal kerja operasional.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto