Saham bank besar Indonesia bergerak variatif, sekuritas pertahankan rekomendasi overweight

Saham bank besar Indonesia bergerak variatif, sekuritas pertahankan rekomendasi overweight
Saham bank besar bervariasi

Pergerakan saham bank-bank berkapitalisasi besar di Indonesia ditutup beragam pada perdagangan Jumat, dengan penguatan mingguan masih terlihat pada sebagian emiten utama. Prospek sektor perbankan pada semester II-2026 tetap menjadi perhatian investor karena ditopang ekspektasi kinerja kuartal II yang solid, valuasi yang dinilai murah, dan stabilisasi rupiah.

Sorotan

  • Saham BBCA turun 0,40% ke Rp 6.175, BBNI stagnan di Rp 3.420, BBRI naik 0,36% ke Rp 2.790, dan BMRI naik 0,99% ke Rp 4.080 pada penutupan terakhir.
  • RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight sektor bank untuk pekan depan dengan target harga Rp 9.700 (BBCA), Rp 7.600 (BMRI), Rp 5.900 (BBRI), dan Rp 6.300 (BBNI), didukung ekspektasi kinerja dan stabilitas rupiah.
  • Faktor utama semester II-2026 adalah rilis kinerja Q2, arah suku bunga BI dan The Fed, likuiditas, serta Mirae Asset rekomendasikan accumulative buy untuk BBCA, BBNI, BBRI, dan BMRI.

Pergerakan saham dan rekomendasi pekan depan

KONTAN Indonesia melaporkan, mengacu pada data perdagangan Bursa Efek Indonesia, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup turun 0,40% ke Rp 6.175 per saham, meski masih naik 2,07% dalam sepekan. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) ditutup stagnan di Rp 3.420 per saham dan masih mencatat kenaikan mingguan 5,23%, sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 0,36% ke Rp 2.790 per saham atau menguat 2,95% dalam sepekan. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga menguat 0,99% ke Rp 4.080 per saham dengan kenaikan mingguan 1,75%.

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan pergerakan saham perbankan saat ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, sentimen membaik setelah saham teknologi di U.S. kembali menguat sehingga meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang. Dari domestik, ekspektasi kinerja keuangan kuartal II-2026 yang masih solid, valuasi saham bank besar yang dinilai murah, serta mulai stabilnya nilai tukar rupiah menjadi penopang sektor perbankan.

Menurut Andrey, arus dana asing masih selektif dan belum masuk secara agresif ke sektor perbankan karena investor menunggu kepastian arah suku bunga, kondisi likuiditas perbankan, serta perkembangan isu MSCI. Untuk pekan depan, RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor perbankan dengan pilihan utama BMRI, BBRI, BRIS, dan BBTN, sementara BBCA tetap direkomendasikan sebagai pilihan defensif karena kualitas aset dan likuiditasnya yang kuat. Target harga yang diberikan masing-masing adalah Rp 9.700 untuk BBCA, Rp 7.600 untuk BMRI, Rp 5.900 untuk BBRI, Rp 6.300 untuk BBNI, Rp 2.460 untuk BRIS, Rp 1.600 untuk BBTN, dan Rp 2.000 untuk BNGA.

Faktor penentu kinerja perbankan semester II

Andrey menilai sentimen utama yang perlu dicermati investor pada semester II-2026 meliputi rilis kinerja kuartal II, perkembangan likuiditas perbankan, arah kebijakan Bank Indonesia, pergerakan rupiah, arus dana asing, serta kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi pertumbuhan kredit. Ia menambahkan valuasi sektor yang masih berada di bawah rata-rata historis memberi ruang bagi potensi re-rating jika sentimen pasar terus membaik.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai kinerja industri perbankan hingga Mei 2026 sudah memberi gambaran yang cukup representatif terhadap performa semester I, meski hasil akhir masih dipengaruhi realisasi Juni. Ia mengatakan pertumbuhan kredit masih berlangsung, tetapi lebih selektif seiring tingginya suku bunga riil, likuiditas yang relatif ketat, serta permintaan kredit yang belum sepenuhnya pulih.

Dalam jangka pendek, Nafan melihat bank swasta berpotensi mencatat pertumbuhan lebih baik dibandingkan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara karena dinilai lebih fleksibel dalam mengelola pricing kredit, menghimpun dana murah atau CASA, dan fokus pada segmen bermargin lebih tinggi. Namun, kesenjangan itu dapat menyempit apabila kondisi likuiditas membaik, biaya dana turun, serta Bank Indonesia kembali melanjutkan siklus pelonggaran suku bunga.

Ia menilai peluang pertumbuhan kredit bank swasta masih terbuka, terutama pada sektor konsumsi, hilirisasi, infrastruktur, pusat data, manufaktur, kesehatan, hingga pembiayaan rantai pasok. Transformasi digital juga dinilai dapat meningkatkan efisiensi operasional sehingga profitabilitas bank tetap terjaga. Untuk semester II-2026, Nafan menyebut arah suku bunga Bank Indonesia dan The Fed, stabilitas rupiah, kualitas aset, pertumbuhan dana pihak ketiga, kondisi likuiditas, percepatan belanja pemerintah, aktivitas investasi swasta, dan perkembangan ekonomi global sebagai penentu utama kinerja industri. Ia merekomendasikan accumulative buy untuk BBCA dengan target harga Rp 7.900, BBNI Rp 4.220, BBRI Rp 3.450, dan BMRI Rp 5.600.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang stabilnya rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan pada Mei 2026, kami menyoroti NPL gross industri yang bertahan di 2,17% dan NPL net di 0,84% menurut OJK, meski beberapa bank masih mencatat NPL tinggi. Kami juga membahas langkah-langkah bank dalam menjaga kualitas aset melalui pengetatan manajemen risiko, penataan portofolio kredit, serta penguatan pendanaan murah (CASA) dan fokus pada segmen berisiko lebih rendah—faktor yang tetap relevan saat investor menilai prospek saham perbankan ke semester II-2026.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.