Fast Food Indonesia pangkas rugi 2025, tutup 25 gerai KFC

Fast Food Indonesia pangkas rugi 2025, tutup 25 gerai KFC
KFC tutup 25 gerai

PT Fast Food Indonesia Tbk masih membukukan rugi bersih Rp369 miliar sepanjang 2025 di tengah upaya efisiensi operasional dan penyesuaian jaringan gerai. Kerugian itu menyusut sekitar 54 persen dibandingkan 2024, namun penurunan jumlah gerai dan karyawan menunjukkan tekanan yang masih berlanjut pada bisnis perseroan.

Sorotan

  • PT Fast Food Indonesia mencatat pendapatan 2025 sebesar Rp4,88 triliun, dengan segmen makanan dan minuman berkontribusi 99,8 persen.
  • Jumlah gerai KFC turun dari 715 menjadi 690 dan jumlah karyawan berkurang dari 13.106 menjadi 11.664 sepanjang 2025 sebagai bagian efisiensi.
  • Total aset FAST meningkat dari Rp3,52 triliun pada 2024 menjadi Rp4,94 triliun meski ada penutupan gerai dan pengurangan SDM.

Kinerja 2025 dan langkah efisiensi

Seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, emiten pengelola KFC dengan kode saham FAST mencatat pendapatan Rp4,88 triliun pada 2025. Segmen makanan dan minuman tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi Rp4,87 triliun, atau sekitar 99,8 persen dari total pendapatan.

Perseroan juga mencatat komisi atas penjualan konsinyasi terkait CD dan musik digital sebesar Rp16,9 miliar, turun dari Rp19,6 miliar pada 2024. Di sisi lain, pendapatan dari jasa layanan antar naik 18 persen menjadi Rp2,25 miliar.

Meskipun pendapatan relatif tidak berubah, FAST berhasil menekan beban pokok pendapatan 1,8 persen menjadi Rp1,99 triliun. Kondisi itu mendorong laba kotor naik tipis 1,6 persen menjadi Rp2,89 triliun, sementara beban penjualan dan distribusi serta beban umum dan administrasi masing-masing turun 4 persen seiring program efisiensi operasional.

Dampak pada jaringan gerai dan tenaga kerja

Penghematan biaya berjalan bersamaan dengan penyusutan jumlah gerai KFC yang dioperasikan perseroan. Sepanjang 2025, jumlah gerai turun dari 715 menjadi 690 gerai, mencerminkan penutupan puluhan lokasi dalam upaya penyesuaian bisnis.

Jumlah pekerja di grup perseroan juga menurun hingga akhir tahun. Per 31 Desember 2025, FAST memiliki 11.664 karyawan, turun dari 13.106 karyawan pada akhir 2024.

Di tengah langkah pengetatan biaya tersebut, total aset perseroan naik menjadi Rp4,94 triliun dari Rp3,52 triliun pada 2024. Kenaikan aset ini menunjukkan perusahaan masih menjaga skala operasi, meski industri restoran layanan cepat menghadapi tekanan konsumsi dan kebutuhan efisiensi yang tinggi.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamina menjadi sorotan utama dalam laporan kami sebelumnya, termasuk lonjakan Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina DEX yang berlaku mulai 18 April 2026. Kami juga mengulas dorongan DPR agar pemerintah menjaga stabilitas harga pangan dan kebutuhan pokok serta memperkuat pengawasan distribusi, supaya kenaikan biaya energi tidak merembet ke konsumsi rumah tangga.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.