Pertamina naikkan harga BBM nonsubsidi, ruang penyesuaian lanjutan terbuka

Pertamina naikkan harga BBM nonsubsidi, ruang penyesuaian lanjutan terbuka
Harga BBM nonsubsidi naik

Penyesuaian harga BBM nonsubsidi berlaku di Indonesia per 21 April 2026 ketika pemerintah tetap menahan harga bahan bakar subsidi di tengah volatilitas minyak global. Kenaikan saat ini mencakup Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sementara pemerintah menyatakan perubahan berikutnya masih bergantung pada arah harga minyak dunia.

Sorotan

  • Pertamina menaikkan harga Pertamax Turbo menjadi Rp19.400 per liter (naik Rp6.300), Dexlite Rp23.600 (naik Rp9.400), dan Pertamina Dex Rp23.900 (naik Rp9.400) mulai 21 April 2026.
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan harga BBM nonsubsidi akan terus mengikuti mekanisme pasar dan bergantung pada fluktuasi harga minyak dunia.
  • Harga BBM subsidi seperti Solar, Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Green tetap, sehingga hanya segmen nonsubsidi yang menanggung dampak perubahan biaya energi global.

Penyesuaian harga dan mekanisme pasar

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan penyesuaian tahap pertama untuk BBM nonsubsidi sudah berjalan dan peluang tahap berikutnya masih terbuka. Menurut dia, kelanjutan perubahan harga akan mengikuti pergerakan minyak dunia, sehingga kenaikan lanjutan dapat terjadi bila harga global meningkat, sementara ruang kenaikan tertutup jika harga justru turun.

Bahlil menegaskan harga BBM subsidi tetap dijaga pemerintah, sedangkan BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar. Dalam keterangannya, ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak beralih ke BBM subsidi hanya karena harga BBM nonsubsidi naik, karena skema subsidi ditujukan bagi kelompok berpenghasilan rendah.

Per 21 April 2026, harga Solar subsidi tetap Rp6.800 per liter, Pertalite tetap Rp10.000 per liter, Pertamax tetap Rp12.300 per liter, dan Pertamax Green tetap Rp13.150 per liter. Untuk produk yang naik, Pertamax Turbo menjadi Rp19.400 per liter, naik Rp6.300, Dexlite menjadi Rp23.600 per liter, naik Rp9.400, dan Pertamina Dex menjadi Rp23.900 per liter, naik Rp9.400.

Dampak bagi konsumen dan pasar energi

Kebijakan ini mempertahankan pemisahan yang tegas antara bahan bakar bersubsidi dan nonsubsidi di pasar domestik. Dengan harga subsidi yang tetap, pemerintah berupaya menjaga daya beli kelompok sasaran, sementara segmen nonsubsidi menanggung dampak langsung dari perubahan biaya energi global.

Bagi pasar energi, pernyataan pemerintah menandakan harga produk nonsubsidi masih sensitif terhadap fluktuasi minyak internasional dalam waktu dekat. Kondisi itu membuat konsumen kendaraan yang menggunakan BBM beroktan tinggi dan solar nonsubsidi menghadapi risiko kenaikan biaya operasional apabila tren harga minyak dunia berlanjut naik.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang pengetatan pengawasan BBM subsidi setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi, kami mengulas langkah Kementerian ESDM untuk mencegah konsumen yang tidak berhak beralih ke Pertalite dan Biosolar. Artikel tersebut juga menyoroti kebijakan pembatasan pembelian BBM subsidi hingga 50 liter per hari per kendaraan (tanpa pembatasan untuk motor), sebagai upaya menjaga kuota subsidi tetap tepat sasaran di tengah perubahan harga pasar.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.