Harga BBM nonsubsidi Pertamina naik, konsumen perkotaan hadapi tekanan biaya harian

Harga BBM nonsubsidi Pertamina naik, konsumen perkotaan hadapi tekanan biaya harian
BBM naik, biaya harian tertekan

Kenaikan harga BBM nonsubsidi mempersempit ruang pilihan pengguna kendaraan di kota-kota besar di tengah beban pengeluaran harian yang sudah ketat. Lonjakan harga hingga Rp 23.900 per liter memperlebar selisih antarproduk dan mendorong sebagian konsumen mempertimbangkan perpindahan ke bahan bakar yang lebih murah.

Sorotan

  • Pertamina menaikkan harga BBM nonsubsidi per 1 Juli 2024, seperti Pertamax Turbo menjadi Rp 19.400 dan Dexlite menjadi Rp 23.600 per liter.
  • Selisih harga antarjenis BBM makin lebar, mendorong konsumen urban mempertimbangkan beralih ke produk BBM dengan spesifikasi lebih rendah untuk menghemat biaya.
  • Konsumen perkotaan seperti pengemudi ojek online mengalami lonjakan biaya harian dari sekitar Rp 80.000 menjadi Rp 90.000-Rp 100.000, berpotensi mengubah pola kerja dan konsumsi.

Penyesuaian harga dan pilihan konsumen

Seperti dilaporkan Kompas.com, penyesuaian harga oleh PT Pertamina (Persero) membuat sejumlah produk BBM nonsubsidi mengalami kenaikan signifikan. Pertamax Turbo kini dibanderol Rp 19.400 per liter, naik Rp 6.300 dari sebelumnya Rp 13.100 per liter.

Kenaikan yang lebih tajam terjadi pada Dexlite yang kini mencapai Rp 23.600 per liter, atau melonjak Rp 9.400 dari sebelumnya Rp 14.200 per liter. Pertamina Dex juga naik Rp 9.400 menjadi Rp 23.900 per liter dari sebelumnya Rp 14.500 per liter, sementara Pertamax tetap di Rp 12.300 per liter dan Pertamax Green 95 bertahan di Rp 12.900 per liter.

Perbedaan harga yang makin lebar antarjenis BBM ini mulai membentuk dilema baru bagi konsumen, khususnya pengguna yang selama ini memilih bahan bakar dengan spesifikasi lebih tinggi. Di tengah kenaikan itu, keputusan untuk tetap memakai produk premium atau beralih ke kelas yang lebih rendah menjadi pertimbangan utama dalam pengeluaran transportasi harian.

Dampak pada biaya mobilitas perkotaan

Kenaikan harga tersebut langsung dirasakan pengguna kendaraan. Rizki, 25 tahun, seorang pengendara di Jakarta Pusat, mengatakan ia terkejut karena biaya bahan bakarnya berpotensi naik dari sekitar Rp 80.000 per hari menjadi Rp 90.000 hingga mendekati Rp 100.000 per hari.

Rizki, yang juga bekerja sebagai pengemudi ojek online, mengatakan ia berencana menambah jam kerja untuk menutup kenaikan biaya operasional tersebut. Kondisi ini menunjukkan kenaikan BBM nonsubsidi tidak hanya menekan belanja rumah tangga, tetapi juga berisiko memengaruhi pola kerja dan keputusan konsumsi pekerja sektor transportasi perkotaan.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang penyesuaian harga BBM nonsubsidi Pertamina, kami membahas potensi pergeseran konsumsi ke BBM yang lebih murah setelah kenaikan tajam pada Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Kami juga menyoroti risiko lonjakan permintaan pada produk yang lebih terjangkau serta perlunya mitigasi pasokan di SPBU, di tengah harga BBM subsidi yang tetap stabil sehingga memperlebar insentif perpindahan konsumen.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.