Konflik Timur Tengah menekan ekonomi Indonesia lewat energi, rupiah, dan inflasi
Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali menjadi faktor risiko bagi perekonomian Indonesia karena mendorong kenaikan harga minyak dan volatilitas pasar keuangan global. Meski ada indikasi de-eskalasi, kondisi geopolitik masih rapuh sehingga tekanan terhadap neraca eksternal, kurs rupiah, fiskal, dan inflasi tetap perlu diwaspadai.
Sorotan
- Kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah memperburuk neraca perdagangan energi Indonesia dan berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan.
- Permintaan dolar U.S. untuk impor energi membuat rupiah berpotensi melemah ke kisaran USD17.100, memperkecil ruang stabilisasi pasar keuangan domestik.
- Ruang intervensi terbatas Bank Indonesia dan lonjakan harga energi meningkatkan risiko penyesuaian suku bunga serta beban fiskal dan inflasi domestik.
Jalur transmisi tekanan ke ekonomi domestik
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, dampak konflik di Timur Tengah terhadap Indonesia terutama mengalir melalui empat jalur utama, yaitu neraca eksternal, nilai tukar, fiskal, dan inflasi. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak menghadapi tekanan ketika harga energi naik, yang pada gilirannya memperburuk neraca perdagangan energi dan berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan atau current account deficit.Direktur PT Insight Investments Management, Camar Remoa, dalam keterangan tertulis pada Jumat, 24 April 2026, mengatakan kenaikan harga komoditas lain seperti batu bara dan CPO memang memberi penyeimbang. Namun, menurut dia, dominasi kenaikan harga minyak membuat dampak bersihnya tetap negatif bagi perekonomian Indonesia.
Risiko bagi rupiah dan stabilitas harga
Tekanan juga muncul pada nilai tukar rupiah karena kebutuhan dolar U.S. untuk impor energi meningkat di tengah sentimen global yang mendorong investor melakukan flight to safety. Kondisi ini dinilai dapat memperlemah rupiah dan mempersempit ruang stabilisasi di pasar keuangan domestik.Camar mengatakan rupiah berpotensi melemah ke kisaran USD17.100 seiring meningkatnya permintaan valas untuk impor energi. Ia menambahkan ruang intervensi Bank Indonesia melalui cadangan devisa yang terbatas dapat memunculkan kebutuhan penyesuaian suku bunga ke depan untuk menjaga stabilitas rupiah, sementara tekanan harga energi juga berisiko menambah beban fiskal dan inflasi domestik.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang rencana pembentukan BLU khusus untuk impor minyak mentah hingga 150 juta barel, kami membahas langkah pemerintah menyiapkan skema kelembagaan baru agar pengadaan dan pembiayaan impor lebih fleksibel serta risiko tidak seluruhnya ditanggung PT Pertamina. Ulasan tersebut juga menyoroti pembahasan regulasi lintas kementerian sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi dan menata tata kelola impor minyak di tengah kebutuhan pasokan domestik.
- Forex
- Crypto