Pelonggaran likuiditas dan membaiknya kualitas aset mendorong biaya kredit sejumlah bank besar di Indonesia menurun pada kuartal I-2026. Tren ini terjadi ketika Loan at Risk terus turun dan kebutuhan pencadangan bank menjadi lebih rendah, meski beberapa emiten perbankan masih mencatat kenaikan cost of credit.
Sorotan
- PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk membukukan penurunan cost of credit masing-masing menjadi 0,48%, 3,2%, dan 0,9% pada kuartal I-2026.
- Penurunan cost of credit didorong injeksi likuiditas pemerintah total Rp 201 triliun yang diproyeksikan bertambah Rp 100 triliun hingga September 2026 serta BI Rate turun 125 basis poin tahun lalu.
- Likuiditas terjaga, BI Rate stabil di 4,75%, dan rasio kecukupan modal bank besar di atas 25% menopang prospek penurunan biaya kredit yang cenderung stabil sepanjang 2026.
Likuiditas dan kualitas aset menopang tren
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, PT Bank Mandiri Tbk mencatat cost of credit turun dari 0,71% pada kuartal I-2025 menjadi 0,48% pada kuartal I-2026. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk juga membukukan penurunan dari 3,5% menjadi 3,2%, sedangkan PT Bank Tabungan Negara Tbk turun dari 1,1% menjadi 0,9%.Di sisi lain, tidak semua bank mengalami perbaikan serupa. PT Bank Central Asia Tbk mencatat cost of credit naik dari 0,5% menjadi 0,6%, sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk meningkat dari 0,9% menjadi 1,1%.
Ekonom Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan penurunan cost of credit didorong injeksi likuiditas pemerintah sekitar Rp 201 triliun, yang disebut akan bertambah Rp 100 triliun hingga September 2026. Penurunan BI Rate sebesar 125 basis poin sepanjang tahun lalu juga ikut menopang kondisi ini, bersama turunnya Loan at Risk yang mencakup kredit bermasalah, kredit restrukturisasi, dan kredit dalam pengawasan.
Menurut dia, penurunan Loan at Risk menunjukkan portofolio kredit makin sehat sehingga kebutuhan pencadangan menjadi lebih rendah. Ia menambahkan rasio NPL gross industri tetap stabil di kisaran 2,1% hingga 2,2%, dengan coverage ratio sejumlah bank besar tetap tinggi, bahkan di atas 200%.
Prospek industri perbankan sepanjang 2026
Penurunan biaya kredit juga didukung strategi bank yang lebih selektif dalam menyalurkan kredit, langkah pemulihan dan write-off atas portofolio lama, serta pertumbuhan ekonomi domestik yang disebut berada di kisaran 5,6%. Meski begitu, Myrdal memperkirakan tren penurunan cost of credit tidak berlangsung drastis dan lebih cenderung stabil pada level rendah yang sehat sepanjang 2026.Optimisme itu ditopang likuiditas yang tetap terjaga, BI Rate yang stabil di 4,75%, serta rasio kecukupan modal bank besar yang berada di atas 25%. Namun, ia mengingatkan gejolak global, ketidakpastian arah suku bunga, dan pelemahan rupiah masih berpotensi menekan kualitas kredit, terutama pada segmen UMKM dan konsumsi.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance, M Rizal Taufikurahman, juga menilai penurunan cost of credit mencerminkan perbaikan kualitas aset yang sudah berlangsung sejak periode pascapandemi. Penilaian itu memperkuat pandangan bahwa efisiensi biaya risiko kredit masih menjadi salah satu penopang kinerja bank besar di tengah tantangan eksternal.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang strategi mitigasi volatilitas likuiditas dan kualitas aset BNI pada 2026, kami mengulas langkah bank menjaga ketahanan melalui LDR di bawah 90%, penyaluran kredit yang lebih selektif, serta penguatan pencadangan. Kami juga menyoroti hasil stress test yang memproyeksikan potensi kenaikan NPL dan biaya kredit dalam skenario ekstrem, meski permodalan dan likuiditas dinilai tetap berada di atas ketentuan minimum regulator.
- Forex
- Crypto