Perbankan Indonesia perketat penyaluran kredit saat pelemahan rupiah menekan risiko pasar
Industri perbankan nasional masih menjaga ketahanan modal ketika tekanan ekonomi global, volatilitas pasar keuangan, dan pelemahan rupiah meningkat pada Maret 2026. Penurunan rasio kecukupan modal terjadi secara bertahap, tetapi level permodalan dinilai tetap cukup kuat untuk menopang ekspansi bisnis dan menyerap risiko.
Sorotan
- Capital adequacy ratio industri perbankan Indonesia turun ke 25,09% pada Maret 2026 dari 25,87% pada Desember 2025 di tengah volatilitas pasar dan pelemahan rupiah.
- Bank memperketat penyaluran kredit terutama ke sektor sensitif kurs, menahan potensi pertumbuhan kredit di beberapa sektor selama kuartal II-2026.
- BRI mencatatkan CAR 22,9% dan pertumbuhan kredit 13,68% yoy ke Rp1.562 triliun, sementara BCA membukukan CAR 27% dan pertumbuhan kredit kuartalan 5,6% ke Rp994 triliun pada kuartal I-2026.
Tren permodalan dan sikap bank pada kuartal II-2026
KONTAN melaporkan, data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan rata-rata capital adequacy ratio industri perbankan pada Maret 2026 berada di 25,09%, turun dari 25,83% pada Februari 2026 dan 25,87% pada Desember 2025. Penurunan itu muncul di tengah volatilitas pasar global, tekanan nilai tukar rupiah, dan kenaikan harga minyak dunia yang mulai memengaruhi aktivitas usaha.
Analis Global Markets Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan posisi modal perbankan masih cukup aman untuk menghadapi tekanan eksternal. Namun, bank mulai lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, terutama ke sektor yang sensitif terhadap gejolak kurs dan memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor maupun aktivitas ekspor.
Menurutnya, kondisi itu berpotensi menahan pertumbuhan kredit pada sektor tertentu sepanjang kuartal II-2026. Meski begitu, kekuatan modal dan hasil stress test yang relatif baik masih menjadi penopang utama bagi industri untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah ketidakpastian global.
Dukungan bank besar dan implikasi bagi industri
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk mencatatkan CAR 22,9% hingga kuartal I-2026. Direktur Keuangan dan Strategi BRI Achmad Royadi mengatakan posisi modal yang kuat memberi ruang bagi perseroan untuk tetap agresif menyalurkan kredit, sementara hasil stress test membuat BRI optimistis kinerjanya masih tumbuh positif pada kuartal II-2026.Hingga akhir Maret 2026, total kredit dan pembiayaan BRI mencapai Rp1.562 triliun, tumbuh 13,68% secara tahunan. Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk membukukan CAR 27% pada kuartal I-2026, dengan kredit mencapai Rp994 triliun, tumbuh 5,6% secara kuartalan, dan laba bersih naik 3,8% menjadi Rp14,7 triliun.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan perseroan terus menjaga kualitas modal dan likuiditas di tengah tingginya ketidakpastian global. Dengan bantalan modal yang tetap tebal, perbankan nasional masih memiliki ruang untuk menyeimbangkan ekspansi kredit dan pengelolaan risiko hingga sisa tahun berjalan.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang ketahanan perbankan menghadapi risiko lonjakan harga energi, kami mengulas penilaian OJK bahwa gejolak global dapat menekan rupiah dan meningkatkan risiko pasar serta kredit. Meski begitu, OJK menegaskan permodalan dan kualitas aset bank masih berada di level aman, dengan CAR 25,09% dan NPL gross 2,14% per Maret 2026, serta stress test rutin untuk mengukur daya tahan bank terhadap berbagai skenario.
Berita Banks Terbaru
- Forex
- Crypto