SBY dorong perbankan dukung pembiayaan pembangunan berkelanjutan di Indonesia

SBY dorong perbankan dukung pembiayaan pembangunan berkelanjutan di Indonesia
Perbankan kunci pembangunan hijau

Di tengah gejolak ekonomi yang disebut menahan pertumbuhan kredit investasi, sektor perbankan dinilai memegang peran penting dalam menopang agenda pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Susilo Bambang Yudhoyono menekankan bahwa pembiayaan yang berkelanjutan menjadi prasyarat agar penanganan krisis iklim dan lingkungan dapat berjalan efektif.

Sorotan

  • Susilo Bambang Yudhoyono menyerukan pada konferensi Perbanas 2 Juni 2026 agar perbankan mendukung pembiayaan sektor produktif terkait pembangunan berkelanjutan.
  • SBY menyoroti besarnya kebutuhan investasi pembangunan berkelanjutan di tengah gejolak ekonomi yang menghambat pertumbuhan kredit investasi di Indonesia.
  • SBY menekankan sektor keuangan dan pasar modal harus proaktif dalam mendorong investasi jangka panjang serta kolaborasi erat pemerintah dan swasta demi agenda lingkungan.

Seruan pembiayaan hijau di konferensi Perbanas

KONTAN Indonesia melaporkan, Presiden Republik Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan dalam konferensi Perbanas di Jakarta pada Selasa (2/6/2026) bahwa pembangunan berkelanjutan tidak akan berhasil tanpa pembiayaan yang berkelanjutan.

Ia mengatakan kebutuhan investasi untuk pembangunan berkelanjutan sangat besar, tetapi pada saat yang sama gejolak ekonomi sedang terjadi dan menghambat pertumbuhan kredit investasi. Dalam pandangannya, perbankan perlu mendukung pembiayaan ke sektor-sektor produktif yang sejalan dengan penanganan krisis iklim dan lingkungan.

SBY juga menyebut pasar modal perlu mendorong investasi jangka panjang, sementara regulator keuangan harus menjaga stabilitas sekaligus mendorong inovasi di sektor keuangan.

Dampak bagi sektor keuangan dan kolaborasi nasional

Menurut SBY, peran sektor keuangan tidak berhenti pada fungsi intermediasi semata, tetapi juga sebagai pendorong transformasi berkelanjutan. Ia menegaskan sektor keuangan tidak boleh menjadi pengamat pasif ketika kebutuhan pembiayaan untuk agenda iklim dan pembangunan terus meningkat.

Ia menambahkan keberhasilan pembangunan berkelanjutan akan sangat dipengaruhi kolaborasi yang baik antara pemerintah dan swasta. Bagi industri perbankan Indonesia, pernyataan ini memperkuat tekanan agar penyaluran pembiayaan semakin diarahkan ke sektor produktif yang mendukung pertumbuhan jangka panjang dan agenda lingkungan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja industri BPR dan BPRS per Maret 2026, kami menyoroti pertumbuhan aset, kredit, dan dana pihak ketiga di tengah persaingan jasa keuangan yang kian ketat. Kami juga mencatat dorongan OJK agar penguatan struktur industri dilakukan lewat konsolidasi dan pemenuhan modal inti minimum, serta peran BPR/BPRS yang menyalurkan sekitar separuh pembiayaannya ke UMKM. Konteks ini penting saat pembahasan pembiayaan hijau menguat, karena kapasitas permodalan, tata kelola, dan fokus pembiayaan produktif akan menentukan seberapa cepat sektor perbankan bisa ikut membiayai agenda iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.