Kredit digital perbankan melesat di atas industri, paylater jadi pendorong utama
Pertumbuhan kredit digital di perbankan melaju jauh lebih cepat daripada kredit industri hingga April 2026, mencerminkan pergeseran permintaan pembiayaan ke produk yang lebih mudah diakses. Di saat daya beli rumah tangga masih tertekan, tren ini memperlihatkan peran paylater dan pinjaman bank digital yang makin besar bagi nasabah ritel, terutama segmen menengah ke bawah.
Sorotan
- Kredit industri perbankan tumbuh 9,98% yoy hingga April 2026, didorong lonjakan baki debet BNPL perbankan sebesar 37,29% yoy.
- Krom Bank mencatat kenaikan kredit tertinggi 93,05% yoy ke Rp10,25 triliun, sementara Bank Neo Commerce turun 17,99% yoy menjadi Rp6,96 triliun.
- Pertumbuhan kredit digital melambat dalam jangka menengah seiring POJK 32/2025 memperketat penilaian kelayakan dan bank mulai selektif menyalurkan kredit.
Pertumbuhan bank digital dan pendorong utama
KONTAN Indonesia melaporkan Otoritas Jasa Keuangan, OJK, mencatat kredit industri perbankan tumbuh 9,98% secara tahunan hingga April 2026, setelah naik 9,49% yoy pada Maret 2026. Dalam periode yang sama, baki debet Buy Now Pay Later, BNPL, perbankan tumbuh 37,29% yoy, meningkat dari 24,2% yoy pada Maret 2026.
Sejumlah bank digital juga membukukan pertumbuhan kredit dua digit hingga April 2026. Krom Bank mencatat kenaikan tertinggi 93,05% yoy menjadi Rp10,25 triliun, diikuti Superbank 55,45% yoy menjadi Rp12,24 triliun dan Seabank 46,33% yoy menjadi Rp36,16 triliun. Bank Jago tumbuh 24,68% yoy menjadi Rp25,35 triliun, Allo Bank naik 24,6% yoy menjadi Rp8,72 triliun, dan Amar Bank bertambah 23,58% yoy menjadi Rp4,2 triliun.
Di sisi lain, Bank Neo Commerce mencatat penurunan kredit 17,99% yoy menjadi Rp6,96 triliun. BCA Digital turun 5,26% yoy menjadi Rp8,49 triliun, sementara Bank Raya turun 5,47% yoy menjadi Rp6,9 triliun, meski kredit digital Bank Raya sendiri masih tumbuh 33,1% yoy menjadi Rp3,14 triliun.
Presiden Direktur Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia mengatakan capaian kredit digital bank ditopang segmen produktif dan konsumtif. Pada segmen produktif, outstanding kredit didominasi fasilitas kredit harian untuk transaksi agen, pembiayaan pelaku bisnis ritel, perluasan layanan supply chain bagi segmen mikro, serta kredit channeling.
Pada segmen konsumtif, Bank Raya mengandalkan layanan digital payroll end-to-end yang menyasar ekosistem grup BRI serta produk paylater. Menurut Ida Bagus, ekspansi kredit digital menjadi fokus utama melalui pemanfaatan ekosistem grup, perluasan pasar baru, penambahan agen bank untuk kredit harian, dan kerja sama dengan mitra baru.
Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo juga menyatakan pertumbuhan kredit bank ditopang model bisnis yang berfokus pada segmen ritel digital dan ekosistem. Ia menyebut produk paylater menjadi mesin pertumbuhan kredit, didukung tren digitalisasi, meningkatnya aktivitas transaksi nasabah, dan integrasi layanan yang makin luas dalam ekosistem perusahaan.
Tekanan daya beli dan arah industri
Ekonom Center of Reform on Economics, CORE, Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai lonjakan kredit digital terjadi di tengah perlambatan ekonomi rumah tangga yang perlu dicermati. Ia menjelaskan lembaga keuangan saat ini agresif mencari pertumbuhan kredit ritel karena segmen korporasi dan bisnis besar relatif melambat, sementara kemajuan teknologi mengurangi hambatan administratif dan psikologis dalam akses kredit konsumsi.Menurut Yusuf, masyarakat umumnya memakai utang untuk mempertahankan tingkat konsumsi ketika pertumbuhan upah tidak sejalan dengan kenaikan biaya hidup. Karena itu, pertumbuhan kredit digital yang mudah diakses mengindikasikan rumah tangga mulai mengandalkan pendapatan masa depan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, dan dapat dibaca sebagai sinyal tekanan pada kelas menengah bawah.
Ia menambahkan perhatian tidak hanya tertuju pada laju pertumbuhan, tetapi juga pada kualitas dan penggunaan kredit. Kredit yang dipakai untuk kegiatan produktif atau modal usaha memiliki implikasi berbeda dibanding kredit yang didominasi kebutuhan konsumtif, sementara porsi konsumtif pada kredit digital masih cukup besar.
Dalam jangka pendek, Yusuf melihat tren ini masih berlanjut karena daya beli masyarakat tetap tertekan dan ekosistem kredit digital semakin luas serta mudah diakses. Namun laju pertumbuhannya berpotensi melambat seiring pengetatan standar penyaluran melalui POJK Nomor 32 Tahun 2025 yang mendorong proses penilaian kelayakan lebih ketat.
Pada saat yang sama, sebagian pelaku industri mulai lebih selektif menyalurkan kredit untuk menjaga kualitas aset di tengah ketidakpastian ekonomi. Dengan kondisi itu, arah industri berpotensi bergeser dari ekspansi agresif menuju pertumbuhan yang lebih terukur hingga akhir tahun.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang koordinasi buyback saham bank BUMN/Himbara, kami mengulas pertemuan pimpinan DPR, pejabat pemerintah, dan perwakilan lembaga keuangan negara pada 9 Juni 2026 di Senayan. Pembahasannya menekankan upaya menjaga kepercayaan pasar serta keyakinan bahwa fundamental perbankan—khususnya bank-bank Himbara—dinilai tetap kuat, meski belum ada rincian langkah lanjutan yang diumumkan.
Berita OJK Terbaru
- Forex
- Crypto