SPBU Cengkareng catat lonjakan antrean Pertalite setelah harga Pertamax naik

SPBU Cengkareng catat lonjakan antrean Pertalite setelah harga Pertamax naik
Antrean Pertalite melonjak

Kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026 mendorong antrean panjang di jalur pengisian Pertalite di dua SPBU Pertamina kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. Pergeseran permintaan itu memperlihatkan tekanan biaya yang langsung dirasakan pengendara roda dua, terutama pengguna harian yang bergantung pada BBM bersubsidi.

Sorotan

  • Harga Pertamax RON 92 naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter mulai hari ini, menyebabkan antrean Pertalite di SPBU Cengkareng membeludak hingga sekitar 20 motor.
  • Pengendara, termasuk kurir dan ojek online, rela menunggu sekitar 13 menit di bawah terik demi memperoleh BBM bersubsidi, sementara jalur Pertamax dan Pertamax Turbo tetap lengang.
  • Selisih harga BBM menyebabkan pekerja perjalanan memilih Pertalite meski antre panjang, namun sebagian terpaksa membeli Pertamax dalam kondisi darurat sekitar Rp 20.000.

Perubahan pola pengisian di SPBU Cengkareng

Seperti dilaporkan Kompas.com, antrean pengisian Pertalite di SPBU Jalan Jakarta Outer Ring Road, Cengkareng, mencapai sekitar 20 sepeda motor pada Rabu siang, sementara jalur Pertamax dan Pertamax Turbo jauh lebih lengang. Kenaikan harga Pertamax, RON 92, dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter berlaku mulai hari ini dan segera mengubah pola antrean di lokasi.

Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean Pertalite memanjang dari depan dispenser hingga mendekati gerbang masuk SPBU di sisi jalan raya. Pengendara dari berbagai kelompok, mulai dari ibu rumah tangga, kurir paket, pengemudi ojek online hingga pelajar, tetap menunggu di bawah terik matahari untuk mendapatkan BBM bersubsidi.

Di saat yang sama, area pengisian Pertamax untuk kendaraan roda dua hanya terisi sekitar tiga motor. Setiap pengendara disebut perlu menghabiskan sekitar 13 menit untuk mendapat giliran pengisian Pertalite oleh petugas.

Pemandangan serupa juga terlihat di SPBU Jalan Raya Duri Kosambi, Cengkareng. Belasan sepeda motor mengantre di dua sisi dispenser Pertalite, sedangkan area pengisian Pertamax khusus roda dua di tengah SPBU tampak sepi dan hanya sesekali didatangi pengendara.

Dampak biaya bagi pengendara harian

Sejumlah pemotor sempat mengantre di jalur Pertalite, namun kemudian berpindah ke dispenser Pertamax karena tidak ingin menunggu terlalu lama. Salah satunya Afrizal, 26 tahun, pengemudi ojek online, yang mengaku terpaksa membeli Pertamax karena sedang mengejar pengantaran paket dan khawatir bahan bakar motornya habis di jalan.

Ia mengatakan pembelian Pertamax itu hanya untuk kebutuhan darurat, sekitar Rp 20.000, agar motornya tetap bisa beroperasi. Untuk pengisian penuh, ia berencana kembali menggunakan Pertalite pada malam hari ketika antrean lebih sepi.

Kondisi ini menunjukkan kenaikan harga BBM non-subsidi langsung memengaruhi keputusan konsumsi pengendara harian di Jakarta Barat. Bagi pekerja berbasis perjalanan seperti kurir dan pengemudi ojek online, selisih harga mendorong peralihan ke BBM bersubsidi, meski harus menanggung waktu tunggu yang lebih panjang.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamina per 10 Juni 2026, kami membahas lonjakan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green menjadi Rp17.000 per liter setelah evaluasi berkala dan koordinasi dengan pemerintah. Kami juga mencatat bahwa harga BBM bersubsidi seperti Pertalite tetap Rp10.000 per liter, sehingga selisih harga yang melebar mendorong peralihan konsumsi dan memengaruhi biaya transportasi harian di berbagai SPBU.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.