Bank Indonesia naikkan imbal hasil SRBI, bank berpeluang tambah penempatan saat kredit melandai

Bank Indonesia naikkan imbal hasil SRBI, bank berpeluang tambah penempatan saat kredit melandai
SRBI naik, kredit lesu

Kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia membuka ruang bagi perbankan untuk mengoptimalkan likuiditas ketika permintaan kredit masih lemah pada 2026. Per Mei 2026, porsi kepemilikan bank di SRBI mencapai Rp 677,89 triliun atau 69,18% dari total outstanding, lebih tinggi dibandingkan 62,03% pada tahun lalu.

Sorotan

  • Bank Indonesia menaikkan suku bunga SRBI ke kisaran 7,1%–8,65%, naik dari awal tahun 4,78%–5,25%, untuk stabilisasi rupiah.
  • Per April 2026, pertumbuhan kredit BCA hanya 4,54% yoy dibandingkan surat berharga 17,54% yoy, menandakan peran besar instrumen surat berharga di likuiditas.
  • Kenaikan imbal hasil SRBI membuat instrumen ini menarik bagi bank saat pertumbuhan kredit melandai, namun penempatan tetap bergantung pada prospek penyaluran kredit dan kondisi likuiditas.

Perubahan imbal hasil dan strategi penempatan dana

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Bank Indonesia menaikkan struktur suku bunga SRBI di seluruh tenor sebagai bagian dari langkah stabilisasi nilai tukar rupiah. Saat ini SRBI dilelang dengan tawaran bunga 7,1% hingga 8,65%, naik dari kisaran 4,78% sampai 5,25% pada awal tahun ini.

Ekonom Bank Tabungan Negara, Myrdal Gunarto, menilai SRBI menjadi instrumen yang efektif untuk mengoptimalkan margin bank, terutama bagi bank yang memiliki basis dana murah kuat dan likuiditas longgar. Menurut dia, bank dengan likuiditas terbatas cenderung tidak agresif mengunci dana dalam jumlah besar di SRBI karena persaingan dana masih ketat di tengah tingginya biaya dana.

Myrdal melihat bank swasta dan bank asing menjadi kelompok yang lebih dominan menempatkan dana di SRBI. Kelompok ini dinilai lebih berhati-hati dalam penyaluran kredit karena mempertimbangkan risiko kualitas aset dan pelemahan daya beli, sehingga SRBI dipakai sebagai instrumen aman dengan imbal hasil tinggi untuk menjaga profitabilitas.

Untuk bank milik negara atau Himbara, ia menilai fokus utamanya tetap pada ekspansi kredit dan bukan menjadikan SRBI sebagai pengganti fungsi intermediasi. Namun, tambahan likuiditas dari penerapan aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam berpotensi membuat kelompok ini ikut memanfaatkan tingginya yield SRBI, meski suplai instrumen tersebut tetap relatif terbatas.

Myrdal juga menyebut penempatan bank di SRBI akan dipengaruhi injeksi Kebijakan Likuiditas Makroprudensial. Skema likuiditas murah bersyarat itu dirancang agar bank tetap menyalurkan kredit ke sektor prioritas, sehingga dapat menahan perbankan agar tidak hanya mengandalkan imbal hasil SRBI.

Dampak bagi intermediasi dan kinerja bank

Bank Central Asia menyatakan tetap mengelola likuiditas secara pruden dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dalam manajemen risiko. EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn, mengatakan fungsi utama perbankan tetap sebagai sarana intermediasi ekonomi, sehingga penyaluran kredit menjadi fokus utama.

Per April 2026, kredit BCA secara bank only mencapai Rp 965,01 triliun, sedangkan surat berharga yang dimiliki sebesar Rp 425,41 triliun. Pertumbuhan kredit tercatat 4,54% secara tahunan, lebih landai dibandingkan pertumbuhan surat berharga yang naik 17,54%, yang menunjukkan instrumen surat berharga tetap berperan dalam strategi pengelolaan likuiditas perseroan.

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengatakan penempatan dana di surat berharga negara bergantung pada kondisi pasar, terutama ketika risiko pelemahan permintaan kredit masih dicermati. Ia menyebut likuiditas bank masih baik, tetapi bank juga mengantisipasi potensi kenaikan beban bunga, sehingga fokus pemanfaatan likuiditas tetap diarahkan ke penyaluran kredit meski permintaan pasar masih rendah.

Per April 2026, kredit CIMB Niaga tumbuh 6,99% secara tahunan menjadi Rp 171,39 triliun, sementara kepemilikan surat berharganya turun 1,57% menjadi Rp 75,62 triliun. Di OK Bank, kredit naik 6,26% menjadi Rp 10,12 triliun dan surat berharga bertambah 16,69% menjadi Rp 1,85 triliun.

Sekretaris Perusahaan dan Direktur Kepatuhan OK Bank, Efdinal Alamsyah, menilai kenaikan imbal hasil SRBI membuat instrumen ini menarik sebagai penempatan dana jangka pendek yang aman dan likuid ketika pertumbuhan kredit masih moderat. Namun, ia menegaskan keputusan menambah atau mengurangi kepemilikan SRBI juga ditentukan oleh prospek permintaan kredit, biaya penghimpunan dana, kondisi likuiditas, dan strategi optimalisasi aset produktif.

Jika pertumbuhan kredit mulai menguat dan menawarkan imbal hasil yang lebih menarik, sebagian dana berpotensi dialihkan untuk mendukung ekspansi pembiayaan. Sebaliknya, selama likuiditas pasar masih longgar dan pertumbuhan kredit belum agresif, SRBI tetap menjadi instrumen yang menarik bagi bank untuk menjaga fleksibilitas likuiditas sekaligus menopang pendapatan.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang solidnya fundamental perbankan Indonesia hingga April 2026, kami menyoroti pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang masih kuat, serta likuiditas dan permodalan yang terjaga sehingga fungsi intermediasi tetap berjalan. Kami juga mencatat kualitas aset relatif terkendali—termasuk rasio NPL yang tetap rendah—meski ada sinyal tekanan pada segmen tertentu, sehingga bank cenderung lebih selektif menyalurkan kredit sambil mengandalkan pengelolaan likuiditas.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.