Ashutosh Sureka

Bank digital tahan bunga deposito di tengah kenaikan BI Rate

Bank digital tahan bunga deposito di tengah kenaikan BI Rate
Bank digital tahan bunga

Bank digital di Indonesia menahan suku bunga deposito saat BI Rate naik untuk menjaga margin profitabilitas dan mengantisipasi ketidakpastian pasar. Langkah ini menandai pergeseran strategi dari penawaran bunga tinggi ke pengelolaan likuiditas, biaya dana, dan risiko kredit yang lebih berhati-hati.

Sorotan

  • Krom Bank mempertahankan bunga deposito di kisaran 6,5%–8% dan Allo Bank di 5,5%, meski BI Rate naik, demi menjaga keseimbangan dana dan profitabilitas.
  • Krom Bank fokus memperkuat manajemen risiko, efisiensi biaya dana, serta penyaluran kredit hati-hati untuk menjaga net interest margin tetap stabil.
  • Allo Bank menilai likuiditas industri masih memadai, menunda kenaikan bunga deposito, dan mengoptimalkan fee based income untuk menjaga pertumbuhan dan profitabilitas.

Strategi bunga dan likuiditas bank digital

KONTAN Indonesia melaporkan Krom Bank dan Allo Bank memilih tidak menaikkan bunga deposito secara agresif meski suku bunga acuan Bank Indonesia naik. Kebijakan itu diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara daya saing penghimpunan dana dan keberlanjutan profitabilitas.

Krom Bank saat ini menawarkan bunga deposito di kisaran 6,5% hingga 8%, lebih rendah dari posisi hingga akhir tahun lalu yang berada di level 7% hingga 8,25%. Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan, mengatakan perseroan mempertahankan tingkat bunga yang berlaku sambil tetap aktif melakukan benchmarking terhadap kondisi pasar dan pergerakan industri.

Ia menambahkan bank akan memperdalam observasi atas dampak kenaikan BI Rate dan memperkuat manajemen risiko. Krom Bank juga berfokus menghimpun dana murah melalui ekosistem digital serta menjaga kehati-hatian dalam penyaluran kredit untuk menekan risiko kredit bermasalah.

Allo Bank mengambil pendekatan serupa dengan mempertahankan bunga deposito di level 5,5% sejak akhir tahun lalu. Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo, mengatakan bank belum melihat kebutuhan untuk menyesuaikan bunga deposito secara agresif dan masih mengevaluasi likuiditas internal, perilaku nasabah, persaingan penghimpunan dana, serta kebutuhan pertumbuhan kredit ke depan.

Menurutnya, bila ada penyesuaian bunga deposito, langkah itu akan dilakukan bertahap dan selektif berdasarkan tenor maupun segmen nasabah. Besaran dan waktunya bergantung pada perkembangan likuiditas industri serta kebutuhan pendanaan bank.

Tekanan margin dan dampak bagi industri

Penahanan bunga deposito mencerminkan upaya bank digital mengelola potensi penyusutan margin bunga bersih atau net interest margin, di tengah kenaikan biaya dana akibat BI Rate yang lebih tinggi. Krom Bank menyatakan fokus pada efisiensi biaya dana agar margin bunga tetap stabil dan suku bunga kredit tetap kompetitif.

Di sisi lain, Allo Bank menilai kondisi likuiditas industri saat ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu karena dana pihak ketiga secara umum masih mampu mengimbangi kebutuhan penyaluran kredit. Bank itu juga belum melihat tekanan likuiditas yang signifikan dalam jangka pendek, meski kompetisi dana di segmen perbankan digital tetap dicermati.

Untuk menjaga profitabilitas, Allo Bank menyebut pengelolaan tidak hanya bertumpu pada sisi funding. Bank itu terus mengoptimalkan struktur aset produktif, meningkatkan kualitas kredit, memperbaiki risk adjusted return, dan mendorong pertumbuhan fee based income dari transaksi digital.

Secara industri, langkah menahan bunga deposito menunjukkan bank digital kini lebih menekankan kualitas pendanaan dan keberlanjutan laba dibanding sekadar ekspansi dana lewat bunga tinggi. Pendekatan ini juga mengindikasikan sektor perbankan digital sedang menyesuaikan model pertumbuhan di tengah lingkungan suku bunga yang lebih ketat.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan BI Rate ke 5,50%, kami membahas keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 bps beserta penyesuaian suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility. Kami juga mengulas faktor pendorong kebijakan tersebut—termasuk tekanan eksternal dan pelemahan rupiah—serta bagaimana dinamika suku bunga ini memengaruhi pasar dan prospek sektor perbankan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.